Senin, 29 November 2010

kotak ajaib hitam putih

Ada si putihh dan si hitam yang hidup dalam sebuah desa yang sama. Dengan kebiasaan yang berbeda si hitam dan si putih selalu bermain besama. Pada suatu saat si hitam dan si putih menemukan sebuh kotak ajaib berwarna keemasan dengan tutup diatasnya. Awalnya si hitam yidak mengeahui tentang keajaiban kotak itu. Si putih mengajak si hitam untuk membuka kotak itu. Isinya tak terlihat dengan jelas karena saat itu penerangan tidak mampu menembus isi kotak keemasan itu. Lalu si hitam berkata,”andai saja ada lebih penerangan disini” dengan rasa penasaran yang amat sangat. Tak lama setelah itu datanglah sekelompok kunang-kunang yang menerangi keberadaan si hitam dan si putih. Lalu mereka menyadari keajaiban kotak tersebut.

Memang si putih dan si hitam hidup bersama dan berdampingan dalam lingkungan yang sama pula, namun merika tidak bisa bersama karena perbedaan mereka. Si putih dan si hitam tak mungkin bersatu karena tidak pernah dikenal warna abu-abu. Mereka hanya saling bertukar senyum satu dengan yang lain tanpa bisa mengharapkan yang lebih dari itu.

Suatu ketika si hitam sedang bosan dan jenuh. Ia tampak begitu sedih. Si putih yang tak suka melihat itu membuka kotak ajaibnya lalu meminta,”aku ingin membuat si hitam bahagia” ujarnya sambil menunggu ada keajaiban apa yang datang. Lalu tak lama setelah itu ia melihat sebuah gitar tergeletak dibalik pohon tempat si putih dan si hitam duduk bersama. Lalu si putih pun menyanyi dan menghibur si hitam sampai si hitampun tertawa lagi.

Perna si putih mengutarakan perasaannya kepada si hitam, namun si hitam menjawab,”entahlah aku adalah si hitam dan kau adalah si putih”. Pasti si putihpun mengerti dengan maksud apa yang dikatakan si hitam. Si putih hanya terdiam menatap si hitam sambil menahan air matanya.

Mereka tumbuh bersama. Terlintas dalam fikiran si hitam apa jadinya dia bila tak ada lagi si putih dalam hidupnya..namun ia sendiri tak bisa mengelakkan bahwa ia adalah tetap si hitam dan si putih adalah tetap si putih yang tidak mungkin bersama. Begitu juga si putih yang tak bisa berpaling kepada yang lain karena si hitam sudah begitu hadir dalam hidupnya.

Dalam kegalauan hati si hitam ia menangis sambil memegangi kotak ajaib keemasannya. Ia meminta seperti biasa,namun kali ini ia meminta agar si putih menjadi si hitam yang sama seperti dirinya. Perlahan ia membuka kotak itu dengan sejuta pengharapan. Tapi yang ia lihat didalam kotak itu adalah ruang hampa saja. Kotak itu kosong. Saat ia sadar si putih sudah berada didepannya sambil melihat kearahnya. Tetapi ia tetaplah menjadi si putih. Si hitam pun menangis sejadi-jadinya melihat permintaannya tidak menjadi kenyataan. Si hitam menangis sambil berkata,”entahlah putih…mungkin aku akan selamanya sebagai si hitam dan engkau akan selamanya menjadi si putih. Mungkin ini adalah ahir dari segalanya..karena tak pernah ada kudenga hitam yang cerah atau putih yang gelap..kita tidak mungkin menjadi satu” ujar si hitam menangis sambil melangkah pergi menjauh. Mereka seling menjauh satu sama lainnya. Kisah mereka akan terkenang selalu sebagai mana si putih yang tidak akan melupakan si hitam dan sebaliknya si hitam tidak akan melupakan si putih..walau dalam hati si hitam berharap ada sisi hitam yang tak mungkin hilang dalam tubuh si putih.

Minggu, 28 November 2010

kera metropolitan

Aku sudah bilang sama ibuku,tak perlu mengirim aku jauh-jauh hanya unuk sekedar gelar..tapi semua argument kami hanya berahir pada ketidak cocokan. Gelar yang mungkin nanti hanya digelar di meja menejer. Gelar yang terbatas pada angka tertentu yang hanya menjadi tolak ukur yang menganggapnya penting. Yang pasti bukan aku. Ibu bilang aku akan belajar. Tapi aku muak belajar. Bukannya belajar tak harus ada di balik kusi dan selalu menggenggam pulpen warna-warni untuk sekedar mewarnai kertas file ? belajar adalah menerjang keadaan saja. Diam dan meresapi apa yangkita lewati untuk tau apa yang harus kita lakukan setelah itu. Itula belajar !

Kota ini..kecil..tak seberapa luas dari imajinasiku. Tak cukup lebar untukku ketika perlu sembunyi untuk menutupi jati diri. Yang sesungguhnya sudah lama hilang. Kota ini..hanyalah metropolitan yang mati rasa. Ia menyimpan pesonanya dengan begitu cerdasnya sampai-sampai aku harus memutar otak untuk sekedar menyelinap diantara pesonanya.

Aku belajar dewasa dengan keadaanku yang menginginkan masa muda yang lebih lama. Bukankah yang tua belum tentu dewasa ? hanya sedikit pengalaman. Saya ingin terjebak dalam masa lalu saja. Kenapa mesti maju untuk masa depan ? Entahlah..saya tak tau harus bagaimana.

Di kota ini banyak sekali binatang. Tidak reptil,tidak tarantula,tidak amfibi,tidak melata. Mereka semua tersenyum dengan lebarnya. Mereka membawa barang sejuta umat demi menunjang kegaulan mereka yang saya bilang ‘pisang’ . Mereka menggunakan ‘penangkal peti’ pada gigi-gigi mereka, mereka menyebul asap-asap diudara yang membuat uadara jadi panas, mereka membawa mesin-mesin baja yang berjalan kencang, dan mereka menyisir rambutnya sama rata. Mereka seperti kera.

Mereka semua berlagak seperti manusia. Mereka semua ingin menjadi manusia. Tapi mereka hanya mampu menggoyang-goyang buntut saja, memamerkan pisang yang mereka genggam kemana-mana. Mereka mencoba berjalan setegak mungkin,tetapi mereka membungkuk sebentar untuk menutupi wajah keranya. Mereka semua berkutu sampai-sampai banyak orang takut terkena kutunya. Tertular kelakuan kera. Binatang yang selalu ingin menyerupai manusia tetapi tak mampu menyembunyikan kelakuan kera yang melekat pada diri mereka.

Ibuku sesekali menelponku untuk mengetahui sekedar kabar. Aku bilang aku ingin pulang tapi ibu tak pernah menginginkan. Aku bilang disini banyak kera ! kata ibuku aku hanya mati dalam imajinasiku saja. Ibu tak peduli.

Kera-kera itu semakin lama semakin liar. Mereka hidup dimalam hari hanya untuk sekedar bernyanyi,menampilkan pakaian-pakaian terbaik mereka, dan menjadi pusat jagadraya. Maksudku kera pusat jagatraya. Aku mereka ajak bergaul dengan teman-teman kera. Awalnya pembicaraan mereka terdengar seperti berteriak-teriak,namun ahir-ahir ini suara mereka terdengar lebih bagus lagi.

Lama sudah aku di kota ini. Suatu saat aku berjalan disuatu pusat perbelanjaan. Sebuah potongan harga membuat saya harus datang walau hanya sekedar buat absen. Sepati hak tinggi,gincu merah,parfum semuanya membuat saya gila. Ada sebuag gaun warna coklat terang tergantung disana. Kaki ini melangkah dan memakaikannya pada badan saya. Saya bercermin. Alangkah terkejutnya saya ketika melihat seekor kera berada didepan hadapan saya. Memandang lurus dan sama kagetnya. Saya sadar. Saya sudah menjadi kera lainnya. Binatang yang selalu ingin menyerupai manusia tetapi tak mampu menyembunyikan kelakuan kera yang melekat pada diri mereka.