Minggu, 19 Desember 2010

Cerita

Sekarang saya cuma jadi pencerpen yang bingung mau nulis apa. Kertas yang kosong ini sebenernya mengganggu. Sebenernya terlampau banyak….banyak sekali cerita yang harusnya bisa dijadikan cerita, tapi rasa-rasanya semua kata-kata yang ada udah kekunci dan ga mau sekali-kali keluar. Rasa-rasanya semua kata-kata hambur-hamburan ga jelas menolak untuk ditulis apa lagi diceritain. Saya butuh menulis ! saya butuh cerita ! tapi semua cerita jadi beleber kalau saya masukkin kedalam kertas kosong ini….saya harus menulis ! biar tak lupa apa yang harus saya ceritakan melalui cerita ini..biar tak lupa dunia menganggap saya dalam bentuk visual yang beda.

Kaca masih saja duduk didepan komputernya yang menyala berkedip sesekali menunggu kata apa yang akan jadi mula dari ceritanya malam ini. Dia binggung dengan apa yang harus ditulis, binggung dengan apa yang mesti diceritakan pada kertas-kertasnya. Ia butuh cerita…cerita yang telah lama merusak hidupnya..cerita yang terlalu lama ia pendam sendiri. Sampai-sampai ketika ia merasa harus mulai untuk bercerita lagi, emosi yang ada sudah berhamburan keluar. Sehingga ia sendiri lupa dengan apa yang kira-kira harus dijadikan awal dari ceritanya. Karena cerita yang awalnya ada terlalu lama disimpan dalam kotak yang ia bangun rapi-rapi dan ia sendiri lupa menaruh dimana kuncinya. Ia sudah duduk dua jam lamanya menghadapi komputer yang menyala dan berkedip sesekali kepadanya tanpa tau apa yang mesti diceritakan.

Apa yang harus saya mulai !! datang cerita ! datang kata ! kenapa kalian pergi waktu saya butuh…saya butuh cerita biar ga kebakar tenggorokan ini ! saya harus diingat sama orang ! saya ingin idiologi saya merasuk kehati setiap oreng…saya boleh mati..tapi tidak tulisan saya..tidak cerita saya ! oke akan saya awali dengan sebuah kata..kata yang harus punya makna dalam cerita saya..kata yang biasa tapi bisa jadi luarbiasa waktu orang mendengarnya atau membacanya..sebuah kata yang “hidup”.

Kaca mulai mengeja kata pertamanya H-I-D-U-P …. Dan ia terdiam lagi lama menunggu kata keduanya tergelincir dari jari jemarinya yang kaku dan keju setelah lama tak bercerita. Ia mati gaya. Sesekali matanya mengernyitkan alis meninggi sambil berfikir apa yang akan ia lakukan setelahnya. Berfikir dan menarik nafas panjang. Kadang ia menghembuskannya lama sekali. Kadang ia berharap tidak menghembuskannya bahkan. Lalu entah mengapa ia mulai ingat dengan Bumi kekasihnya yang harus ia tinggal karena keegoisannya, karena keegoisan mereka. Karena kata sayang yang terlalu mahal dijual Kaca, karena kata sayang yang selalu dinanti Bumi. Sampai lelah Bumi menunggu…mungkin Bumi lupa kalau Kaca adalah bukan perempuan yang biasa. Lebih tepatnya yang biasa menggumbar sayang dengan murah. Ia lebih suka mengatakannya lewat cerita-ceritanya dalam kertas. Cerita dalam kertas yang dihantarkannya tiap malam buat Bumi. Cerita yang mungkin tak dipahami Bumi yang tak suka bercerita. Cerita yang ak pernah cocok untuk bumi yang tak berfilosof. Cerita yang ga bisa menggugah kepekaan Bumi.

HIDUP….ada apa dengan hidup ? saya tidak mungkin berfilosofi disini. Saya saja tidak menjalani ‘hidup’ dengan bahagia. Hidup saya adalah Bumi yang baru saya tinggal, baru saya selingkuhin…..saya jadi heran, kenapa saya ga bisa bilang sekedar ‘sayang’ kepada orang yang saya ‘sayang’ tapi malah lebih mudah mengumbar ‘sayang’ sama orang yang ga saya ‘sayang’ ? Bumi membuat saya gila ! hidup juga buat saya gila ! lalu saya harus bercerita tentang kegilaan ini !! kata yang bodoh..Bumi yang bodoh..saya yang….yang…yang ga bisa h.i.d.u.p dengan alasan yang bisa membuat saya hidup. Bumi. Dasar gila.

Jari-jarinya mulai meluwes sejenak. Menari singkat dan sejenak. Kaca menulis kelanjutan kata hidup…ia mengetik G-I-L-A setelah selesai ia membentuk kata hidup. Dan ia lagi-lagi terdiam dan merenung melihat kertasnya yang hanya terisi dua kata. Ia merasa tak mampu bercerita. Dia kehabisan cerita. Dan bahkan dia kehabisan alasan untuk bercerita.

Saya mati gaya. Saya ga tau harus menggerakkan apa lagi. Saya miskin dengan semua apa yang saya punya. Lihat kertas didepan saya..kosong ! Cuma kata aneh yang saya tulis. Cuma dua kata pula. “hidup gila”. Penulis macam apa saya ini. Dasar miskin.

Kaca menoleh kekanan dan kekiri meregangkan otot-otot kakunya didepan computer, diatas kursi mencari ilham. Ia memutar-mutar pinggangnya kekanan dan kekiri. Ia berhenti diputaran kedua. Kaca. Ia melihat Kaca berada dalam kaca. Ia tersenyum geli melihat dirinya yang bernama Kaca terkurung dalam benda yang juga bernama kaca. Ia merasa kaca dan Kaca memiliki banyak kesamaan. Terkurung, dingin, datar, dan mudah pecah. Semoga Kaca yang didalamnya bisa keluar dari kaca itu, gumamnya dalam hati.

----

“Kaca kamu tau ga…teman itu ga boleh ada di belakang..karena dia itu bukan pembantu..ga boleh ada didepan..karena dia itu bukan pemimpin..bukan sekedar ada disebelah aja..tapi juga digandeng..biar waktu temen itu jatoh, kita adalah orang pertama yang tau dan bisa nolong dia”, ujar Luna yang tersenyum didepan Kaca. Kaca tersenyum mendengarnya. Ia merasa semua adalah cerita yang harus diceritakan kepada setiap orang. Bahwa ia merasa dipedulikan oleh seseorang. Seseorang yang sangat agung yang ia bilang ‘sahabat’. Sesuatu yang menjadi istimewa. “Jangan pernah tersasar ya Luna…biar kita bisa bergandengan tangan..biar km bisa menggapai aku waktu aku jatoh..kamu tau benar kalau saya bodoh..”, balas Kaca yang penuh pengharapan. Sambil meminum segelas kopi panas mereka berbincang-bincang. Perbincangan bodoh tentunya. Antara dua sahabat bodoh.

-----

Tiba-tiba teringat seseorang didepan meja komputernya. Ia merasa mendapat pencerahan Mengingat sesuatu. Ia tersenyum dengan menahan keawa sambil kembang kempis hidungnya. Sesuatu yang teringat bodoh. Ya ia mengingat sahabat bodohnya. Luna. Terasa bersalah sebenarnya atas perasaannya yang mengingat Luna ketika mendesak. Kaca merasa penuh dosa mengingat Luna ketika ia sedang kesusahan. Tapi kan hidup Kaca penuh dengan kesusahan ? Ya setidaknya ia akan terus mengingat Luna. Akan lebih sedikit waktu dimana ia melupakan Luna. Saat ia bahagia.
Gila. Kenapa aku inget Luna ? pasti aku lagi kesusahan. Yampun….aku kangen deh sama Luna. Kangen karena aku memang harus kangen sama dia. Kangen karena dia emank ngangenin. Kangen karena aku ga punya pilihan untuk ga kangen sama dia. Kangen karena variable yang berbeda. Karena dia adalah seseorang yang saya bilang ‘sahabat’. Kangen karena dia adalah cerita. Hidup itu emang gila ya…pasti orang nganggep kalau saya ini suka sama Luna. Tapi akan lebih gila lagi kalau saya ga menemukan Luna untuk dikangenin. Ya saya kangen Luna dan saya tidak ‘menyukainya’…dia adalah sahabat saya..setidaknya itu yang saya fikirkan.

----

085781677*** = BUMI
“halo…Bumi….aku…(bilang sayang !!!)..aku..hmmmm…(bilang SAYANG !!)…”
“kenapa Kaca ?.. km kenapa ?”
“aku…(ayo bilang SAYANG bodoh !!!)..aku…hmmm…AKU BENCI KAMU !”
“aku juga BENCI kamu…”
“agggggggghhhhhhhhhhh….”
“tut…tut…tut………”

085640736*** = LUNA
“halo….”
“ia kenapa Kaca ?”
“km sibuk ga ?”
“ia lagi lembur nih dikantor…knp ?”
“hm….sebenernya mau cerita…”
“oohh…telpon Bulan aja…”
“ga mau.”
“kaca ?”
“tut…tut…tut….”

Bumi menjadi media gagap…..Luna……ia tersasar dan lepas gandengan…mereka semua ilang dan tersesat….Dia patah lagi hatinya…karena cerita itu tak bisa keluar..masih tak bisa keluar..karena bukan ia yang ingin…tapi keadaannya yang memaksa. Memaksa agar tak mengeluarkan cerita. Keadaan yang membuat ia tidak bisa bercerita sampai lupa dan meluap sudah cerita yang ia punya. Sampai ga tau lagi apa yang menjadi cerita. Sampai tak ada lagi media hanya sekedar untuk bercerita..

----

Ini sudah lima jam saya duduk didepan computer saya. Dan yang ada cuma dua kata bodoh yang tak menceritakan apa-apa. Lalu ku hapus semua apa yang ada. HIDUP GILA. Kertas saya kosong lagi. Emosi ini di guyur air lagi setelah tadi dibakar api yang berkibar-kibar. Emosi saya hampa. Tak bisa cerita. Hanya diam melihati kertas putih kosong yang menjadi cerita saya hari ini. Saya tak punya apa-apa. Cuma sekedar kerta kosong yang tak bercerita. Atau mungkin bahkan bercerita banyak.

Kamis, 09 Desember 2010

rumah sederhana

Aku lahir dari sepetak tanah yang tak terlampau luas.Hanya sebesar 185m saja besarku.Lalu orang-orang itu membuatkan badan yang indah untukku.Mereka membuat tubuh yang gagah dengan membangun sebagian besar dari tanahku dan menyisakan beberapa meter untukku merias diri dengan tanaman.Aku dikandung selama setahun dan lahir gagah dengan tinggi dua lantai.Dan mereka memanggilku rumah sederhana.Mereka membedakiku dengan cet warna biru muda dan menggincuiku dengan pintu berdaun telinga dua dari kayu mahoni.Dan aku sangat cantik.

Suatu saat dimusim semi datanglah sepasang muda-mudi yang melihat-lihat isi perutku dengan si penciptaku.Sialnya aku merasa dibuang oleh si penciptaku.Ia malah membiarkan aku si bangunan yang cantik ini dimiliki oleh sepasang muda-mudi itu.Lalu setelah aku jadi milik para muda-mudi itu mereka mulai tinggal didalam perutku.Ternyata mereka adalah pasangan pengantin baru.Lalu aku mereka jadikan saksi bisu dari pertautan mereka dimalam pertama.Pasti mereka adalah pasangan baru yang benar-benar baru.Karena aku bias tertawa terbahak-bahak ketika mereka berdua kikuk dalam bercinta.Dasar pasangan baru.Akupun mereka ciptakan menjadi rumah sederhana yang lebih dewasa karena melihat pemandangan yang mereka sering lakukan dimalam hari.Tapi setelah satu bulan setelah mereka pindah,sekarang mereka tak hanya melakukannya dimalam hari saja.Tapi juga siang hari,pagi hari,sore hari dan setiap saat setiap mereka mau dan setip ada kesempatan.Aku mau muntah melihat mereka yang mengotori isi perutku dengan muntahan cairan aneh yang mereka keluarkan.Aku suka sangat sebal ketika mereka asik dan lupa untuk membersihkan tubuhku yang sering mereka kotori.

Taklama setelah itu si perempuan terlihat gendutan dari saat pertama ia datang.Ternyataa ia hamil.Setelah Sembilan bulan ia mengeluarkan seorang anak perempuan kecil dari dalam tubuhnya.Lalu kini mereka bertiga terlihat lebih bahagia.Dan senagnya lagi mereka tak lupa denganku.Meeka mulai memugar isi dalam perutku.Mempercantik aku lagi.Membuatku merasa lebih muda.Aku meresa seperti sedang dengan nikmatnya dipijati di salon termahal diibukota.Dan yang lebih kusenangi lagi mereka memberikan hiasan rambut untuk tamanku.Yaitu sebuah pohon mangga yang cantik.Mungkin umurnya sama dengan umur adak mereka.Dan pasti sama.

Lama sudah berjalan.Kini umur pohon maggaku sudah berumur 3 tahun.Tapi aku meresa ada yang janggal dengan pesangan yang dulu kupanggil pasangan pengantin baru,dan kini kupanggil ayah baru dan ibu baru.Mereka sudah tak semesra dulu lagi.Mereka sudah jarang mengotori isi perutku dengan cairan aneh dari tubuh mereka yang dulu sering mereka lakukan.Dan hal yang sering mereka lakukan ketika pagi,ketika siang,ketika sore,ketika ingin dan ketika ada waktu luang.Apa mereka bosan ? tapi mereka masih pernah melakukan “hal” itu.Walaupun aku merasa mereka seperti menjadwal kegiatn mereka itu hanya sekitar seminggu tiga kali.Kini si ayah baru lebih sering memunggungi ibu baru seakan-akan si ayah baru hanya merasa tidur dengan seonggok daging hidup.

Taklama di siang hari yang hujan deras si ayah baru membawa seorang perempuan asing yang tak pernah kulihat sebelumnya.Si ayah baru seakan tahu bahwa si ibu baru dan si anak sedang tidak ada dirumah.Lalu mereka masuk ke lambugku yang merupakan kamar utama.Aku kaget sekali ! sangat kaget ! karena melihat apa yang dilakukan si ayah baru dan si gadis asing didalam lambungku.Aku seakan ingin muntah melihatnya.Mereka melakukan “hal” yang sering dilakukan si ayah dan si ibu baru.Mereka terus mengulangi “hal” itu sampai cairan yang paling kubenci berantakan menciprat kemana-mana dalam lambungku.Hujan menjadi temanku dalam bersaksi bisu kali itu.

Sedang asik si ayah baru dan si gadis asing didalam lambungku tiba-tiba si ibu baru dan si anak masuk membuka bibirku yang tercipta dari kayu mahoni yang mulai merapuh.Si anak yang berumur tiga tahun itu main lari saja menginjak usus-usus tangga dalam perutku melangkah ke lantai dua.Mungkin karena derasnya hujan si ayah baru tak tahu kalau si anak sudah berada didepan pintu siap membuka pintu lambungku.”Papi ? “kata si anak heran melihat si ayah baru yang terlihat seperti sedang dipijat-pijat oleh seorang wanita.Tapi mereka saling tak memakai baju.Itu yang membuat si anak heran karena ia sering melihat si ibu baru di pijat tapi menggunakan baju,terutama si pemijat.Bukan telanjang keduanya.Si ayah baru salah tingkah melihat anaknya melihat apa yang ia lakukan dengan si gadis asing.Sepersekian detik setelah itu si ibu baru juga melihat si ayah baru sedang main pijet-pijetan tanpa baju dalam kamar tempat mereka dimana mereka merancang si anak yang sekarang sudah berumur tiga tahun itu.Si ibu baru dengan sigap menarik tangan anaknya agar tak lebih dalam menghayati apa yang ia lihat sambil bergegas keluar dari dalam tubuhku.Si ayah mengambil kain sekenanya yang ia lihat dan lari menghampiri si ibu baru dan si anak yang mulai menghidupkan mesin mobil.Si ayah berusaha menjelaskan sesuatu kepada si ibu baru yang tak peduli dengan apa yang mau dikatakan si ayah baru.Ia pergi dengan berlinang air mata.Lagipula apa yang mau dijelaskan lagi ? orang sudah dengan sangat jelas ! apa ia mau menjelaskan sensasinya berselingkuh didalam lambung ku ? dan lagi-lagi mereka pasangan mesum baru itu lupa untuk membersihkan ku setelah apa yang mereka lakukan kepadaku.Dan meninggalkan aku sebagai saksi bisu saja.

Berbulan-bulan si ibu dan si anak tak pernah datang lagi mengunjungiku.Hanya si ayah baru yang mulai ku benci kelakuannya yang senantiasa memperlihatkan kelakuan minusnya kepadaku yang tak bias bicara ini.Ingin sekali aku mengusirnya keluar dan meminta agar si ibu baru dan si anak saja yang menempaiku.Aku seperti merindukan si anak yang belajar jalan dan merangkak-rangkak di dalam tubuhku yang membuatku geli.Aku merindukan mereka,juga si ayah yang dulu sangat sayang pada keluarganya.

Tiba-tiba mobil yang dulu sangat kuhapal bertengger didalam kerongkongan garasiku berhenti didepan muka.Betapa senangnya aku ketika kupikir si ibu dan si anak hendak mengunjungiku.Tiba-tiba si ibu masuk mengobrak abrik lambungku mencari koper terbesar yang ada dan menguras isi lemari yang merupakan barang-barangnya.Lalu ia berpindah kehatiku yang merupakan kamar sebelah yang merupakan kamar si anak.Dengan hal yang sama ia mulai menguras barang-barang anaknya dan pergi lagi dengan mobil yang dulu sangat akrap denganku itu.Aku serasa ingin menangis melihat mereka yang pergi seakan-akan ingin pergi selamanya dariku.

Mungkin lama kelamaan si ayah baru yang menjadi ayah tertinggal itu mulai merasa sendiri hidup dalam tubuhku.Ia mulai membungkusi setia barang-barang yang dulu ia dan istrinya berukan kepadakku untuk mempercantikku.Aku merasa sedih karena aku merasa dilucuti dikit demi sedikit.Tak lama setelah itu ia juga pergi meninggalkan aku sendiri.Tak ada yang ia tinggalkan.Hanya satu yaitu sebuah pohon mangga yang dulu ia tanam bersama istrinya seiring lahirnya si anak.Dan aku sendiri lagi.

****

Kini umur pohon mangga itu sudah menginjak duapuluh satu tahun.Pastilah si anak yang dulu berjalan sambil membuatku geli sudah dapat berjalan dengan tegak dan menjadi si wanita cantik.Jika saja si ayah yang tertinggal itu tak berbuat bodoh pastilah aku dapat melihat ia berjalan pergi dari rumahku.Setidaknya pergi dengan lebih sopan tanpa meninggalkan kekangenanku padanya.Sedaang aku,aku hanya rumah sederhana saja.Atau lebih tepatnya rumah tua yang sederhana.




Untuk rumahku yang hanya bias diam melihat kelakuanku
Aku sayang kamu…….

Rabu, 01 Desember 2010

"ibu"

Aku lahir sebagai mahluk yang cacat. Bukan fisiklah yang membuatku cacat. Hiduplah yang membuat hidup menjadi cacat. Gara-gara si bungsu anak ibuku kini aku terlahir menjadi ibu. Aku tak pernah membayangkan mesti menjemur popokku sendiri setelah selesai aku mengompolinya. Aku tak pernah tau bagai mana menjadi ibu bila ibu tak pernah mengajariku menjadi ibu.

Si bungsu itu memang sumber kesialan. Terlaknat yang pernah ku tau. Mengapa bukan dia yang menjadi ibu ? mengapa bukan aku yang menjadi si bungsu ? dan terlebih mengapa..mengapa dia mesti bermuka aku ?! Mengapa mesti ada dia ? mengapa tak hanya ada ibu ? mengpa terlalu banyak mengapa ?

Yang aku tau dulu aku memiliki ibu. Memiliki ayah. Memiliki aku. Lalu setelah dua menit aku memiliki ibu dan ayah lalu aku memiliki si bungsu. Tapi ibu pergi dan akulah ibu. Setelah itu ayahku pergi meninggalkan kami karena diperibu oleh perempuan jalang lainnya. Sama seperti ibu mungkin. Dan kini sama seperti aku. Ibu.

Si bungsu tak pernah peduli dengan kehidupan cacat kita. Yang ia tahu ia adalah si bungsu dan aku adalah ibu. Dan kami hidup tanpa ayah yang ayah. Bila ku ingat betapa susah menjadi ibu. Aku harus menyusui diriku sendiri yang sedang menangis,aku harus menyusui si bungsu yang lagi menangis pula,aku harus memasak padahal aku tak tau apa itu memasak,aku harus mencium bau jalang pada pakaian ayahku yang kucuci,aku harus mendengar erangan perih istri tetangga yang kamarnya hanya bertutupkan semen batu tak seberapa tebal. Aku benci menjadi ibu diumurku yang begitu muda. Aku benci mesti berbagi hidup dengan si bungsu yang jelas aku tau bahwa ialah penyebab ibu tak ada.

Jika bisa aku menulis surat untuk ibu. Aku akan menulis untuk meminta ibu tak melahirkan si bungsu yang membuatnya tak ada atau setidaknya memintaku untuk tidak dilahirkan agar aku tak perlu menjadi ibu. Jika bisa aku menulis untuk ibu aku akan menulis rengekan yang tak pernah bisa kubagi dengan siapapun yang pernah ada didunia ini. Bahkan dengan si bungsu. Aku akan merengek sebisaku,memujanya,dan memintanya agar sudi untuk bertukar tempat dengan aku karena tak layak menjadi ibu yang ibu bagi si bungsu. Tapi aku tak bisa menulis surat karena lagi-lagi ibu tak mengajariku apa-apa.

Ibu…aku benci menjadi ibu ! yang harus mendengar gundah gelisahnya si bungsu dan gundah gelisah hidupku sendiri. Harusnya ibulah yang melakukan itu. Aku benci ibu yang membuatku tak berdaya hidup dengan cacat. Aku benci ibu yang pergi tanpa mengajarkan apapun kepadaku. Aku benci menjadi ibu yang tak berayah yang ayah. Aku benci dibudaki hidup untuk merengek mencari ibu. Betapa sialnya engkau ibu yang begitu tega membiarkan aku menangis dalam pelukan angin yang terus mengkeroposi tulang demi tulangku yang menolak menjadi ibu. Pantas saja kau memilih pergi ! karena kau ingin aku yang menanggung bebanmu untuk menjadi ibu bukan !! sial !! jalang !!



“Ibuku malang..,ibuku sial..,tak berhutang aku kepadamu..lalala..”

“ibuku jalang..,ibuku hilang..,akulah ibu…lalala..”


Ibu. Aku mungkin harusnya masih bermimpi untuk menjadi ibu,bukan jadi ibu. Bukan pula diperibu oleh ayah sendiri..bukan pula menjadi ibu si bungsu yang bermuka sama denganku itu. bukan itu…bukan menjadi anak jalang yang menjajaki ayahnya sendiri..bukan..bukan ibu yang itu…