Minggu, 19 Desember 2010

Cerita

Sekarang saya cuma jadi pencerpen yang bingung mau nulis apa. Kertas yang kosong ini sebenernya mengganggu. Sebenernya terlampau banyak….banyak sekali cerita yang harusnya bisa dijadikan cerita, tapi rasa-rasanya semua kata-kata yang ada udah kekunci dan ga mau sekali-kali keluar. Rasa-rasanya semua kata-kata hambur-hamburan ga jelas menolak untuk ditulis apa lagi diceritain. Saya butuh menulis ! saya butuh cerita ! tapi semua cerita jadi beleber kalau saya masukkin kedalam kertas kosong ini….saya harus menulis ! biar tak lupa apa yang harus saya ceritakan melalui cerita ini..biar tak lupa dunia menganggap saya dalam bentuk visual yang beda.

Kaca masih saja duduk didepan komputernya yang menyala berkedip sesekali menunggu kata apa yang akan jadi mula dari ceritanya malam ini. Dia binggung dengan apa yang harus ditulis, binggung dengan apa yang mesti diceritakan pada kertas-kertasnya. Ia butuh cerita…cerita yang telah lama merusak hidupnya..cerita yang terlalu lama ia pendam sendiri. Sampai-sampai ketika ia merasa harus mulai untuk bercerita lagi, emosi yang ada sudah berhamburan keluar. Sehingga ia sendiri lupa dengan apa yang kira-kira harus dijadikan awal dari ceritanya. Karena cerita yang awalnya ada terlalu lama disimpan dalam kotak yang ia bangun rapi-rapi dan ia sendiri lupa menaruh dimana kuncinya. Ia sudah duduk dua jam lamanya menghadapi komputer yang menyala dan berkedip sesekali kepadanya tanpa tau apa yang mesti diceritakan.

Apa yang harus saya mulai !! datang cerita ! datang kata ! kenapa kalian pergi waktu saya butuh…saya butuh cerita biar ga kebakar tenggorokan ini ! saya harus diingat sama orang ! saya ingin idiologi saya merasuk kehati setiap oreng…saya boleh mati..tapi tidak tulisan saya..tidak cerita saya ! oke akan saya awali dengan sebuah kata..kata yang harus punya makna dalam cerita saya..kata yang biasa tapi bisa jadi luarbiasa waktu orang mendengarnya atau membacanya..sebuah kata yang “hidup”.

Kaca mulai mengeja kata pertamanya H-I-D-U-P …. Dan ia terdiam lagi lama menunggu kata keduanya tergelincir dari jari jemarinya yang kaku dan keju setelah lama tak bercerita. Ia mati gaya. Sesekali matanya mengernyitkan alis meninggi sambil berfikir apa yang akan ia lakukan setelahnya. Berfikir dan menarik nafas panjang. Kadang ia menghembuskannya lama sekali. Kadang ia berharap tidak menghembuskannya bahkan. Lalu entah mengapa ia mulai ingat dengan Bumi kekasihnya yang harus ia tinggal karena keegoisannya, karena keegoisan mereka. Karena kata sayang yang terlalu mahal dijual Kaca, karena kata sayang yang selalu dinanti Bumi. Sampai lelah Bumi menunggu…mungkin Bumi lupa kalau Kaca adalah bukan perempuan yang biasa. Lebih tepatnya yang biasa menggumbar sayang dengan murah. Ia lebih suka mengatakannya lewat cerita-ceritanya dalam kertas. Cerita dalam kertas yang dihantarkannya tiap malam buat Bumi. Cerita yang mungkin tak dipahami Bumi yang tak suka bercerita. Cerita yang ak pernah cocok untuk bumi yang tak berfilosof. Cerita yang ga bisa menggugah kepekaan Bumi.

HIDUP….ada apa dengan hidup ? saya tidak mungkin berfilosofi disini. Saya saja tidak menjalani ‘hidup’ dengan bahagia. Hidup saya adalah Bumi yang baru saya tinggal, baru saya selingkuhin…..saya jadi heran, kenapa saya ga bisa bilang sekedar ‘sayang’ kepada orang yang saya ‘sayang’ tapi malah lebih mudah mengumbar ‘sayang’ sama orang yang ga saya ‘sayang’ ? Bumi membuat saya gila ! hidup juga buat saya gila ! lalu saya harus bercerita tentang kegilaan ini !! kata yang bodoh..Bumi yang bodoh..saya yang….yang…yang ga bisa h.i.d.u.p dengan alasan yang bisa membuat saya hidup. Bumi. Dasar gila.

Jari-jarinya mulai meluwes sejenak. Menari singkat dan sejenak. Kaca menulis kelanjutan kata hidup…ia mengetik G-I-L-A setelah selesai ia membentuk kata hidup. Dan ia lagi-lagi terdiam dan merenung melihat kertasnya yang hanya terisi dua kata. Ia merasa tak mampu bercerita. Dia kehabisan cerita. Dan bahkan dia kehabisan alasan untuk bercerita.

Saya mati gaya. Saya ga tau harus menggerakkan apa lagi. Saya miskin dengan semua apa yang saya punya. Lihat kertas didepan saya..kosong ! Cuma kata aneh yang saya tulis. Cuma dua kata pula. “hidup gila”. Penulis macam apa saya ini. Dasar miskin.

Kaca menoleh kekanan dan kekiri meregangkan otot-otot kakunya didepan computer, diatas kursi mencari ilham. Ia memutar-mutar pinggangnya kekanan dan kekiri. Ia berhenti diputaran kedua. Kaca. Ia melihat Kaca berada dalam kaca. Ia tersenyum geli melihat dirinya yang bernama Kaca terkurung dalam benda yang juga bernama kaca. Ia merasa kaca dan Kaca memiliki banyak kesamaan. Terkurung, dingin, datar, dan mudah pecah. Semoga Kaca yang didalamnya bisa keluar dari kaca itu, gumamnya dalam hati.

----

“Kaca kamu tau ga…teman itu ga boleh ada di belakang..karena dia itu bukan pembantu..ga boleh ada didepan..karena dia itu bukan pemimpin..bukan sekedar ada disebelah aja..tapi juga digandeng..biar waktu temen itu jatoh, kita adalah orang pertama yang tau dan bisa nolong dia”, ujar Luna yang tersenyum didepan Kaca. Kaca tersenyum mendengarnya. Ia merasa semua adalah cerita yang harus diceritakan kepada setiap orang. Bahwa ia merasa dipedulikan oleh seseorang. Seseorang yang sangat agung yang ia bilang ‘sahabat’. Sesuatu yang menjadi istimewa. “Jangan pernah tersasar ya Luna…biar kita bisa bergandengan tangan..biar km bisa menggapai aku waktu aku jatoh..kamu tau benar kalau saya bodoh..”, balas Kaca yang penuh pengharapan. Sambil meminum segelas kopi panas mereka berbincang-bincang. Perbincangan bodoh tentunya. Antara dua sahabat bodoh.

-----

Tiba-tiba teringat seseorang didepan meja komputernya. Ia merasa mendapat pencerahan Mengingat sesuatu. Ia tersenyum dengan menahan keawa sambil kembang kempis hidungnya. Sesuatu yang teringat bodoh. Ya ia mengingat sahabat bodohnya. Luna. Terasa bersalah sebenarnya atas perasaannya yang mengingat Luna ketika mendesak. Kaca merasa penuh dosa mengingat Luna ketika ia sedang kesusahan. Tapi kan hidup Kaca penuh dengan kesusahan ? Ya setidaknya ia akan terus mengingat Luna. Akan lebih sedikit waktu dimana ia melupakan Luna. Saat ia bahagia.
Gila. Kenapa aku inget Luna ? pasti aku lagi kesusahan. Yampun….aku kangen deh sama Luna. Kangen karena aku memang harus kangen sama dia. Kangen karena dia emank ngangenin. Kangen karena aku ga punya pilihan untuk ga kangen sama dia. Kangen karena variable yang berbeda. Karena dia adalah seseorang yang saya bilang ‘sahabat’. Kangen karena dia adalah cerita. Hidup itu emang gila ya…pasti orang nganggep kalau saya ini suka sama Luna. Tapi akan lebih gila lagi kalau saya ga menemukan Luna untuk dikangenin. Ya saya kangen Luna dan saya tidak ‘menyukainya’…dia adalah sahabat saya..setidaknya itu yang saya fikirkan.

----

085781677*** = BUMI
“halo…Bumi….aku…(bilang sayang !!!)..aku..hmmmm…(bilang SAYANG !!)…”
“kenapa Kaca ?.. km kenapa ?”
“aku…(ayo bilang SAYANG bodoh !!!)..aku…hmmm…AKU BENCI KAMU !”
“aku juga BENCI kamu…”
“agggggggghhhhhhhhhhh….”
“tut…tut…tut………”

085640736*** = LUNA
“halo….”
“ia kenapa Kaca ?”
“km sibuk ga ?”
“ia lagi lembur nih dikantor…knp ?”
“hm….sebenernya mau cerita…”
“oohh…telpon Bulan aja…”
“ga mau.”
“kaca ?”
“tut…tut…tut….”

Bumi menjadi media gagap…..Luna……ia tersasar dan lepas gandengan…mereka semua ilang dan tersesat….Dia patah lagi hatinya…karena cerita itu tak bisa keluar..masih tak bisa keluar..karena bukan ia yang ingin…tapi keadaannya yang memaksa. Memaksa agar tak mengeluarkan cerita. Keadaan yang membuat ia tidak bisa bercerita sampai lupa dan meluap sudah cerita yang ia punya. Sampai ga tau lagi apa yang menjadi cerita. Sampai tak ada lagi media hanya sekedar untuk bercerita..

----

Ini sudah lima jam saya duduk didepan computer saya. Dan yang ada cuma dua kata bodoh yang tak menceritakan apa-apa. Lalu ku hapus semua apa yang ada. HIDUP GILA. Kertas saya kosong lagi. Emosi ini di guyur air lagi setelah tadi dibakar api yang berkibar-kibar. Emosi saya hampa. Tak bisa cerita. Hanya diam melihati kertas putih kosong yang menjadi cerita saya hari ini. Saya tak punya apa-apa. Cuma sekedar kerta kosong yang tak bercerita. Atau mungkin bahkan bercerita banyak.

Kamis, 09 Desember 2010

rumah sederhana

Aku lahir dari sepetak tanah yang tak terlampau luas.Hanya sebesar 185m saja besarku.Lalu orang-orang itu membuatkan badan yang indah untukku.Mereka membuat tubuh yang gagah dengan membangun sebagian besar dari tanahku dan menyisakan beberapa meter untukku merias diri dengan tanaman.Aku dikandung selama setahun dan lahir gagah dengan tinggi dua lantai.Dan mereka memanggilku rumah sederhana.Mereka membedakiku dengan cet warna biru muda dan menggincuiku dengan pintu berdaun telinga dua dari kayu mahoni.Dan aku sangat cantik.

Suatu saat dimusim semi datanglah sepasang muda-mudi yang melihat-lihat isi perutku dengan si penciptaku.Sialnya aku merasa dibuang oleh si penciptaku.Ia malah membiarkan aku si bangunan yang cantik ini dimiliki oleh sepasang muda-mudi itu.Lalu setelah aku jadi milik para muda-mudi itu mereka mulai tinggal didalam perutku.Ternyata mereka adalah pasangan pengantin baru.Lalu aku mereka jadikan saksi bisu dari pertautan mereka dimalam pertama.Pasti mereka adalah pasangan baru yang benar-benar baru.Karena aku bias tertawa terbahak-bahak ketika mereka berdua kikuk dalam bercinta.Dasar pasangan baru.Akupun mereka ciptakan menjadi rumah sederhana yang lebih dewasa karena melihat pemandangan yang mereka sering lakukan dimalam hari.Tapi setelah satu bulan setelah mereka pindah,sekarang mereka tak hanya melakukannya dimalam hari saja.Tapi juga siang hari,pagi hari,sore hari dan setiap saat setiap mereka mau dan setip ada kesempatan.Aku mau muntah melihat mereka yang mengotori isi perutku dengan muntahan cairan aneh yang mereka keluarkan.Aku suka sangat sebal ketika mereka asik dan lupa untuk membersihkan tubuhku yang sering mereka kotori.

Taklama setelah itu si perempuan terlihat gendutan dari saat pertama ia datang.Ternyataa ia hamil.Setelah Sembilan bulan ia mengeluarkan seorang anak perempuan kecil dari dalam tubuhnya.Lalu kini mereka bertiga terlihat lebih bahagia.Dan senagnya lagi mereka tak lupa denganku.Meeka mulai memugar isi dalam perutku.Mempercantik aku lagi.Membuatku merasa lebih muda.Aku meresa seperti sedang dengan nikmatnya dipijati di salon termahal diibukota.Dan yang lebih kusenangi lagi mereka memberikan hiasan rambut untuk tamanku.Yaitu sebuah pohon mangga yang cantik.Mungkin umurnya sama dengan umur adak mereka.Dan pasti sama.

Lama sudah berjalan.Kini umur pohon maggaku sudah berumur 3 tahun.Tapi aku meresa ada yang janggal dengan pesangan yang dulu kupanggil pasangan pengantin baru,dan kini kupanggil ayah baru dan ibu baru.Mereka sudah tak semesra dulu lagi.Mereka sudah jarang mengotori isi perutku dengan cairan aneh dari tubuh mereka yang dulu sering mereka lakukan.Dan hal yang sering mereka lakukan ketika pagi,ketika siang,ketika sore,ketika ingin dan ketika ada waktu luang.Apa mereka bosan ? tapi mereka masih pernah melakukan “hal” itu.Walaupun aku merasa mereka seperti menjadwal kegiatn mereka itu hanya sekitar seminggu tiga kali.Kini si ayah baru lebih sering memunggungi ibu baru seakan-akan si ayah baru hanya merasa tidur dengan seonggok daging hidup.

Taklama di siang hari yang hujan deras si ayah baru membawa seorang perempuan asing yang tak pernah kulihat sebelumnya.Si ayah baru seakan tahu bahwa si ibu baru dan si anak sedang tidak ada dirumah.Lalu mereka masuk ke lambugku yang merupakan kamar utama.Aku kaget sekali ! sangat kaget ! karena melihat apa yang dilakukan si ayah baru dan si gadis asing didalam lambungku.Aku seakan ingin muntah melihatnya.Mereka melakukan “hal” yang sering dilakukan si ayah dan si ibu baru.Mereka terus mengulangi “hal” itu sampai cairan yang paling kubenci berantakan menciprat kemana-mana dalam lambungku.Hujan menjadi temanku dalam bersaksi bisu kali itu.

Sedang asik si ayah baru dan si gadis asing didalam lambungku tiba-tiba si ibu baru dan si anak masuk membuka bibirku yang tercipta dari kayu mahoni yang mulai merapuh.Si anak yang berumur tiga tahun itu main lari saja menginjak usus-usus tangga dalam perutku melangkah ke lantai dua.Mungkin karena derasnya hujan si ayah baru tak tahu kalau si anak sudah berada didepan pintu siap membuka pintu lambungku.”Papi ? “kata si anak heran melihat si ayah baru yang terlihat seperti sedang dipijat-pijat oleh seorang wanita.Tapi mereka saling tak memakai baju.Itu yang membuat si anak heran karena ia sering melihat si ibu baru di pijat tapi menggunakan baju,terutama si pemijat.Bukan telanjang keduanya.Si ayah baru salah tingkah melihat anaknya melihat apa yang ia lakukan dengan si gadis asing.Sepersekian detik setelah itu si ibu baru juga melihat si ayah baru sedang main pijet-pijetan tanpa baju dalam kamar tempat mereka dimana mereka merancang si anak yang sekarang sudah berumur tiga tahun itu.Si ibu baru dengan sigap menarik tangan anaknya agar tak lebih dalam menghayati apa yang ia lihat sambil bergegas keluar dari dalam tubuhku.Si ayah mengambil kain sekenanya yang ia lihat dan lari menghampiri si ibu baru dan si anak yang mulai menghidupkan mesin mobil.Si ayah berusaha menjelaskan sesuatu kepada si ibu baru yang tak peduli dengan apa yang mau dikatakan si ayah baru.Ia pergi dengan berlinang air mata.Lagipula apa yang mau dijelaskan lagi ? orang sudah dengan sangat jelas ! apa ia mau menjelaskan sensasinya berselingkuh didalam lambung ku ? dan lagi-lagi mereka pasangan mesum baru itu lupa untuk membersihkan ku setelah apa yang mereka lakukan kepadaku.Dan meninggalkan aku sebagai saksi bisu saja.

Berbulan-bulan si ibu dan si anak tak pernah datang lagi mengunjungiku.Hanya si ayah baru yang mulai ku benci kelakuannya yang senantiasa memperlihatkan kelakuan minusnya kepadaku yang tak bias bicara ini.Ingin sekali aku mengusirnya keluar dan meminta agar si ibu baru dan si anak saja yang menempaiku.Aku seperti merindukan si anak yang belajar jalan dan merangkak-rangkak di dalam tubuhku yang membuatku geli.Aku merindukan mereka,juga si ayah yang dulu sangat sayang pada keluarganya.

Tiba-tiba mobil yang dulu sangat kuhapal bertengger didalam kerongkongan garasiku berhenti didepan muka.Betapa senangnya aku ketika kupikir si ibu dan si anak hendak mengunjungiku.Tiba-tiba si ibu masuk mengobrak abrik lambungku mencari koper terbesar yang ada dan menguras isi lemari yang merupakan barang-barangnya.Lalu ia berpindah kehatiku yang merupakan kamar sebelah yang merupakan kamar si anak.Dengan hal yang sama ia mulai menguras barang-barang anaknya dan pergi lagi dengan mobil yang dulu sangat akrap denganku itu.Aku serasa ingin menangis melihat mereka yang pergi seakan-akan ingin pergi selamanya dariku.

Mungkin lama kelamaan si ayah baru yang menjadi ayah tertinggal itu mulai merasa sendiri hidup dalam tubuhku.Ia mulai membungkusi setia barang-barang yang dulu ia dan istrinya berukan kepadakku untuk mempercantikku.Aku merasa sedih karena aku merasa dilucuti dikit demi sedikit.Tak lama setelah itu ia juga pergi meninggalkan aku sendiri.Tak ada yang ia tinggalkan.Hanya satu yaitu sebuah pohon mangga yang dulu ia tanam bersama istrinya seiring lahirnya si anak.Dan aku sendiri lagi.

****

Kini umur pohon mangga itu sudah menginjak duapuluh satu tahun.Pastilah si anak yang dulu berjalan sambil membuatku geli sudah dapat berjalan dengan tegak dan menjadi si wanita cantik.Jika saja si ayah yang tertinggal itu tak berbuat bodoh pastilah aku dapat melihat ia berjalan pergi dari rumahku.Setidaknya pergi dengan lebih sopan tanpa meninggalkan kekangenanku padanya.Sedaang aku,aku hanya rumah sederhana saja.Atau lebih tepatnya rumah tua yang sederhana.




Untuk rumahku yang hanya bias diam melihat kelakuanku
Aku sayang kamu…….

Rabu, 01 Desember 2010

"ibu"

Aku lahir sebagai mahluk yang cacat. Bukan fisiklah yang membuatku cacat. Hiduplah yang membuat hidup menjadi cacat. Gara-gara si bungsu anak ibuku kini aku terlahir menjadi ibu. Aku tak pernah membayangkan mesti menjemur popokku sendiri setelah selesai aku mengompolinya. Aku tak pernah tau bagai mana menjadi ibu bila ibu tak pernah mengajariku menjadi ibu.

Si bungsu itu memang sumber kesialan. Terlaknat yang pernah ku tau. Mengapa bukan dia yang menjadi ibu ? mengapa bukan aku yang menjadi si bungsu ? dan terlebih mengapa..mengapa dia mesti bermuka aku ?! Mengapa mesti ada dia ? mengapa tak hanya ada ibu ? mengpa terlalu banyak mengapa ?

Yang aku tau dulu aku memiliki ibu. Memiliki ayah. Memiliki aku. Lalu setelah dua menit aku memiliki ibu dan ayah lalu aku memiliki si bungsu. Tapi ibu pergi dan akulah ibu. Setelah itu ayahku pergi meninggalkan kami karena diperibu oleh perempuan jalang lainnya. Sama seperti ibu mungkin. Dan kini sama seperti aku. Ibu.

Si bungsu tak pernah peduli dengan kehidupan cacat kita. Yang ia tahu ia adalah si bungsu dan aku adalah ibu. Dan kami hidup tanpa ayah yang ayah. Bila ku ingat betapa susah menjadi ibu. Aku harus menyusui diriku sendiri yang sedang menangis,aku harus menyusui si bungsu yang lagi menangis pula,aku harus memasak padahal aku tak tau apa itu memasak,aku harus mencium bau jalang pada pakaian ayahku yang kucuci,aku harus mendengar erangan perih istri tetangga yang kamarnya hanya bertutupkan semen batu tak seberapa tebal. Aku benci menjadi ibu diumurku yang begitu muda. Aku benci mesti berbagi hidup dengan si bungsu yang jelas aku tau bahwa ialah penyebab ibu tak ada.

Jika bisa aku menulis surat untuk ibu. Aku akan menulis untuk meminta ibu tak melahirkan si bungsu yang membuatnya tak ada atau setidaknya memintaku untuk tidak dilahirkan agar aku tak perlu menjadi ibu. Jika bisa aku menulis untuk ibu aku akan menulis rengekan yang tak pernah bisa kubagi dengan siapapun yang pernah ada didunia ini. Bahkan dengan si bungsu. Aku akan merengek sebisaku,memujanya,dan memintanya agar sudi untuk bertukar tempat dengan aku karena tak layak menjadi ibu yang ibu bagi si bungsu. Tapi aku tak bisa menulis surat karena lagi-lagi ibu tak mengajariku apa-apa.

Ibu…aku benci menjadi ibu ! yang harus mendengar gundah gelisahnya si bungsu dan gundah gelisah hidupku sendiri. Harusnya ibulah yang melakukan itu. Aku benci ibu yang membuatku tak berdaya hidup dengan cacat. Aku benci ibu yang pergi tanpa mengajarkan apapun kepadaku. Aku benci menjadi ibu yang tak berayah yang ayah. Aku benci dibudaki hidup untuk merengek mencari ibu. Betapa sialnya engkau ibu yang begitu tega membiarkan aku menangis dalam pelukan angin yang terus mengkeroposi tulang demi tulangku yang menolak menjadi ibu. Pantas saja kau memilih pergi ! karena kau ingin aku yang menanggung bebanmu untuk menjadi ibu bukan !! sial !! jalang !!



“Ibuku malang..,ibuku sial..,tak berhutang aku kepadamu..lalala..”

“ibuku jalang..,ibuku hilang..,akulah ibu…lalala..”


Ibu. Aku mungkin harusnya masih bermimpi untuk menjadi ibu,bukan jadi ibu. Bukan pula diperibu oleh ayah sendiri..bukan pula menjadi ibu si bungsu yang bermuka sama denganku itu. bukan itu…bukan menjadi anak jalang yang menjajaki ayahnya sendiri..bukan..bukan ibu yang itu…

Senin, 29 November 2010

kotak ajaib hitam putih

Ada si putihh dan si hitam yang hidup dalam sebuah desa yang sama. Dengan kebiasaan yang berbeda si hitam dan si putih selalu bermain besama. Pada suatu saat si hitam dan si putih menemukan sebuh kotak ajaib berwarna keemasan dengan tutup diatasnya. Awalnya si hitam yidak mengeahui tentang keajaiban kotak itu. Si putih mengajak si hitam untuk membuka kotak itu. Isinya tak terlihat dengan jelas karena saat itu penerangan tidak mampu menembus isi kotak keemasan itu. Lalu si hitam berkata,”andai saja ada lebih penerangan disini” dengan rasa penasaran yang amat sangat. Tak lama setelah itu datanglah sekelompok kunang-kunang yang menerangi keberadaan si hitam dan si putih. Lalu mereka menyadari keajaiban kotak tersebut.

Memang si putih dan si hitam hidup bersama dan berdampingan dalam lingkungan yang sama pula, namun merika tidak bisa bersama karena perbedaan mereka. Si putih dan si hitam tak mungkin bersatu karena tidak pernah dikenal warna abu-abu. Mereka hanya saling bertukar senyum satu dengan yang lain tanpa bisa mengharapkan yang lebih dari itu.

Suatu ketika si hitam sedang bosan dan jenuh. Ia tampak begitu sedih. Si putih yang tak suka melihat itu membuka kotak ajaibnya lalu meminta,”aku ingin membuat si hitam bahagia” ujarnya sambil menunggu ada keajaiban apa yang datang. Lalu tak lama setelah itu ia melihat sebuah gitar tergeletak dibalik pohon tempat si putih dan si hitam duduk bersama. Lalu si putih pun menyanyi dan menghibur si hitam sampai si hitampun tertawa lagi.

Perna si putih mengutarakan perasaannya kepada si hitam, namun si hitam menjawab,”entahlah aku adalah si hitam dan kau adalah si putih”. Pasti si putihpun mengerti dengan maksud apa yang dikatakan si hitam. Si putih hanya terdiam menatap si hitam sambil menahan air matanya.

Mereka tumbuh bersama. Terlintas dalam fikiran si hitam apa jadinya dia bila tak ada lagi si putih dalam hidupnya..namun ia sendiri tak bisa mengelakkan bahwa ia adalah tetap si hitam dan si putih adalah tetap si putih yang tidak mungkin bersama. Begitu juga si putih yang tak bisa berpaling kepada yang lain karena si hitam sudah begitu hadir dalam hidupnya.

Dalam kegalauan hati si hitam ia menangis sambil memegangi kotak ajaib keemasannya. Ia meminta seperti biasa,namun kali ini ia meminta agar si putih menjadi si hitam yang sama seperti dirinya. Perlahan ia membuka kotak itu dengan sejuta pengharapan. Tapi yang ia lihat didalam kotak itu adalah ruang hampa saja. Kotak itu kosong. Saat ia sadar si putih sudah berada didepannya sambil melihat kearahnya. Tetapi ia tetaplah menjadi si putih. Si hitam pun menangis sejadi-jadinya melihat permintaannya tidak menjadi kenyataan. Si hitam menangis sambil berkata,”entahlah putih…mungkin aku akan selamanya sebagai si hitam dan engkau akan selamanya menjadi si putih. Mungkin ini adalah ahir dari segalanya..karena tak pernah ada kudenga hitam yang cerah atau putih yang gelap..kita tidak mungkin menjadi satu” ujar si hitam menangis sambil melangkah pergi menjauh. Mereka seling menjauh satu sama lainnya. Kisah mereka akan terkenang selalu sebagai mana si putih yang tidak akan melupakan si hitam dan sebaliknya si hitam tidak akan melupakan si putih..walau dalam hati si hitam berharap ada sisi hitam yang tak mungkin hilang dalam tubuh si putih.

Minggu, 28 November 2010

kera metropolitan

Aku sudah bilang sama ibuku,tak perlu mengirim aku jauh-jauh hanya unuk sekedar gelar..tapi semua argument kami hanya berahir pada ketidak cocokan. Gelar yang mungkin nanti hanya digelar di meja menejer. Gelar yang terbatas pada angka tertentu yang hanya menjadi tolak ukur yang menganggapnya penting. Yang pasti bukan aku. Ibu bilang aku akan belajar. Tapi aku muak belajar. Bukannya belajar tak harus ada di balik kusi dan selalu menggenggam pulpen warna-warni untuk sekedar mewarnai kertas file ? belajar adalah menerjang keadaan saja. Diam dan meresapi apa yangkita lewati untuk tau apa yang harus kita lakukan setelah itu. Itula belajar !

Kota ini..kecil..tak seberapa luas dari imajinasiku. Tak cukup lebar untukku ketika perlu sembunyi untuk menutupi jati diri. Yang sesungguhnya sudah lama hilang. Kota ini..hanyalah metropolitan yang mati rasa. Ia menyimpan pesonanya dengan begitu cerdasnya sampai-sampai aku harus memutar otak untuk sekedar menyelinap diantara pesonanya.

Aku belajar dewasa dengan keadaanku yang menginginkan masa muda yang lebih lama. Bukankah yang tua belum tentu dewasa ? hanya sedikit pengalaman. Saya ingin terjebak dalam masa lalu saja. Kenapa mesti maju untuk masa depan ? Entahlah..saya tak tau harus bagaimana.

Di kota ini banyak sekali binatang. Tidak reptil,tidak tarantula,tidak amfibi,tidak melata. Mereka semua tersenyum dengan lebarnya. Mereka membawa barang sejuta umat demi menunjang kegaulan mereka yang saya bilang ‘pisang’ . Mereka menggunakan ‘penangkal peti’ pada gigi-gigi mereka, mereka menyebul asap-asap diudara yang membuat uadara jadi panas, mereka membawa mesin-mesin baja yang berjalan kencang, dan mereka menyisir rambutnya sama rata. Mereka seperti kera.

Mereka semua berlagak seperti manusia. Mereka semua ingin menjadi manusia. Tapi mereka hanya mampu menggoyang-goyang buntut saja, memamerkan pisang yang mereka genggam kemana-mana. Mereka mencoba berjalan setegak mungkin,tetapi mereka membungkuk sebentar untuk menutupi wajah keranya. Mereka semua berkutu sampai-sampai banyak orang takut terkena kutunya. Tertular kelakuan kera. Binatang yang selalu ingin menyerupai manusia tetapi tak mampu menyembunyikan kelakuan kera yang melekat pada diri mereka.

Ibuku sesekali menelponku untuk mengetahui sekedar kabar. Aku bilang aku ingin pulang tapi ibu tak pernah menginginkan. Aku bilang disini banyak kera ! kata ibuku aku hanya mati dalam imajinasiku saja. Ibu tak peduli.

Kera-kera itu semakin lama semakin liar. Mereka hidup dimalam hari hanya untuk sekedar bernyanyi,menampilkan pakaian-pakaian terbaik mereka, dan menjadi pusat jagadraya. Maksudku kera pusat jagatraya. Aku mereka ajak bergaul dengan teman-teman kera. Awalnya pembicaraan mereka terdengar seperti berteriak-teriak,namun ahir-ahir ini suara mereka terdengar lebih bagus lagi.

Lama sudah aku di kota ini. Suatu saat aku berjalan disuatu pusat perbelanjaan. Sebuah potongan harga membuat saya harus datang walau hanya sekedar buat absen. Sepati hak tinggi,gincu merah,parfum semuanya membuat saya gila. Ada sebuag gaun warna coklat terang tergantung disana. Kaki ini melangkah dan memakaikannya pada badan saya. Saya bercermin. Alangkah terkejutnya saya ketika melihat seekor kera berada didepan hadapan saya. Memandang lurus dan sama kagetnya. Saya sadar. Saya sudah menjadi kera lainnya. Binatang yang selalu ingin menyerupai manusia tetapi tak mampu menyembunyikan kelakuan kera yang melekat pada diri mereka.