Minggu, 10 Juli 2011

Empat sisi

               Saya memiliki rumah sederhana. Tidak bukan rumah. Hanya sebuah bangunan menyerupai rumah tapi hanya ruangan saja. Ruangan 4 sisi biasa saja. Ruangan yang hanya terdiri dari kaca besar menghiasi tiga sisinya dan sebuah tembok bata disisi lainnya yang tertempel daun pintu. Rumah itu sungguh sederana. Tak ada lekukan lain selain sisi-sisinya saja. Ruangan itu hanya berisikan sebuah sofa besar yang nyaman. Sofa warna coklat yang biasa dibuat duduk dan memanjakan pundak penggunanya untuk sekedar duduk berlama-lama disana.
Saya suka menghabiskan hari demi hari saya henya dengan sekedar duduk disana memperhatikan pemandangan. Ketiga sisi kaca ruangan saya selalu menyajikan kisah-kisah yang begitu menggugah hati untuk selalu memperhatikannya. Setiap kacanya memungkinkan saya untuk melihat keluar dan memperhatikan keadaan diluar tanpa perlu cemas orang lain akan melihat kedalam bangunan sederhana kepunyaan saya ini.
Sore ini seperti biasa saya duduk-duduk di sofa coklat saya. Memperhatikan kaca paling kanan diruangan saya itu. Saya melihat seorang perempuan disana. Ia sendirian bingung dan tampak galau. Kulitnya kuning langsat. Cantik dan manis. Ia duduk dan terus melihat kekanan dan kekiri. Terus mencari sesuatu yang tidak diketahui. Ia tampak sendiri. Maksudnya dalam arti yang tidak sebenarnya. Ia merasa sendirian ketika ia tau berada ditengah-tengah orang banyak. Saat ku melihat dan menembus mata kecilnya itu, aku dapat melihat pergerakan cepat memutar kekanan dan kekiri bola matanya yang hitam. Ia benar-benar tak tenang sekarang. Ia berdiri dan duduk. Ia berjalan dan kembali berhenti lalu duduk. Ia seperti mau melangkah..ia tau ia mampu melangkah..tapi saat ia memulai langkahnya seperti berat rasa kaki dan lemas semua terasa yang memaksa dia harus kembali dan berhenti. Hanya menunggu. Entah menunggu apa.
Aku melihat sisi paling kiri dari ruangan bersisi kaca milikku itu. Aku melihat lelaki tinggi tegap berdiri disana. Dengan kumis tipis dan baju rapih. Menggunakan dasi dengan warna senada dan jaket yang terlihat sedikit formal. Ia terus melihat jam tangannya. Apakah ia menanti sesuatu ? apakah ia terlambat ? ataukah orang yang ia nanti terlambat ? entahlah. Siapa saya..saya hanya bisa menerka-nerka penglihatan saya. Tapi saya bisa lihat ia gelisah. Ia berdiri lalu duduk. Melihat kejam tangannya. Melihat sekelilingnya. Berdiri lalu duduk. Melihat jam tangannya. Terus saja ia ulangi. Ya…sekarang saya yakin kalau dia sedang gelisah.
Aku berpaling dari sisi kiriku itu. Aku memandangi sisi tengahku. Yang aku lihat adalah sekelompok anak-anak kecil yang bernyanyi dalam sebuah paduan suara. Mereka menggunakan pakaian yang bermacam-macam seperti merayakan hallowin. Ada yang menjadi dakula, ada yang menjadi penyihir, ada yang menjadi peramal, ada yang jadi srigala, ada yang jadi frankenstain, tetapi anehnya ada anak yang memilih menjadi seorang bu kartini. Mereka semua berbeda-beda. Pasti bingar sekali berada disana. Ditengah anak-anak kecil berbagai rupa yang menyanyi teriak-teriakan. Walaupun saya sendiri tak mendengar suara mereka dari balik sisi kaca saya. Saya hanya melihat sekelompok berisik meminta permen dengan cara menyanyi. Tapi entahlah, mereka tampak harmonis. Ada yang berperan jahat. Ada yang berperan aneh. Ada yang bermuka dua. Ada yang berperan baik, atau mungkin sok baik. Ada yang berperan bodoh. Tapi mereka semua bisa berdiri berjajaran tanpa saling sikut dipanggung. Padahal atribut mereka terlihat menyusahkan teman sebelahnya. Tapi entahlah, aku tidak peduli. Sama seperti perempuan tadi. Sama seperti laki-laki tadi.
Dan kini hatiku terketuk lagi melihat sisi kananku. Melihat perempuan tadi. Ia masih melakukan rutinitas yang sama. Berdiri dan duduk. Berjalan lalu kembali. Ia tak memiliki pendirian. Ia melihat kesegala arah dan seperti berfikir keras. Dan melakukannya lagi. Kenapa dia aneh sekali ? heeeii bergerak ! klo kamu terus disitu diam aja dan takut jalan kamu bakal terus jadi orang aneh ! aku melihat ia mengeluarkan sebuah surat dari tasnya. Melihatnya dan berbinar. Ia membuatku tak mengerti. Ia hanya melakukan rutinitas yang aneh. Lalu tak seberapa lama ia pergi meninggalkan suratnya disana. Pergi meninggalkan bangku taman tadi.
Aku sedikit tertidur. Sofa coklatku ini memang luarbiasa nyamannya. Aku kini teringat dengan laki-laki disisi kiri kacaku. Ia masih disana. Kini kulihat dasi yang tadinya rapih sudah mengendur ikatannya. Jaket yang rapih sudah ditanggalkan dari badannya. Baju yang tertata rapi keluar berantakan. Lama pasti. Sampai ia jadi begitu berbeda. Dia masih melihat jam dan melihat sekitar. Pasti yang dinanti belum datang juga. Kenapa dia bisa sabar ? dasar bodoh ! kamu memiliki sebuah jam ditangan kirimu. Tapi kamu hanya membuang waktu menunggu yang tak pasti. Tak seberapa lama ia berdiri dari bangkunya itu. Terlihat ia menarik nafas panjang sekali. Lalu pergi meninggalkan tempat itu dengan langkah yang berat. Meninggalkan semua yang telah ia lalui tadi.
Disisi tengah ruanganku aku melihat anak-anak helowin tadi masih menyanyi. Bedanya sekarang mereka mendapatkan lebih banyak coklat pada keranjang makanan mereka. Tak seberapa lama merekapun selesai menyanyi. Dan beberapa diantaranya mengemasi hasil coklat pendapatan mereka. Terlihat akur sekali. Padahal make up mereka harusnya menakuti satu sama lain. Tak seberapa lama angin kencang menghembus. Menerbangkan sebuah surat. Seorang drakula mengambil dan membacanya. Ia menunjukkan kertas surat itu keteman-temannya. Satu sama lain tak saling mengerti. Dan ahirnya drakula kecil itupun melepas kertas surat itu dan terbang mendekat sisi kacaku. Merekapun pulang. Mengitari sisi sebelah kanan yang membelakangi sisi sebelah kiri. Dan yang lain melewati sisi kiri yang juga membelakangi sisi kanan.
Aku mengamati semua. Ketiga sisi dari kaca rumahku. Membiarkan semuanya pergi satu persatu. Lalu aku mendekat ke sisi tengah dimana surat itu jatuh. Tak terlalu jauh dan aku bisa membacanya. Isinya hanyalah kalimat pendek saja. “aku nunggu kamu, tapi kamu ga pernah datang. Sudah cukup semuanya”. Aku pun menghela nafas panjang. Bangkit dari sofa coklat nyamanku dan pergi meninggalkan rumah sederhanaku itu.
Ketiga sisi kaca rumahku memberikan cerita yang berbeda. Namun bisa terangkai menjadi satu jika keadaannya benar. Tapi entah mengapa semuanya hanya diam tanpa memberi jalan masing-masing terangkai menjadi satu. Andai aku bisa berbagi kursiku agar kalian melihat sisi yang tak terlihat. Dan membuat semua ceritanya menjadi benar. 

Jumat, 01 Juli 2011

feromon

       Sedah dua tahun sendiri. Terjebak dalam gencatan keinginan antara mampu menghadapi hidup sendiri atau harus berdua. Aduh terkadang setatus itu dijunjung dan diagungkan kayak ga ada yang lebih penting buat dibahas dan dikomentarin. “hai…sekarang pacarnya sapa ?” “hai..sekarang sama siapa ?” “hai….lalalala” halah CUIH ! apa sih yang manis dari hubungan percintaan ? realitanya ya juga cuma kayak berjongkok mengejan dikamar mandi..tak lebih melegakan dari pada itu
          Namaku adalah Monika. Beberapa kali orang memanggil saya cantik. Maka saya bisa mengambil kesimpulan bahwa ya tidak jelek-jelek banget saya ini. Saya adalah gadis keturunan jawa tulen. Tetapi kulit putih saya dan kelopak mata saya yang kecil membuat orang menyimpulkan saya adalah masih “keturunan” padahal sumpah saya jawa tulen. Ditambah perawakan saya  yang kecil ini aduh, sumpah saya memang jawa tulen. Rambut saya dulu pernah saya potong pendek, tetapi itu dulu ketika saya masih berusia 12 tahun karena tertular kutu oleh teman sekelas. B*ngs*t. Sekarang selebihnya rambut saya tak pernah lebih pendek dari dada saya.
          Umur saya sekarang 18 tahun. Muda, cantik, bersemangat, antusias, memiliki banyak mimpi. Saya mengikuti sebuah kelompok pecinta alam. Disanalah saya menemukan Banyu. Seorang yang menarik hati saya. dan saya rasa diapun begitu. Tertarik pada saya. Atau mungkin awalnya. Atau mungkin hanya perasaanku dan harapanku saja. Dia memiliki kulit yang sama putih denganku. Bertubuh tegap dan tinggi. Aku begitu terpesona olehnya. Semuanya begitu menyenangkan. Melihatnya saja aku sudah bisa senang membayangkan berada didekapannya. Oh hangatnya pasti.
         Awalnya kami hanya bertegur sapa selayaknya seorang anggota. Ya hanya bertegur sapa. Mencintainya membuat saya menjadi begitu puitis. Banyak bahasa planet yang keluar dari percakapan kita berdua. Sejujurnya aku bahkan tak pernah tertarink dengan yang orang bilang kesusastraan. Omong kosong. Tapi setelah sama dia….aaahhhhhhhh bunga layu pun bisa menjadi lagu cinta yang luar biasa merdu. Kata-katanya begitu bertutur kata dan tertata indah. Senyumnya yang biasa dan wajar saja membuat saya begitu…aaahhh entahlah. Aku suka dia.
         Enam bulan hubungan kita bersama. Maaf ??? hubungan kita ?? garis bawahi kata itu. Karena yang ada cumin “enam bulan kita bersama”. Karena yang ada cuma rasa yang ada dibalik pesan ponsel saja. Tak pernah ada rasa yang terungkap menjadi begitu realita. Tak pernah ada. Ia hanya menjadi begitu indah. Atau harusnya aku sadar kalau dia begitu indah dalam mimpiku saja. Tak pernah ada yang harus dilebih-lebihkan atau dikurang-kurangkan.
        Aku melihatnya setiap hari. Tapi rasa yang dulu menggebu itu tak pernah ada lagi. Disadari atau tidak, dia adalah seorang lelaki yang akan dengan senang hati untuk menggandeng seorang lelaki menaiki anak tangga ketimbang ketimbang menunggu seorang perempuan menaiki gunung Bromo. Saya sudah lonjat. Tetapi dia lebih memilih untuk tiarap. Saya sudah berlari jauuuuuh. Tetapi dia masih menunggu diam saja.
Perasaan yang dulu menggebu itu seperti loncat dari jetkoster dan lupa membawa parasut. Saya terjungkur dengan hati patah. Dan dia hanya dapat aku lihat pergi membelakangiku. Berjalan. Menggandeng. Menjauh. Dengan seorang peria yang setahun dua tahun lebih muda darinya.
Aku kalah. Aku kalah. Dan aku dikalahkan. Bukan oleh seorang perempuan cantik jelita yang luarbiasa cantik atau luar biasa pintar atau luarbisa kaya. Bukan. Tetapi oleh seorang lelaki tampan. Cuma lelaki tampan yang tak pernah lebih dari seorang perempuan cantik atau perempuan pintar atau bahkan perempuan yang luarbiasa kaya. Bukan. Perasaan sukaku dulu yang terbang-terbang seperti kupu-kupu menari diatas taman bunga berirama riang sekali tak pernah lebih dan tak pernah kurang dari sebuah lelucon belaka.
Perlahan-lahan perasaan tertatih itu aku bangun berdiri dengan fondasi sebisanya saja. Perlahan pergi menjauh dari keadaan yang ada saja. Selama bisa kusembuhkan sakitku sendiri aku bakal coba sendiri. Bukan meminta dan mengemis. Satus saya adalah sendiri.
Umur saya adalah 19 tahun. Saya masilah Monika yang seperti dulu. Yang membedakan adalah pemikiran yang lebih matang. Satu tahun membuat setiap orang menjadi lebih matang. Walau sejujurnya saya merasa lebih baik menjadi bocah saja. Saya masih Monika yang jawa tulen walau banyak orang yang tak percaya denganku. Saya masih seorang yang setahun lalu. Sama saja. Tak ada yang lebih berubah.
Saya selalu menyukai kesenian daerah. Menarik buat saya. Dan entah apa yang ada dipemikiran saya saat itu, saya mau saja menonton sebuah pertunjukan drama kampus yang bercorak humor. Acara tersebut berlatar belakang jawa, padahal sejujurnya sekalipun saya jawa tulen pengetahuan saya akan bahasa daerah Cuma enam saja. Jadi ya waktu nonton acara itu ya saya hanya diam dan tertawa seperlunya ketika saya tau artinya apaan. Dan sejujurnya saya hanya mengerti kalimat-kalimat makian dan kata-kata jorok saja. Karena ya memang kata-kata macam itu yang paling nancep dalam otak walaupun cuma dalam sekali belajar.
Disana diacara itu dimana saya hanya lebih sering duduk berfikir mencerna kata-kata, saya bertemu dengan dia. Manan. Seorang lelaki yang ganteng berkulit kuning dengan mata indah. Lebih berparas jawa. Dan saya tau dia pasti seorang jawa. Karena aku bisa melihat tawa jenakanya dalam pertunjukan itu. Lelaki yang lucu. Aku jadi tertawa. Bukan karena acara itu. Bukan. Saya bahkan tidak mengerti. Tetapi dia. Hahahahaa manis sekali. Selepas acara itu sudah berlalu begitu saja malam lucu yang aneh itu.
Suatu saat. Ketika tugas kuliah begitu membabi buta minta dijamahi saya hanya berhadapan pada computer jinjing saya saja seharian. Leti dan lelah itu pasti. Tapi perasaan yang lebih pasi adalah muak. Saat itu pula bergegas saya membuka situs jejaring yang saya harap bisa menghibur saya semenit dua menit. Tombol enter tertekan dengan begitu dinamis seiring kerja otakku yang melirik setiap pojok jendela layar komputer jinjingku itu. Berharap ada tanda bintang dimana-mana. Lalu nama itupun ada disana. Daftar orang yang mengantri menjadi temanku. Ya dia “Agus Manan”. Nama jawa yang lucu dan retro sekali.
Pesan dinding melayang setiap harinya. Membuat jejaring itu terasa tak hanya berwarna biru. Tetapi bisa jadi merah jambu, bisa jadi hijau toska, bisa jadi biru muda, bisa jadi ungu cerah, bisa jadi semua warna. Dia memang lucu sekali. Mas Manan. Hanya pesan sebaris dua baris kata saja saya bisa membayangkan ia tertawa lebar melihat ketropak humor. Intinya dia lucu sekali.
Rasa itu jadi menggebu setiap harinya. Beberapa kali kita meluangkan waktu hanya untuk sekedar meminum kopi atau makan bareng. Menjalin hubungan dengannya seperti memiliki investasi masa depan. Selalu ada keterkaitan disetiap perbincangan, selalu ada relasi dalam diskusi, selalu ada rasa yang terbang-terbangan. Dia begitu lucu.
Suatu saat ketika dirasa tepat baginya, ia menyatakan kata-kata fantastis yang juga dramatis buatku. “sayang kamu” . entahlah untung aku ga semaput karena semua serasa menari di lapangan rerumput ungu ditemani pelangi semua warna dengan berlari bersama baju berkain satin merah jambu. Oh sungguh dunia hayalan tingkat dewa. Luarbiasa.
Setelah tujuh hari hubungan kita berlalu, siang itu ia mengajak aku pergi makan siang bersama. Ia menunggu didepan rumah dengan baju warna hitam kesukaannya. Duduk diatas motor besarnya dengan tampannya. Lalu kami pun bertamasya. Tak terasa hari hampir sampai tengah hari di haru jumat. Ia hanya duduk didepanku menatap aku. Saat itu aku tersadar. Ia bukanlah laki-laki yang benar buatku. Azan siang itu tidak memanggilnya. Ia adalah seorang kristiani yang taat dan aku adalah seorang muslim. Tujuh hari aku menjadi kekasihnya tetapi sesuatu yang paling perinsip begitu mudah luput. Aku menghela nafas sesak yang ada.
Melihatnya membuat sakit membayangkan jalan yang ditempuh pasti beda. Ga ada lagi lapangan warna warni, baju manis, menari dihalaman, kupu-kupu yang berterbangan, pelangi, atau berlarian dihalaman. Yang ada cuma lapangan sepak bola becek, yang ada cuma baju tua peninggalan yang debuan, yang ada cuma tarian hula-hula pemanggil setan, yang ada cuma ulat hama yang ga mampu jadi kupu-kupu, yang ada cuma hujan yang ga reda-reda yang ga bisa nyiptain pelangi, yang ada cuma lucu menertawai diri sendiri. Mana mungkin hitam bergabung dengan putih ? mana ada putih tua ? mana ada hitam muda ? intinya……tidak mungkin.
Itu adalah saat terahir aku bertemu dengannya. Saat yang gak pernah terfikirkan sebelumnya sebelum aku permimpi yang indah-indah. Saat yang gak pernah…..ah tak pernah terbayang akan selucu itu.  *(T.T)

****
Lama sudah Mon sendiri. Tak pernah lagi ia menghitung berapa umurnya. Tak pernah beminat sedikit pun bermimpi muluk atau indah-indah. Yang ia tahu kini ia matang dan dewasa. Yang ia tau ia siap untuk siapapun yang siap menjajal perasaan dengannya.
Suatu saat dihari yang cerah di perkuliahan yang padat datanglas seorang Fero. Teman dari teman sekelas Mon. Dia memiliki postur tubuh tinggi dengan perawakan sedikit kurus dengan potongan rambut pendek. Mon sama sekali tidak memperhatikan orang itu yang hanya terlihat dari belakang. “Kenalin Mon temen gw, dulu waktu SMA sekelas”, kata temen Mon. Orang itu pun membalik badannya dan menjabat tangan Mon, “Fero” sapanya dengan senyum dipipi.
Begitulah perkenalan mereka. Mereka hanya berteman saja. Selayaknya pertemanan itu perlu. Sejauh pertemanan itu perlu. Hanya saja Mon tak pernah memperhatikan Fero sejauh ia inginkinkan. Suatu saat Fero lama tak terlihat dari permukaan. Tiba-tiba kamar Mon terketuk lembut dari luar. Dengan tertatih Mon membuka gagang pintu yang terasa dingin ditangannya. Diluar berdirilah Fero membawa sekotak coklat
”darah rendahnya kambuh ya”
“Dari mana kamu tau aku darah rendah ?”
“dari kamu…ga sadar pernah bilang ?”
“yampun senyimak itu ya….makasih loh coklatnya….”
Dan begitulah. Semuapun berjalan dengan adanya. Mon begitu menikmati pertemannya. Dan begitu saja. Mereka saling menyimak sejak saa itu.
Fero dapat mendaki gunung tinggi dengan mendorong Mon maju. Fero bisa memainkan lagu-lagu agar Mon bisa berdendang dengannya. Fero besa menjadi begitu lucu dan membuat Mon tertawa terbahak-bahak. Ia bisa melakukan banyak hal bersama. Menyenangkan berdua saja. Tak pernah ada perbedaan jalan. Tak ada awal yang dimulai dengan rencana yang disengaja. Semua begitu saja terjadi. Tak pernah ada perbedaan.
“Mon…kamu tau apa itu feromon ?”
“nama kamu sama nama aku…fero..mon…”
“bukan.”
“apa ?”
“itu adalah zat yang dimiliki mahluk hidup untuk tertarik sama lawan jenisnya”
“lalu…..”
“lalu kenapa kita tidak memilikinya.”
****
Orang itu pun membalik badannya dan menjabat tangan Mon, “Fero” sapanya dengan senyum dipipi. “Feronica”.