Jumat, 14 Desember 2012

Pasukan baret merah solo



Langit mulai senja siiring dengan panas badanku dihari pertama tinggal di sini. Tak pernah aku kenal sebelumnya..sungguh...ini kota apa ? tak pernah tuh diperhatikan sebelumnya kalau-kalau liat peta waktu masuh berseraham putih abu-abu apa putih biru. Saya tak pernah minta tinggal disini. Keadaan yang memaksa saya untuk bertemu gerbang kota ini kemarin. Meninggalkan kehidupan kota Jakarta yang macet dan orangnya berbicara lantang-lantang. Disini...semua orang berbicara pelan-pelan merunduk-merunduk dan senyum-senyum. Bahkan tukang becak pun bisanya cuma ngomong “monggo”.
Saya adalah Voca. Saya sedang sakit panas. Saya baru pindah. Mungkin ketiga kalimat tadi kalau digabung bisa menjadi seperti ini kira-kira,”saya belum siap pindah”. Saya harus pindah karena bapak saya yang tadinya kaya raya itu, yang tadinya ada empat mobil digarasi, yang tadinya rumahnya dua lantai, yang tadinya halaman rumahnya ada pohon mangganya, kini lagi dibalik jadi yang alhamdulilah punya punya rumah. Memang mungkin yang namanya kehidupan itu adalah sejenis permainan ular tangga. Yang kalau kena tangga bisa naik menanjak, yang kalau kena uler bisa jatuh tersungkur. Yah terserah aja sama kocokan dadu yang keluar maunya angka berapa.
Ini adalah kota Solo. Adalah kota Surakarta. Jangan tanya apa bedanya karena ya saya juga tidak tau. Kota ini hening, tenang, dan sedikit panas. Menyenangkan karena semua orang “monggo-monggo”, tidak menyenangkan karena saya harus belajar bahasa “monggo-monggo”. Panas kota ini yang mengiringi panas badanku seperti bersatu didalam kepala. Masih belum bisa keluar.
Saya adalah Voca. Saya baru pindah. Dan saya....belum menemukan kenapa saya harus menerima perpindahan ini, bukan hanya menerima kemiskinan ini. Tapi menerima apa alasan saya untuk jatuh cinta pada kota ini sebagaimana saya jatuh cinta pada monas dan mall-mall besar di Jakarta.

***
Lama sekali Voca harus menerima keadaannya atas perpindahannya. Kini setelah seminggu sakit panasnya hilang, dia bisa mulai berteman dengan panasnya kota Solo. Seminggu yang dia lalui dengan panasnya itu membuat Voca benar-benar tak memiliki teman. Atau mungkin hanya belum saja. Dia itu cantik, dia itu pintar, dia itu mudah berkawan. Mungkin hanya saja dia belum bisa dengan mahir bahasa “monggo-monggo”. Dia yang anak baru memang belum tau mau jadi apa dan harus bagaimana di kota itu.
Suatu hari ketika dia berjalan di jalan arteri kota Solo, di minggu pagi yang cerah, ketika semua orang membawa apa saja ke jalan itu sambil berolahraga atau sekedar jalan kece saja. Ada yang membawa sepeda, ada yang membawa sekuter, ada yang membawa raket bulutangkis, ada yang membawa bola, ada yang membawa anjing, bahkan yang lebih absurt lagi ada yang membawa ular sanca. Voca benar-benar baru tahu, selain manusia semua jenis mahluk pun ikut berpartisipasi dalam acara minggu pagi itu.
Ia menyusuri jalan yang panjang. Pelan....sebuah nada bermain di pendengarannya. Merdu, unik, dan menenangkan jiwa. “gundul..gundul pacul cul...gembelengaaaan...” serentak Voca lari mendekat. Ia berdiri didepan mereka. Sekelompok pemuda pemudi bernyani dengan ciamiknya. Menari kekanan kekiri. Dengan pakaian kebaya warna orange dan kain jarik yang diikat seadanya untuk perempuan dan baju sorjan serta celana komprang warna hitam. Benar-benar ciamik sekali. Solo Paduan Suara. “sak lataaaaaarrr.......” lagu itu pun selesai juga. Dan benar-benar menarik hati Voca. Tak pernah ia sejatuh cinta itu pada tatapan pertamanya. Pada pertemua pertamanya. Ia mencintai kesenian ini. Paduan suara.
Dengan semangat dan antusias Voca memiliki alasan untuk mencintai kota Solo. Ia menemukan sesuatu yang tak ia temukan sebelumnya. Dia mencari berbagai cara agar ia bisa menjadi bagian dan tontonannya kemarin. Ia berusaha dengan sekuat tenaganya mencintai apa yang ia lihat kemarin, dengan matanya...dengan telinganya..

***
Ketika bernyanyi bukan hanya sekedar apa yang mampu saya dengar, tetapi juga denga apa yang saya lihat, dan apa yang saya rasakan, sejak itu pula saya jatuh cinta pada paduan suara. Dan Solo Paduan Suara inilah yang benar-benar memberikan alasan saya menyukai kota Solo ini juga. Ya saya mau tinggal disini, dan saya bahagia disini.
Sebulan sudah saya bergabunng dengan paduan suara ini. Rasanya baru kemarin saya melihat mereka bernyanyi. Kini belajar notasi-notasi ini jadi makanan sehari-hari. Memahami bahasa “monggo-monggo” yang awalnya sedikit aneh. Dan semua kini ga bau-abu lagi di pendengaranku. Sering ku mendengar lagu ini sebenarnya. “Gundul gundul pacul” tetapi tanpa aransemen semacam ini. dan baru aku mengerti apa arti lagu anak-anak ini yang awalnya saya pikir hanya lagu mainan ank-anak saja. Ternyata setelah ditelaah artinya penuh dengan sindiran kepada yang mpunya yang rakus membuat “segonya dadi sak latar” hahahahaa.....tawaku sambil mengingat-ingat masa kejayaan bapak yang punya empat mobil digarasi, yang tadinya rumahnya dua lantai, yang tadinya halaman rumahnya ada pohon mangganya, kini lagi dibalik jadi yang alhamdulilah punya punya rumah.

***
Setahun sudah Voca berada di kota barunya. Tak pernah terasa sekarang. Dengan kesenian bernyanyinya pada paduan suara yang dimilikinya sekarang rasanya seperti semua itu terdengan bermelodi. Menyenangkan. Solo Paduan Suara memang merupakan paduan suara yang bagus. Banyak yang sudah mendengar kehebatannya. Tetapi, mereka hanya sekumpulan pemuda pemudi yang bernyanyi, bukan sekumpulan orang kaya yang bernyanyi. Setiap kali mereka bernyanyi dan pentas, merela selalu mencari cara menjual diri dengan bernyanyi untuk mendapatkan rupiah demi rupiah untuk sekedar membeli semeter dua meter kain buat dijait baru. Semua pencarian itu tak terasa menyusahkan, selama mereka bisa bernyanyi dan bisa melantunkan kesenian kesemua orang semua terasa sangat  menyenangkan.
Suatu ketika, ketika sebuah ajang paduan suara bertingkat Internasional mengirimkan undangan mengikuti perlombaan untuk Solo Paduan Suara. Cina, perlombaan itu diadakan di negara Cina. Negara yang mereka liat hanya lewat tayangan tv saja. Voca hanya terdiam melihati undangan itu. Ingin sekali ia menerbangkan semua pasukan Solo Paduan Suaranya terbang ke negara itu. Mencoba peruntungan mereka menyanyikan lagu jawanya. Lagu daerahnya. Tapi,......dengan apa ? mana mungkin ia bisa menerbangkan dua puluh lima penyanyi dengan seorang kondakter terbang melintasi laut kenegara yang awalnya hanya ia lihat di tv saja.
Dengan bulatnya tekat, mereka hanya  mencoba peruntungan mereka. Setiap hari mereka berlati sepulang sekolah. Dari jam empar sore sampai langin sudah tidak biru lagi. Mereka terus berlatih. Dan pada ahir pekan mereka berputar-putar mengelilingi kota dengan sekotak kotak amal bernyanyi untuk rupiah rupiah yang mereka kumpulkan untuk lomba. Dengan semua sumbangan itu mereka berharap sisa waktu yang mereka miliki cukup untuk terbang ke Cina mengikuti lomba paduan suara tingkat Internasional itu. Setiap seribu dua ribu adalah pundi-pundi pengumpulan dana untuk mereka.
Mereka mencoba memasukkan proposal-proposal donatur ke berbagai tempat. Bahkan intansi kesenian yang memiliki label “pegawai negri”. Tapi entah mengapa lantunan nada-nada berbahasa “monggo-monggo” yang katanya kesenian Indonesia itu tidak dilirik oleh mereka. Voca hanya bisa membesarkan diri dan terus memberikan semangat kepada teman-temannya. Berusaha seakan-akan semua akan lebih baik untuk mereka yang memiliki niatan mengumandangkan nyanyian-nyanyian mereka kemata dunia.

***
Saya tak pernah putus asa. Saya mencintai paduan suara sejak saya melihatnya. Dan saya berharap ada orang lain yang juga jatuh cinta pada kami sejak mendengarkan kami. Saya percaya kalau tuhan memiliki sentuhan terahir untuk setiap jeri payah umatnya. Setiap nyi-nyiran orang-orang yang menolak membuka proposal kami, yah semoga saja mereka bisa melihat ga cuma dengan mata, tapi juga dengan hati dan telinga.
Setiap detik menuju besok hanya membuat saya menjadi lebih deg-degani apakah saya ini hanya memberikan pengharapan palsu kepada Solo Paduan Suara. Apakah salah saya yang bukan asli Solo ini ingin membawa nama kota Solo yang jarang diingat orang ini terbang ke negara Cina, dikenal khalayak Internasional ? saya hanya mencintai paduan suara. Dan saya harap akan lebih banyak yang mencintai apa yang saya cintai sekarang.

***
Tinggal dua bulan lagi. Dan pundi-pundi keuangan Solo Paduan Suara masih jauh dari sekedar cukup. Mereka terus bekerja keras mencari setiap rupiah yang mungkin didapatkkan untuk membawa mereka terbang ke Cina. Untuk membawa kota Solo terbang ke Cina. Untuk membawa Indonesia terbang ke Cina. Dengan setiap tetesan air mata selepas solat malam. Dengan setiap tetesan air mata selepas kontak doa. Dengan semua perbedaan dan semua tujuan yang sama tak pernah berhenti Solo Paduan Suara berdoa.
Seatu saat ketika Solo Paduan Suara sedang mengamen di pasar malam Ngarsopuro kota Solo, ketika mereka dengan semangat menyanyi melantunkan nada demi nada....

***
“Nyunggi...nyunggi wakul kul..gembelengan..wakul nglimpang sengone ndadi sak latar...” kunyanyikan lagu itu ketika tiba-tiba ada seorang berpakaian safari dengan begitu banyak ajudan menepuk pundakku.
“Sapa yang bertanggung jawab sama kelompok seni ini dek ?”
“Sayak pak...”
“lanjutkan dulu nyanyinya....”
Saya tak mengerti dan melanjutkan saja nyanyian kami. Tak mengerti dengan siapa laki-laki dengan baju safari itu. Dan hendak apa dia.
Setelah selesai satu lagu itu kunyanyikan, kembali ku bertemu dengan laki-laki dengan baju safari itu.
“iyah pak ada apa ya pak ?”
“saya suka loh sama paduan suaramu itu..sudah saya perhatikan beberapa minggu kemarin”
“oh ya pak ? wah terima kasih...”
“mau lomba to mbak ke Cina?”
“iya pak...insaallah...tapi nggak tau pak..masih banyak nol nya pak ditabungan kami yang kurang”
“ha..ha..ha..semangat ya mba...ini saya paringi..”
“oh iya pak trimakasi banyak yah pak....”
Kuambil sebuah kotak yang laki-laki itu berikan seiring kepergiannya menyusuri pasar malam. Tak berfikir apa yang ada didalam kota itu. Kami hanya melanjutkan menyanyi lagi dipasar malam itu. Seorang ajudan berpakaian rapi menghampiri saya dan berkata pelan sekali,”mba..sudah pulang saja..minggu depan ngamennya dilanjut lagi”. Saya tk mengerti. Benar-benar tak mengerti. Setelah selesai lagu terahir, saya bubarkan teman-teman sayang di pasar malam itu.
Saya pulang bersama seorang kawan saya. Mas Bintang. Kita berboncengan pulang kerumah saya yang memang dekat dengan rumahnya. Saya mengajak dia mampir sebentar untuk mengintip apa yang ada didalam kotak. Kubuka pelan-pelan..deg-degan juga yah. Kulihat dari intipan itu terlihat kertas tersusun rapi. Kubuka perlahan lebih lebar. Betapa terkejutnya aku ketika melihat itu adalah tumpukan uang ! dan lebih kaget lagi ketika aku melihat itu adalah tumpukan uang dolar. Astaga ! saya benar-benar merasakan tangan tuhan berada dekat dengan saya dan Solo Paduan Suara sekarang. Air mata ini menetes. Tidak-tidak sudah bukan menetes lagi..tetapi mengalir dengan derasnya. Sangat deras.

***
Voca seperti mendapatkan durian runtuh. Membuat mimpi panjangnya bukan sekedar mimpi lagi sekarang. Dia sudah bangun untuk mewujudkannya. Menjadi sebuah kenyataan. Menjemput impiannya membawa kota Solo ke negri Cina dan membawa Indonesia di negri Cina. Semua persipan disiapkan dengan begitu ciamik membuat semua orang bersemangat. Cina didepan mata.
Semua air mata dan perjuangan terbayar ketika pesawat itu melesat ke sana. Membawa mimpi semua orang yang terwakili dan pengharapan yang tak kunjung padam membara. Perjuangan yang sesungguhnya baru saja dimulai. Mereka sampai di negara Cina. Disambut denga kelompok paduan suara dari berbagai negara. Dari yang berkulit hitam, dari yang berkulit putih, dari yang berkulit kuning, dari yang berkulit sawo matang, dari yang tinggi-tinggi, sampai yang pendek-pendek semua ada disana. Mereka pun sangat bersemangat.
Solo Paduan Suara mendapatkan penginapan yang jauh dari peserta lainnya. Jauh dari bagus, jauh dari lokasi lomba, jauh dari yang dibayangkan dari “jalan-jalan”. Mereka tidak sedang “jalan-jalan” masalahnya. Jadi dengan segala kekurangan paduan suara termiskin itu mereka sudah terbiasa. Terbiasa susah. Mereka berlatih di tempat parkir karena tidak mampu menyewa sebuag tempat latihan yang mahal untuk mereka. Tak apa, semua sudah lebih dari cukup untuk Voca.

***
Hari itu pun tiba. Hari lomba. Saya sudah memakai jarik yang dililit dibadan membentuk kemben dengan konde dan riasan. Beranting dan berkalung. Baru kali ini saya merasa sangat menjadi orang Jawa ketika saya sudah jauh dari pulau Jawa. Ketika lampu sorot itu menyorot pada kami, dan ribuan mata memandang dari berbagai negara, saya siap berjuang. “Gundul...gundul pacul cul..gembelengam..nyunggi nyunggi wakul..kul.. gembelengan...wakul nglimpang segone ndadi sak latar...eee..eyak ee” lagu gundul-gundul paculpun menggema di daratan Cina. Memecah keheningan. Kembali teringat ketika saya begitu jatuh cinta pada paduan suara lewat lagu ini. ketika saya menemukan jati diri apa yang harus saya lakukan kedepannya. Kami pun selesai menuntaskan misi budaya kami. Membuat pulau Jawa kini dikenal. Membawa kota Solo jalan-jalan ke negri Cina.
Kami tak berharap apapun...kami hanyak iklas karena misi kami sudah selesai. Melihat begitu banyak paduan suara bernyanyi dan memperkenalkan kesenian mereka. Sampai pada saat yang membuat kami bergandengan tangan membaca segala macam doa menyatukan hati dalam keiklasan. Pengumuman pun dimulai. Semua kategori dan penghargaan dibacakan. Dimulai dari brown mendali lalu dilanjutkan ke silver mendali. Dan masuk lah ke pembacaan gold mendali. Hati kami dag dig dug tak karuan. Nama Solo Paduan Suara tidak dipanggil-panggil. Kami seperti berharap akan sesuatu yang dirasa mustahil. Dan memang nama kami tidak dipanggil. Kami hanya tersenyum satu sama lain. Mengucap sukur sudah berada sejauh ini ke negara ini. “And Grand Champion is......Solo Paduan Suara !!!!!!” kami berpaling. Apa ! ini ga mimpi kan ! kami adalah juara umum ! pemenang dari pemenang !! aku berlari membawa bendera merah putih ke atas panggung. Menangis dan terus mengangis lebih deras. Pantas nama kami tidak dipanggil dipengumuman pemberian mendali, karena kami mendapatkan piala. Betapa terharu melihat bendera merah putih digantung di tengah panggung disaksikan ribuan pasang mata dari ratusan paduan suara yang berasal dari berbagai macam negara. Dan Indonesia raya pun dikumandangkan. Haru demi haru kami persembahkan kemenangan ini untuk kota Solo, dan Indonesia. Kami pulang dengan membawa sesuatu yang tak terpikirkan sebelumnya. Mimpi kami yang awalnya hanya sekedar mimpi anak kemarin sore.
Kami disambut disana. Di kota Solo. Dirumah saya. Dengan membawa gelar juara kami. Grand Champion folklore category. Mimpi ini tidak akan terwujud, sampai saya bangun dan membuatnya menjadi nyata. Kami adalah Solo Paduan Suara. Kami adalah pasukan baret merah kota Solo. Kami akan terus bernyanyi dan membuat semua orang jatuh cinta dengan kesenian kami. Paduan suara.


Selasa, 31 Juli 2012

SOSOK

ada sinar biru dibalik pantai. Membuat silau mata ketika aku sedang main dan bergulingan dengan pasir. Macam apa ini…ini belum sunja…dan ini sudah bukan lagi siang. Ini adalah panas pantai yg hanya hangat hangat kuku kurasa sampai di pahaku yang hanya tertutup rok pendek. Sinar biru itu mengikuti arah mata saya. Setiap saya melirik dikiri maka dia dengan jelas terlihat dikiri. Saat saya menoleh kekanan maka dia sudah menanti saya dikanan. Saat saya berpijak dia….dia seolah menempelkan hidung tak mancungnya pada hidungku yang mancung. Mungkin kata orang itu melengkapi. Kata saya itu bodoh. Bagaimana dia bisa menempel pada saya yang jelas ga ngenal sapa dia ???? ngek ngok ngek !!!!
“Biru…kamu ?” katanya menyodorkan tangan. Waw dia tampan ya. Saya harus bagaimana ya ? kayaknya saya suka..murahankah ? stay cool kah ? yang pasti gagap yang ga boleh keliatan. “saya Vertikal” jawabku menjulurkan tangan kananku padanya. Bagaimana saya bisa lupa tentang dia. Semua yang saya liat saat itu sudah terekam tak pernah mati seperti memori kamera yang saya telan mentah-mentah. Bibirnya yang berfolume, badannya yang putih tinggi dan tegap, lengannya yang berotot, dan rambutnya yang rapi. Ya ya ya saya suka dia.
Dia tak pernah berbicara lebih. Dia hanya berkata apa yang benar-benar dibutuhkan untuk dikatakan. Bukan apa yang ingin saya dengar. Itu yang membuat saya harus berfikir untuk mengerti dia. Atau dia yang berfikir bagaimana cara agar saya tak susah-susah berfikir yang tak perlu.
BIru datang setiap ahir pekan. Seperti moment yang selalu ditunggu keadaannya. Tapi saya selalu tau dia ada. Seperti senja biru yang selalu datang setiap sorenya. Yang membuat saya galau setengah mati ketika mendung menyerbak. Yang membuat saya bisa duduk berjam-jam di teras rumah untuk menikmatinya sendiri tanpa berbagi. Dan ketika malam sudah datang memeluk langit yang tadi kucinta aku hanya bisa berharap besok matahari tak terlampau lama menari dilangit agar aku bisa melihat senja biru yang bisa kunikmati sendiri lagi.
Saat itu saya harus pergi. Saat itu dia harus pergi. Membuat tak ada seminggu sekali Biru ku untuk datang. Saat itu ketika kita semua pergi. Ia datang dimuka pintu. Tak bicara sama sekali. Ia memang tak pernah berbicara apapun yang ingin aku dengar. Dia hanya mengungkapkan apa yang aku butuh. Dia hanya diam memandang. Saat aku mendekat padanya….ia memeluk dengan tangan kekarnya. Sakit memang didekap tangan tangan kuat itu, tapi aku hanya diam menikmati sesak nafasku dalam pelukannya. Bersender didada bidangnya. Meraba pinggangnya dan merangkulkan tanganku padanya. Kini aku hapal wangi tubuhnya. Dan aku akan sangat kenal itu. Seperti mencium bau senja biru seperti biasa yang aku lakukan. Tak kurasa senja biru sudah menempel pada sekujur tubuhku yang setauku cuma aku yang tau. Dibibirku bisa aku rasa angin mencium mesra menari didalam mulut dan berliuk liuk dimana mana. Oh senja…..jangan pergi dulu…saya belum siap menghadapi malam.
Biru pun pergi. Membawa separuh hati yang kutitipkan padanya. Aku pun pergi. Membawa separuh hati yang sengaja kuambil darinya. Kami pergi bersama gelisah yang diselipkan pada hubungan kami. Pada sayang yang ga bisa diungkap pada sekedar kata. Pada sayang yang ga bisa diungkapkan pada sekedar cium di pipi atau di bibir. Pada sayang yang meminta matahari turun lebih cepat dan malam datang lebih lambat.
Sepekan. Sudah sepekan saya menikmati curi curi waktu mencintai senja biru. Aku hanya bisa melampiaskan rasa yang ada pada udara yang berputar, pada langit yang biru, pada senja yang biru memancar di wajahku. Cantiknya dia. Aku harap ia melihat senja yang berwarna sama di setiap sorenya. Sama seperti aku sedang memandang langit sekarang. Aku menunggumu Biru.
Lama sudah. Rasa itu lama dan entah sudah berevolusi jadi apa. Entah telah menjadi inangkah ditubuhku ini. senja biru datang setiap sore. Tapi Biruku belum datang juga. Dimana dia berpijar ? aku butuh dari sekedar sosok Biru yang aku kenal hadir menemani aku yang vertikal.
Lama penantian terganti dengan senja yang datang lebih lama. Rasanya spesial. Rasanya istimewa. Rasanya….sejuta kata ga bisa berakrobat menjadi tulisan bahkan seorang Djenar pun ga mampu menggambarkan perasaan itu. 24 jam akan kuhabiskan hanya untuk melewati waktu dengan kedatangannya. Aku kangen pada dia yang spesial.
Aku duduk di depan rumahnya. Jam 2 siang. Agar aku bisa ajak dia menikmati senja biru yang biasanya aku nikmati sendiri. Kali ini, sekali dalam hidupku, aku ingin berbagi dengan seseorang. Aku menunggu ia keluar dan membuka pintu rumahnya. Tak perlu lebar, asalkan aku bisa melihat sosoknya yang aku hapal benar. Bibirnya yang bervolume, badannya yang putih tinggi dan tegap, lengannya yang berotot, rambutnya yang rapi, dan wangi tubuhnya yang aku hapal. Dan aku akan sangat kenal itu. Cepat keluar Biru…senja akan segera pergi.
Matahari mulai beralih, tapi Biru belum juga keluar. Dia…entah apa yang dilakukannya didalam sana..senja sudah datang dan aku menungmu diluar, tak dapat menikmatinya, tak dapat berbagi dengannya. Aku duduk diam melihat senja biru favoritku turun dan tak bisa berbagi dengan orang yang kutunggu lama. Lamaaaa sekali. Hingga malam datang menari dia belum kunjung datang. Kemada dia ??
Lama aku menunggu didepan rumahmu. Kau tak peduli. Lama aku menantimu. Takkah kau ingat itu ? lama kau memelukku. Adakah itu bermakna ? aku disini sendiri dengan segala kekuranganku. Dan menanti kelebihanmu untuk menutupi aku. Adakah kau mau membantu ?
Matahari sudah terik diatas kepalaku. Membuat keringat membrantakkan riasan wajah yang kemarin cantik dimukaku. Aku masih mengharap didepan rumahnya. Menanti Biru yang telah begitu menempel pada hidung mancungku yang selalu menutupi pandanganku. Adakah aku salah alamat ? atau dia yang memang tak sadar aku menunggu. Ini sudah jam 1 siang. Dan 24 jam hanya 24 jam dalam sehari. Tak bisa kutambah beberapa jam lagi. Ini detik demi detik menuju 24 yang terasa tak spesial dimatamu dan begitu spesial menurut hidupku.
Ini senja kedua yang aku lewatkan didepan rumahnya. Menanti pintu itu terbuka. Entah siapa yang membukanya. Aku hanya menunggunya terbuka saja. Agar aku bisa mencium secercah wangi senja biru yang begitu kurindukan.
Malam menjelma. Betapa aku tak tau kenapa lagi-lagi gagal berbagi senja dengan Biru. Aku mulai paham. Mungkin kini senja biru cuma jadi imajinasi khayalanku yang selalu cantik. Dan aku berpaling melawan arah. Aku lelah dan mau pulang. Sudah cukup lebih dari 24 jam menunggu didepan rumahmu. Cukup.
Terlihat cahaya di dalam gelapnya malam yang menari sendu. Cahaya panjang vertical dari dalam rumah. Cahaya yang tak pernah kukenal. Terbuka untukku. Atau entah untuk sapa dan untuk apa. Hanya terbuka saja. Cahaya kelap kelip seperti bintang kejora.
Ia membuka pintunya ! lihat senyum meronaku ! rasa letih itu kusimpan didalam tas agar ia bisa melihat wajah cantikku. Aku melihatnya keluar pintu. Tersenyum cerah dan lebih dari biasanya. Datang menghampiri aku. Biru. “Ngapain kamu malem-malem disini ?” tanyanya. Aku bingung harus jawab apa. Aku lebih dari sekedar malam, pagi, siang, dan sore berada di depan rumahnya dan dia hanya mengingat dan menilai malam saja yang aku habiskan menanti dia. “Aku disini lebih dari sekedar malam Biru” jawabku mulai gusar. “Aneh.” Jawabnya.
Aku lebih tak bisa menjawab apapun. Apakah rasa kangen, rasa sayang, rasa ingin berbagi bisa dinilai dengan penantian melewati hari dengan sekedar kata “ANEH” ? apakah saya mau menjadi aneh duduk didepan rumah hanya berharap malam tak datang terlalu cepat dan siang cepat berlalu ? apa saya pernah minta kamu nempel disekujur badan saya sehingga harus berat aku membawa kemana-mana status itu ? apa saya pernah minta saya hapal betul tentang kamu ?
Ve pun pulang. Dengan muka letih yang dipunngutnya lagi dari dalam tas dan dikenakannya lagi. Mengarungi malam. Kali ini dia minta agar malam berjalan lebih lama. Agar tak seorangpun bisa dengan jelas melihat mukanya. Ia belum menemukannya kembali. Birunya. Sosok yang begitu ia kenal benar dulu. Yang tak pernah lepas dari pandangannya. Yang selalu dinanti kedatangannya seminggu sekali. Yang bibirnya bervolume. Yang putih tinggi dan tegap. Yang berlengan kekar. Yang rambutnya selalu rapih. Yang wanginya dia hapal betul. Yang pelukannya membuat sesak nafas tetapi selalu dinikmatinya. Yang tak pernah berkata apa yang Ve ingin dengar. Yang pergi dan dirasa belum kembali.
Kini Dia sendiri lagi. Setiap sore masih saja dia duduk didepan rumahnya. Bukan, bukan karena rasa cinta dan sayang itu masih menancap jelas. Bukan. Tapi lebih kepada sosok yang belom bisa digantikan dengan siapapun. Belum lagi ada sosok istimewa yang bisa membuatnya aneh. Dan sosok yang bisa membuatnya galau kalau belum memilikinya. Sosok yang tepat pada saat yang tepat.


Sabtu, 03 Maret 2012

Korelasi kemarin sekarang dan besok


Gelisah lagi malam ini. seperti biasa aku cuma ngeliat jam berdetak seirama jantung yang mulai menenang. Genggaman gelasku semakin kuat. Air putih….oke air putih saja..tidak ada bir tidak ada alkohol malam ini. Gawat kalau sampai aku berhayal lagi. Bisa lebih gelisah hidupku. Aku masih diam saja. Sesuatu harus terjadi. Entah apa kaya ada yang lari didalam diri. Sekedar menunggu kabar, sekedar meminta diperhatikan, sekedar minta dilirik, atau mungkin aku dengan senang hati mempersilakan kau memperkosaku. Pelan pelan menjerit tapi menikmati. Kawin seperti binatang. Ah halusinasi lagi. Aku bahkan belum meneguk apapun. Gelas ini masih dipegang kenceng ditangan kanan. Dan masih kosong.
Masih teringat kemarin itu adalah bahagia. Sekarang adalah bingung. Dan besok adalah pertanyaan. Seperti tiga suku kata yang berjejer mepet tapi beda satu sama lain. Saling galau semua. Kemarin aku masih ingat kamu meronta dibawah kaki minta ku tendangi. Bersiap berlutut seperti seekor anjing menjulurkan lidahnya. Meraba menjatuhkan aku. Lalu kau bermain denganku seakan cuma aku tuanmu. Kau bertingkah seakan semua akan sempurna dan aku adalah tuan yang sempurna. Mengambil setiap apa yang kulempar, mengejar setiap apa yang berlari. Dan kau cepat kembali mengembalikan apa yang ku lempar. Binatang yang cerdas. Lalu kau tidur disebelahku. Bernafas cepat menderu kesal. Seakan kau lelah bermain denganku. Mendengkur. Membolak balikkan badanmu mencari sisi nyenyakmu. Lalu kau merapat padaku. Memintaku membelaimu memelukmu dan menyanyikan nina bobo biar kau lebih terlelap. Dasar binatang. Kubiarkan kau tidur dibawah agar puasku memandangmu dari atas tempat tidurku. Kau milikku. Dan aku tuanmu.
Lalu entah seperti apa dunia berputar. Aku rasa porosnya berpindah tempat. Karena tak ada korelasi antara kemarin dan sekarang. Semula bumi yang saya rasa hebat jadi beruba tak lebih mirip bola basket yang bisa dipantulin ke ring dan menerobosnya. Jatuh. Memantul dan memantul lagi sampai selesai dan puas ia memantul. Dia gila dalam berputar. Kenapa kemarin dan sekarang adalah kata yang beda ? kenapa tak sedikit saja indentik ?
Sekarang….kau lebih mirip anjing rabies. Menggigit dan menyebar sakit. Membuat malam tak lebih dari sekedar malam gelisah. Mengejar setiap orang yang lewat. Berfikir bahwa mereka semua adalah tuanmu. Menendang setiap tongkat yang ku lempar dan menguburnya ditempat yang tidak ku tau. Tak pernah berlari padaku saat ku panggil namamu. Kau berlari menjauh seakan lupa nama panggilanmu. Dan membiarkan diriku tak mengenalimu lagi. Dasar anjing kampung ! kau tak mau lagi tidur dibawah kasurku ! tak lagi mendengkur seperti dulu..tak lagi membolak balikkan badanmu mencari sisi ternyamanmu…tak meminta kunina boboi lagi..tak sudi kutendangi..dan kau.. tak mau lagi bersimpu padaku. Dasar kau ANJING ! kau  buat malamku gelisah menunggumu pulang…kau buat aku membutuhkan penjagaanmu..kau buat aku mempermalukan diriku sendiri dengan menyukaimu.. seekor anjing ! dasar anjing kampung rabies !!
Kenapa mesti kau ciptakan kemarin..kalau tak bisa berkelanjutan sekarang dan berhubungan besok ? malam ini sudah larut sekali. Tapi tak mampu ku menutup mataku. Aku takut bumi memperlakukanku dengan jahat seperti apa yang aku rasakan sekarang. Aku tak mampu membayangkan apa yang lebih buruk tentang besok dan harus berahir hari ini. Ini masih belum benar. Ini masih membuatku gelisah. Kau seperti mengajakku berenang pada sebuah kolam penuh lintah yang siap menyedot segala darah yang aku punya…segala daya yang aku punya untuk bergerak. Lalu aku harus bilang apa sama besok ?
Ini sudah pukul tiga dini hari. Kata orang ini adalah esok. Kataku ini adalah hari ini. ini adalah sekarang. Mataku sudah membiru membuka lebih dari waktu bumi yang cuma duapuluh empat jam. Kini aku tertawa puas. “Mati kau bumi ! aku lebih hebat dari kau !” aku masih menengok kebawah kasurku, menunggu anjingku yang pulang membawa tongkat. Aku berharap ini adalah mimpi. Ah jangan bodoh…aku bahkan tidak tidur… gelas yang tadi kupegang erat sudah tak ada lagi ditanganku…kugenggam erat sampai pecah ditangan. Bahkan belum ada bir yang kutuang kedalamnya. Tapi gelas itu sudah hampir penuh air. Penuh air mataku yang sengaja kutampung. Merekatkannya pada pipiku agar tetes demi tetes yang keluar dari mataku menetes langsung masuk kedalamnya. Oh segitu saja sedihku. Dan saat aku tertawa aku menggenggamnya dan pecah ditanganku. Warnanya hitam air mata itu tercampur Mengeluarkan darah dari tangan kananku. Kini baru aku tau. Rabiesmu telah menjangkiti aku. Entah kapan. Darah hitam itu rabiesmu.
Yang kulakukan adalah mengeluarkan semua darah hitamku…terus mengeluarkannya sampai darah itu merah lagi. Sampai aku tau pasti racunmu telah keluar dengan sempurna. Tak apa menunggu waktu. Aku masih bisa mengalahkan bumi satu atau dua kali untuk memastikannya. Memastikan semuanya berahir dengan sempurna. Entah kau yang kembali atau aku memang yang harus pergi.