Sabtu, 03 Maret 2012

Korelasi kemarin sekarang dan besok


Gelisah lagi malam ini. seperti biasa aku cuma ngeliat jam berdetak seirama jantung yang mulai menenang. Genggaman gelasku semakin kuat. Air putih….oke air putih saja..tidak ada bir tidak ada alkohol malam ini. Gawat kalau sampai aku berhayal lagi. Bisa lebih gelisah hidupku. Aku masih diam saja. Sesuatu harus terjadi. Entah apa kaya ada yang lari didalam diri. Sekedar menunggu kabar, sekedar meminta diperhatikan, sekedar minta dilirik, atau mungkin aku dengan senang hati mempersilakan kau memperkosaku. Pelan pelan menjerit tapi menikmati. Kawin seperti binatang. Ah halusinasi lagi. Aku bahkan belum meneguk apapun. Gelas ini masih dipegang kenceng ditangan kanan. Dan masih kosong.
Masih teringat kemarin itu adalah bahagia. Sekarang adalah bingung. Dan besok adalah pertanyaan. Seperti tiga suku kata yang berjejer mepet tapi beda satu sama lain. Saling galau semua. Kemarin aku masih ingat kamu meronta dibawah kaki minta ku tendangi. Bersiap berlutut seperti seekor anjing menjulurkan lidahnya. Meraba menjatuhkan aku. Lalu kau bermain denganku seakan cuma aku tuanmu. Kau bertingkah seakan semua akan sempurna dan aku adalah tuan yang sempurna. Mengambil setiap apa yang kulempar, mengejar setiap apa yang berlari. Dan kau cepat kembali mengembalikan apa yang ku lempar. Binatang yang cerdas. Lalu kau tidur disebelahku. Bernafas cepat menderu kesal. Seakan kau lelah bermain denganku. Mendengkur. Membolak balikkan badanmu mencari sisi nyenyakmu. Lalu kau merapat padaku. Memintaku membelaimu memelukmu dan menyanyikan nina bobo biar kau lebih terlelap. Dasar binatang. Kubiarkan kau tidur dibawah agar puasku memandangmu dari atas tempat tidurku. Kau milikku. Dan aku tuanmu.
Lalu entah seperti apa dunia berputar. Aku rasa porosnya berpindah tempat. Karena tak ada korelasi antara kemarin dan sekarang. Semula bumi yang saya rasa hebat jadi beruba tak lebih mirip bola basket yang bisa dipantulin ke ring dan menerobosnya. Jatuh. Memantul dan memantul lagi sampai selesai dan puas ia memantul. Dia gila dalam berputar. Kenapa kemarin dan sekarang adalah kata yang beda ? kenapa tak sedikit saja indentik ?
Sekarang….kau lebih mirip anjing rabies. Menggigit dan menyebar sakit. Membuat malam tak lebih dari sekedar malam gelisah. Mengejar setiap orang yang lewat. Berfikir bahwa mereka semua adalah tuanmu. Menendang setiap tongkat yang ku lempar dan menguburnya ditempat yang tidak ku tau. Tak pernah berlari padaku saat ku panggil namamu. Kau berlari menjauh seakan lupa nama panggilanmu. Dan membiarkan diriku tak mengenalimu lagi. Dasar anjing kampung ! kau tak mau lagi tidur dibawah kasurku ! tak lagi mendengkur seperti dulu..tak lagi membolak balikkan badanmu mencari sisi ternyamanmu…tak meminta kunina boboi lagi..tak sudi kutendangi..dan kau.. tak mau lagi bersimpu padaku. Dasar kau ANJING ! kau  buat malamku gelisah menunggumu pulang…kau buat aku membutuhkan penjagaanmu..kau buat aku mempermalukan diriku sendiri dengan menyukaimu.. seekor anjing ! dasar anjing kampung rabies !!
Kenapa mesti kau ciptakan kemarin..kalau tak bisa berkelanjutan sekarang dan berhubungan besok ? malam ini sudah larut sekali. Tapi tak mampu ku menutup mataku. Aku takut bumi memperlakukanku dengan jahat seperti apa yang aku rasakan sekarang. Aku tak mampu membayangkan apa yang lebih buruk tentang besok dan harus berahir hari ini. Ini masih belum benar. Ini masih membuatku gelisah. Kau seperti mengajakku berenang pada sebuah kolam penuh lintah yang siap menyedot segala darah yang aku punya…segala daya yang aku punya untuk bergerak. Lalu aku harus bilang apa sama besok ?
Ini sudah pukul tiga dini hari. Kata orang ini adalah esok. Kataku ini adalah hari ini. ini adalah sekarang. Mataku sudah membiru membuka lebih dari waktu bumi yang cuma duapuluh empat jam. Kini aku tertawa puas. “Mati kau bumi ! aku lebih hebat dari kau !” aku masih menengok kebawah kasurku, menunggu anjingku yang pulang membawa tongkat. Aku berharap ini adalah mimpi. Ah jangan bodoh…aku bahkan tidak tidur… gelas yang tadi kupegang erat sudah tak ada lagi ditanganku…kugenggam erat sampai pecah ditangan. Bahkan belum ada bir yang kutuang kedalamnya. Tapi gelas itu sudah hampir penuh air. Penuh air mataku yang sengaja kutampung. Merekatkannya pada pipiku agar tetes demi tetes yang keluar dari mataku menetes langsung masuk kedalamnya. Oh segitu saja sedihku. Dan saat aku tertawa aku menggenggamnya dan pecah ditanganku. Warnanya hitam air mata itu tercampur Mengeluarkan darah dari tangan kananku. Kini baru aku tau. Rabiesmu telah menjangkiti aku. Entah kapan. Darah hitam itu rabiesmu.
Yang kulakukan adalah mengeluarkan semua darah hitamku…terus mengeluarkannya sampai darah itu merah lagi. Sampai aku tau pasti racunmu telah keluar dengan sempurna. Tak apa menunggu waktu. Aku masih bisa mengalahkan bumi satu atau dua kali untuk memastikannya. Memastikan semuanya berahir dengan sempurna. Entah kau yang kembali atau aku memang yang harus pergi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar