Namanya Ia. Ia Cuma seorang perempuan biasa yang terkdang bisa jadi luarbiasa dan jadi biasa-biasa saja. Ia hanya hidup menghadapi mimpinya yang tinggi dan melambung. Terbang dan menembus apapun. Ia tak pernah takut apapun. Ia lahir dengan banyak kebisaan banyak kelebihan dan banyak banyak banyak lainnya. Ia bukan perempuan biasa dan sekedar Ia biasa.
Siang itu terik sekali. Ia memilih untuk tinggal dirumah sendiri. Ia memang selalu sendiri. Ia sanggup duduk berjam-jam hanya melihat rimbunnya pohon bambu dibelakang rumahnya. Ia sanggup duduk berlama-lama melihat bulan yang mengitari langit malamnya. Sendiri. Ia hanya tak tau harus bagaimana dan harus apa dan harus dengan siapa. Yang ia tau ia harus sendiri.
Suatu saat disendirinya, Ia memandang kaca besar dirumahnya. Berlama-lama ia duduk disana. Diam dan mengamati. Manisnya. Ia merasa akrap dengan bayangannya. Keesokannya sepulang kerja ia kembali lagi. Berlekas mengganti baju berdandan dan duduk lagi didepan kaca. Ia menikmatinya. Kini Ia tak sendiri. Ia terlengkapi. Ia memiliki kegiatan manis yang menjadi rutinitasnya. Ia memiliki bayangannya.
Kini Ia senantiasa tersenyum. Harinya cerah selalu. Tak pernah ia mengenal gundah dan sendiri. Ia memiliki bayangan yang senantiasa menempel pada jasad hidupnya. Menemani dibawah sinar matahari..berjalan bersama ketika langkahnya dimalam hari hanya diterangi sinar lampu…tersenyum saat semua terasa sulit dalam biasan air saat Ia butuh sekedar mencuci mukanya. Bayangan selalu ada. Bayangan selalu menemani Ia.
Semakin hari Ia semakin melekat pada bayangannya. Ia selalu dengan bangga memperkenalkan bayangannya. Ia senang Ia bahagia. Ia hanya lupa akan sesuatu. Bilang pada bayangan bahwa Ia bahagia dengannya. Terkadang ia hanya bersikap polos diam dan tak menanggapi. Terkadang bayangan hanya berada dibelakang Ia, sehingga ia tak pernah tau bagaimana Ia tersenyum didepan. Ia selalu lupa untuk bilang Ia senang.
Mereka berdua. Jalan tanpa arah. Bayangan selalu melakukan apa yang Ia lakukan. Mengikuti setiap gerakan Ia. Terkadang Ia bergerak terlalu cepat sampai-sampai bayangan susah mengikuti gerakan Ia. Terkadang Ia bergerak terlalu santai sampai bayangan menjadi mengantuk menghadapi Ia.
Bayangan mulai mempertanyakan perasaan Ia. Bayangan benar-benar tak tau apa yang ia rasakan. Apakan penampakan wajah senyum atau sedih ia yang tampil ketika bereka berada dibawah sinar matahari ? Apakah penampakan wajah Ia ketika mereka hanya berjalan dibawah sinar lampu jalanan ? Bayanyan penasaran…bayangan ingin tahu.. tapi Ia tak pernah bisa member tahu. Ia tak pernah bilang apa yang bayangan butuhkan. Sekedar kata sederhana yang terdiri dari 6 huruf. Sebuah kata yang bisa menggambarkan wajah tersenyumnya Ia sekalipun bayangan hanya memperkirakan dari belakang. SAYANG. Ia tak pernah bisa bilang. Ia hanya berharap bayangan mengerti tanpa perlu diberitahu. Karena semuanya udah cukup menggambarkan tanpa 6 huruf itu. Tapi bayangan tak mau tau dan terus memaksa. Ia sedih…Ia tak mampu melafalkan kata itu…setiap Ia baru mengucap “S” ia seperti terjebak terhadapan perasaan yang aneh yang ia sendiri takut hadapi. Sesuatu yang lebih menyeramkan ketimbang berada pada tebing tertinggi dan berjalan pada ketinggian lainnya. Ia tak mampu
Lama kelamaan bayangan membertanyakan perasaannya sendiri. Bayangan tak bisa membaca gerak gerik Ia. Ia tak bisa membaca apapun kecuali pikirannya yang selalu memaksa Ia berkata sekedar SAYANG. Tapi Ia sungguh tak bisa….Ia tak bisa bilang SA**NG..
tolong jangan rusak semua
km cukup jadi sempurna semampu saya buat
saya hanya butuh teduh saat km bilang "semua baik-baik saja sayang"
walau saya hanya bisa mendengar itu saat berpejam mata ini..
jangan rusak citramu sendiri..
saya mohon..
kita bisa bertahan lebih lama..saya tau itu :)
andai besok pagi kita bisa menjadi apa yg kita harapkan
maka kebatinan itu hilanglah sudah
Dan semua pun berubah. Mereka seperti selalu diam terpaku bingung mau melakukan apa. Mereka seperti selalu berfikiran buruk satu sama lain. Mereka selalu saling menyakiti dengan perasaan yang mereka punya masing-masing. Sampai suatu saat Ia tersadar, Ia hanya melihat pantulan kosong setiap ia bercemin. Tak ada lagi yang membalas senyum manisnya. Tak ada lagi yang memberikan Ia alasan duduk berjam-jam didepan kaca. Ia hanya bisa menangis karena ia kini tak lagi memiliki bayangan. Ia hanya duduk semu sendiri didepan kaca.
Ia mencari kemana-kemana. Ia kebingungan. Ia ingin tanya kenapa bayangan begitu memaksa….kenapa bayangan…menghilang. Ia tak pernah merasa lengkap lagi. Ia merasa semu sendiri saja. Ia bertanya dari orang ke orang..tapi tak ada jawabnya. Ia hanya bisa mencari dan sedih dengan ketidak lengkapannya.
Pada suatu saat perasaannya begitu dalam. Ia seperti tau bahwa saatnya sudah tiba untuk mereka bertemu lagi. Saat dimana ia bisa bertanya pada bayangan. Saat ketika sesungguhnya Ia pun tak tahu apakah bayangan akan benar-benar ada lagi atau tidak. Ia hanya menerka.
Ia nenunggunya disana. Sepanjang malam. Sepanjang Ia mampu menahan dingin pinggir-pinggir keramaian. Ia tau akan dtang. Ia tau akan sakit. Ia tetap menunggu. Dia memang manusia ANEH. Ia memilih sendiri. Maaf sendiri ? tidak…sendiri bukan pilihan..itu adalah keadaan. Dia masih menunggu bayangan refleksi bias kacanya datang. Bayangannya hilang empat bulan terahir. Ia seperti tersasar tak tau arah pulang. Bayangannya seperti lupa bagaimana pernah menjadi bayangan. Yang seharusnya setia mengikuti dalam setiap langkahnya. Dibawah sinar matahari, dibawah lampu jalan. Tapi kini ia sedang gundah. Ia melihat tak ada bayangan dalam langkah malamnya. Dalam dingin malam yang menembus pori-pori badannya.
Ia masih disana. Menanti disudut jalan. Menanti bayangan itu datang walau hanya sekelebat. Ia berjanji akan menjemputnya pulang. Malam semakin malam. Dan angin malam semakin jadi angin malam. Ia menunggu duduk diam melihat lantai aspal “Apa sudah datang bayanganku ?”. Dia senang begitu. Meihat dirinya sakit demi sakit merajai ujung-ujung saraf otak hingga lumpuh. Hingga tak mampu memberi komentar tentang apa yang harus dilakukannya. Dia menjadi GILA karena suka duduk sendiri melihat sesuatu yang entah akan menghiburnya atau akan membuatnya puas sementara. Ia tak perna suka menjadi GILA. Tapi gila adalah keharusan agar keringat dalam matanya itu ga terus-terusan mengucur ga karuan. Agar puas batin itu..walau sementara.
Dimana dia……..hatinya sekian lama jadi gundah gelisah. Jam mepet dan kemakan waktu. Dia ga bisa berfikir. Kekurangan oksigen membuatnya bingung tak beraturan. Hatinya sedang berhamburan. Tidakkah bayangan kangen ? tidakkah……TIDAK ! aaaaggggghhhhh ia menjadi manusia seonggok daging TAK BEROTAK. Tapi ia tetap dengan setia menanti bayangan yang ga kunjung datang. Ia lupa menaruh dimana otaknya. Tidak dijual dietalase dengan murah mungkin.
Tak seberapa lama. Sebenarnya cukup lama. Ada sesuatu yang terasa manis dan ia kenal lewat menerjang dinginnya malam. Ia berlari keras mengejarnya. Keringat matanya ia usap agar tak seorangpun tau. Bayangan, ia datang. Ia berusaha menepuk pundak bayangan dari belakang. Sekali..dua kali..tiga kali..empat kali….ia lelah…”bayangan ! aku disini nungguin kamu !” tak sabar ia berteriak sekeras suara yang mampu ia keluarkan. Bayangan pun menoleh lambat. Tampan, cantik, anggun, menawan. Ia menangis sebisanya…. “maaf aku tidak mengenalmu..aku salah mencari bayanganku..aku pikir kamu..” ia pulang. Ia sedih se sedih ia mampu. Karena ia menemui bayangan yang bahagia dan tak sama sedihnya dengannya.
Ia pulang melaju malam. Sakit….sakiiiit rasanya…melupakan bayangan yang pernah mengikuti dirinya kini menghilang. Ia berharap hilang ingatan saja..karena ia tahu saat ia tersadar nanti...ia akan jatuh cinta lagi pada bayangannya pada saat ia menemuinya…seperti dulu saat ia jatuh cinta pertama kali pada bayangannya…agar ia lupa pernah kehilangan bayangannya. Agar ia bisa lupa pernah ANEH, GILA, dan TAK PUNYA OTAK. Dan dia bisa becermin dengan sempurna. Melihat bayangannya membalas senyumannya. Walau sesungguhnya ia tak pernah tau apakah bayangannya akan jatuh seperti saat dulu mereka jatuh cinta lagi atau tidak. Sudahlah ia membanting semua kaca yang ada. Tak ada bayangan saat ini taka apa mungki. “mungkin” ia hanya perlu berkeringat pada matanya. Dan menunggu bayangan sadar dari lamunan panjangnya.
“bulan..sekalipun ga terlihat..tapi dia ada
Kamu cuma perlu kebelahan bumu lainnya buat melihatnya sempurna
Ga perlu diucapin tiap hari..tapi sayang itu selalu ada..
Cuma perlu liat dengan perspektif yang sedikit berbeda…”
Ia berjalan dari kegagalannya. Tanpa tersenyum atau bersedih. Ia melewati etalase pertokoan. Ia terhenti saat sebuah toko menjual sebuah kaca besar yang menawan berukir dari kayu pada bingkainya. Ia mendekat. Ia tersenyum. Ia mengenalnya. Dia kembali.
“Apa etalase ini menjual sayang ?”
“tidak…tapi akan aku buat kamu menjualnya..”
Ia berjalan pulang…ia tersenyum..bayangannya kembali pulang…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar