Jumat, 14 Desember 2012

Pasukan baret merah solo



Langit mulai senja siiring dengan panas badanku dihari pertama tinggal di sini. Tak pernah aku kenal sebelumnya..sungguh...ini kota apa ? tak pernah tuh diperhatikan sebelumnya kalau-kalau liat peta waktu masuh berseraham putih abu-abu apa putih biru. Saya tak pernah minta tinggal disini. Keadaan yang memaksa saya untuk bertemu gerbang kota ini kemarin. Meninggalkan kehidupan kota Jakarta yang macet dan orangnya berbicara lantang-lantang. Disini...semua orang berbicara pelan-pelan merunduk-merunduk dan senyum-senyum. Bahkan tukang becak pun bisanya cuma ngomong “monggo”.
Saya adalah Voca. Saya sedang sakit panas. Saya baru pindah. Mungkin ketiga kalimat tadi kalau digabung bisa menjadi seperti ini kira-kira,”saya belum siap pindah”. Saya harus pindah karena bapak saya yang tadinya kaya raya itu, yang tadinya ada empat mobil digarasi, yang tadinya rumahnya dua lantai, yang tadinya halaman rumahnya ada pohon mangganya, kini lagi dibalik jadi yang alhamdulilah punya punya rumah. Memang mungkin yang namanya kehidupan itu adalah sejenis permainan ular tangga. Yang kalau kena tangga bisa naik menanjak, yang kalau kena uler bisa jatuh tersungkur. Yah terserah aja sama kocokan dadu yang keluar maunya angka berapa.
Ini adalah kota Solo. Adalah kota Surakarta. Jangan tanya apa bedanya karena ya saya juga tidak tau. Kota ini hening, tenang, dan sedikit panas. Menyenangkan karena semua orang “monggo-monggo”, tidak menyenangkan karena saya harus belajar bahasa “monggo-monggo”. Panas kota ini yang mengiringi panas badanku seperti bersatu didalam kepala. Masih belum bisa keluar.
Saya adalah Voca. Saya baru pindah. Dan saya....belum menemukan kenapa saya harus menerima perpindahan ini, bukan hanya menerima kemiskinan ini. Tapi menerima apa alasan saya untuk jatuh cinta pada kota ini sebagaimana saya jatuh cinta pada monas dan mall-mall besar di Jakarta.

***
Lama sekali Voca harus menerima keadaannya atas perpindahannya. Kini setelah seminggu sakit panasnya hilang, dia bisa mulai berteman dengan panasnya kota Solo. Seminggu yang dia lalui dengan panasnya itu membuat Voca benar-benar tak memiliki teman. Atau mungkin hanya belum saja. Dia itu cantik, dia itu pintar, dia itu mudah berkawan. Mungkin hanya saja dia belum bisa dengan mahir bahasa “monggo-monggo”. Dia yang anak baru memang belum tau mau jadi apa dan harus bagaimana di kota itu.
Suatu hari ketika dia berjalan di jalan arteri kota Solo, di minggu pagi yang cerah, ketika semua orang membawa apa saja ke jalan itu sambil berolahraga atau sekedar jalan kece saja. Ada yang membawa sepeda, ada yang membawa sekuter, ada yang membawa raket bulutangkis, ada yang membawa bola, ada yang membawa anjing, bahkan yang lebih absurt lagi ada yang membawa ular sanca. Voca benar-benar baru tahu, selain manusia semua jenis mahluk pun ikut berpartisipasi dalam acara minggu pagi itu.
Ia menyusuri jalan yang panjang. Pelan....sebuah nada bermain di pendengarannya. Merdu, unik, dan menenangkan jiwa. “gundul..gundul pacul cul...gembelengaaaan...” serentak Voca lari mendekat. Ia berdiri didepan mereka. Sekelompok pemuda pemudi bernyani dengan ciamiknya. Menari kekanan kekiri. Dengan pakaian kebaya warna orange dan kain jarik yang diikat seadanya untuk perempuan dan baju sorjan serta celana komprang warna hitam. Benar-benar ciamik sekali. Solo Paduan Suara. “sak lataaaaaarrr.......” lagu itu pun selesai juga. Dan benar-benar menarik hati Voca. Tak pernah ia sejatuh cinta itu pada tatapan pertamanya. Pada pertemua pertamanya. Ia mencintai kesenian ini. Paduan suara.
Dengan semangat dan antusias Voca memiliki alasan untuk mencintai kota Solo. Ia menemukan sesuatu yang tak ia temukan sebelumnya. Dia mencari berbagai cara agar ia bisa menjadi bagian dan tontonannya kemarin. Ia berusaha dengan sekuat tenaganya mencintai apa yang ia lihat kemarin, dengan matanya...dengan telinganya..

***
Ketika bernyanyi bukan hanya sekedar apa yang mampu saya dengar, tetapi juga denga apa yang saya lihat, dan apa yang saya rasakan, sejak itu pula saya jatuh cinta pada paduan suara. Dan Solo Paduan Suara inilah yang benar-benar memberikan alasan saya menyukai kota Solo ini juga. Ya saya mau tinggal disini, dan saya bahagia disini.
Sebulan sudah saya bergabunng dengan paduan suara ini. Rasanya baru kemarin saya melihat mereka bernyanyi. Kini belajar notasi-notasi ini jadi makanan sehari-hari. Memahami bahasa “monggo-monggo” yang awalnya sedikit aneh. Dan semua kini ga bau-abu lagi di pendengaranku. Sering ku mendengar lagu ini sebenarnya. “Gundul gundul pacul” tetapi tanpa aransemen semacam ini. dan baru aku mengerti apa arti lagu anak-anak ini yang awalnya saya pikir hanya lagu mainan ank-anak saja. Ternyata setelah ditelaah artinya penuh dengan sindiran kepada yang mpunya yang rakus membuat “segonya dadi sak latar” hahahahaa.....tawaku sambil mengingat-ingat masa kejayaan bapak yang punya empat mobil digarasi, yang tadinya rumahnya dua lantai, yang tadinya halaman rumahnya ada pohon mangganya, kini lagi dibalik jadi yang alhamdulilah punya punya rumah.

***
Setahun sudah Voca berada di kota barunya. Tak pernah terasa sekarang. Dengan kesenian bernyanyinya pada paduan suara yang dimilikinya sekarang rasanya seperti semua itu terdengan bermelodi. Menyenangkan. Solo Paduan Suara memang merupakan paduan suara yang bagus. Banyak yang sudah mendengar kehebatannya. Tetapi, mereka hanya sekumpulan pemuda pemudi yang bernyanyi, bukan sekumpulan orang kaya yang bernyanyi. Setiap kali mereka bernyanyi dan pentas, merela selalu mencari cara menjual diri dengan bernyanyi untuk mendapatkan rupiah demi rupiah untuk sekedar membeli semeter dua meter kain buat dijait baru. Semua pencarian itu tak terasa menyusahkan, selama mereka bisa bernyanyi dan bisa melantunkan kesenian kesemua orang semua terasa sangat  menyenangkan.
Suatu ketika, ketika sebuah ajang paduan suara bertingkat Internasional mengirimkan undangan mengikuti perlombaan untuk Solo Paduan Suara. Cina, perlombaan itu diadakan di negara Cina. Negara yang mereka liat hanya lewat tayangan tv saja. Voca hanya terdiam melihati undangan itu. Ingin sekali ia menerbangkan semua pasukan Solo Paduan Suaranya terbang ke negara itu. Mencoba peruntungan mereka menyanyikan lagu jawanya. Lagu daerahnya. Tapi,......dengan apa ? mana mungkin ia bisa menerbangkan dua puluh lima penyanyi dengan seorang kondakter terbang melintasi laut kenegara yang awalnya hanya ia lihat di tv saja.
Dengan bulatnya tekat, mereka hanya  mencoba peruntungan mereka. Setiap hari mereka berlati sepulang sekolah. Dari jam empar sore sampai langin sudah tidak biru lagi. Mereka terus berlatih. Dan pada ahir pekan mereka berputar-putar mengelilingi kota dengan sekotak kotak amal bernyanyi untuk rupiah rupiah yang mereka kumpulkan untuk lomba. Dengan semua sumbangan itu mereka berharap sisa waktu yang mereka miliki cukup untuk terbang ke Cina mengikuti lomba paduan suara tingkat Internasional itu. Setiap seribu dua ribu adalah pundi-pundi pengumpulan dana untuk mereka.
Mereka mencoba memasukkan proposal-proposal donatur ke berbagai tempat. Bahkan intansi kesenian yang memiliki label “pegawai negri”. Tapi entah mengapa lantunan nada-nada berbahasa “monggo-monggo” yang katanya kesenian Indonesia itu tidak dilirik oleh mereka. Voca hanya bisa membesarkan diri dan terus memberikan semangat kepada teman-temannya. Berusaha seakan-akan semua akan lebih baik untuk mereka yang memiliki niatan mengumandangkan nyanyian-nyanyian mereka kemata dunia.

***
Saya tak pernah putus asa. Saya mencintai paduan suara sejak saya melihatnya. Dan saya berharap ada orang lain yang juga jatuh cinta pada kami sejak mendengarkan kami. Saya percaya kalau tuhan memiliki sentuhan terahir untuk setiap jeri payah umatnya. Setiap nyi-nyiran orang-orang yang menolak membuka proposal kami, yah semoga saja mereka bisa melihat ga cuma dengan mata, tapi juga dengan hati dan telinga.
Setiap detik menuju besok hanya membuat saya menjadi lebih deg-degani apakah saya ini hanya memberikan pengharapan palsu kepada Solo Paduan Suara. Apakah salah saya yang bukan asli Solo ini ingin membawa nama kota Solo yang jarang diingat orang ini terbang ke negara Cina, dikenal khalayak Internasional ? saya hanya mencintai paduan suara. Dan saya harap akan lebih banyak yang mencintai apa yang saya cintai sekarang.

***
Tinggal dua bulan lagi. Dan pundi-pundi keuangan Solo Paduan Suara masih jauh dari sekedar cukup. Mereka terus bekerja keras mencari setiap rupiah yang mungkin didapatkkan untuk membawa mereka terbang ke Cina. Untuk membawa kota Solo terbang ke Cina. Untuk membawa Indonesia terbang ke Cina. Dengan setiap tetesan air mata selepas solat malam. Dengan setiap tetesan air mata selepas kontak doa. Dengan semua perbedaan dan semua tujuan yang sama tak pernah berhenti Solo Paduan Suara berdoa.
Seatu saat ketika Solo Paduan Suara sedang mengamen di pasar malam Ngarsopuro kota Solo, ketika mereka dengan semangat menyanyi melantunkan nada demi nada....

***
“Nyunggi...nyunggi wakul kul..gembelengan..wakul nglimpang sengone ndadi sak latar...” kunyanyikan lagu itu ketika tiba-tiba ada seorang berpakaian safari dengan begitu banyak ajudan menepuk pundakku.
“Sapa yang bertanggung jawab sama kelompok seni ini dek ?”
“Sayak pak...”
“lanjutkan dulu nyanyinya....”
Saya tak mengerti dan melanjutkan saja nyanyian kami. Tak mengerti dengan siapa laki-laki dengan baju safari itu. Dan hendak apa dia.
Setelah selesai satu lagu itu kunyanyikan, kembali ku bertemu dengan laki-laki dengan baju safari itu.
“iyah pak ada apa ya pak ?”
“saya suka loh sama paduan suaramu itu..sudah saya perhatikan beberapa minggu kemarin”
“oh ya pak ? wah terima kasih...”
“mau lomba to mbak ke Cina?”
“iya pak...insaallah...tapi nggak tau pak..masih banyak nol nya pak ditabungan kami yang kurang”
“ha..ha..ha..semangat ya mba...ini saya paringi..”
“oh iya pak trimakasi banyak yah pak....”
Kuambil sebuah kotak yang laki-laki itu berikan seiring kepergiannya menyusuri pasar malam. Tak berfikir apa yang ada didalam kota itu. Kami hanya melanjutkan menyanyi lagi dipasar malam itu. Seorang ajudan berpakaian rapi menghampiri saya dan berkata pelan sekali,”mba..sudah pulang saja..minggu depan ngamennya dilanjut lagi”. Saya tk mengerti. Benar-benar tak mengerti. Setelah selesai lagu terahir, saya bubarkan teman-teman sayang di pasar malam itu.
Saya pulang bersama seorang kawan saya. Mas Bintang. Kita berboncengan pulang kerumah saya yang memang dekat dengan rumahnya. Saya mengajak dia mampir sebentar untuk mengintip apa yang ada didalam kotak. Kubuka pelan-pelan..deg-degan juga yah. Kulihat dari intipan itu terlihat kertas tersusun rapi. Kubuka perlahan lebih lebar. Betapa terkejutnya aku ketika melihat itu adalah tumpukan uang ! dan lebih kaget lagi ketika aku melihat itu adalah tumpukan uang dolar. Astaga ! saya benar-benar merasakan tangan tuhan berada dekat dengan saya dan Solo Paduan Suara sekarang. Air mata ini menetes. Tidak-tidak sudah bukan menetes lagi..tetapi mengalir dengan derasnya. Sangat deras.

***
Voca seperti mendapatkan durian runtuh. Membuat mimpi panjangnya bukan sekedar mimpi lagi sekarang. Dia sudah bangun untuk mewujudkannya. Menjadi sebuah kenyataan. Menjemput impiannya membawa kota Solo ke negri Cina dan membawa Indonesia di negri Cina. Semua persipan disiapkan dengan begitu ciamik membuat semua orang bersemangat. Cina didepan mata.
Semua air mata dan perjuangan terbayar ketika pesawat itu melesat ke sana. Membawa mimpi semua orang yang terwakili dan pengharapan yang tak kunjung padam membara. Perjuangan yang sesungguhnya baru saja dimulai. Mereka sampai di negara Cina. Disambut denga kelompok paduan suara dari berbagai negara. Dari yang berkulit hitam, dari yang berkulit putih, dari yang berkulit kuning, dari yang berkulit sawo matang, dari yang tinggi-tinggi, sampai yang pendek-pendek semua ada disana. Mereka pun sangat bersemangat.
Solo Paduan Suara mendapatkan penginapan yang jauh dari peserta lainnya. Jauh dari bagus, jauh dari lokasi lomba, jauh dari yang dibayangkan dari “jalan-jalan”. Mereka tidak sedang “jalan-jalan” masalahnya. Jadi dengan segala kekurangan paduan suara termiskin itu mereka sudah terbiasa. Terbiasa susah. Mereka berlatih di tempat parkir karena tidak mampu menyewa sebuag tempat latihan yang mahal untuk mereka. Tak apa, semua sudah lebih dari cukup untuk Voca.

***
Hari itu pun tiba. Hari lomba. Saya sudah memakai jarik yang dililit dibadan membentuk kemben dengan konde dan riasan. Beranting dan berkalung. Baru kali ini saya merasa sangat menjadi orang Jawa ketika saya sudah jauh dari pulau Jawa. Ketika lampu sorot itu menyorot pada kami, dan ribuan mata memandang dari berbagai negara, saya siap berjuang. “Gundul...gundul pacul cul..gembelengam..nyunggi nyunggi wakul..kul.. gembelengan...wakul nglimpang segone ndadi sak latar...eee..eyak ee” lagu gundul-gundul paculpun menggema di daratan Cina. Memecah keheningan. Kembali teringat ketika saya begitu jatuh cinta pada paduan suara lewat lagu ini. ketika saya menemukan jati diri apa yang harus saya lakukan kedepannya. Kami pun selesai menuntaskan misi budaya kami. Membuat pulau Jawa kini dikenal. Membawa kota Solo jalan-jalan ke negri Cina.
Kami tak berharap apapun...kami hanyak iklas karena misi kami sudah selesai. Melihat begitu banyak paduan suara bernyanyi dan memperkenalkan kesenian mereka. Sampai pada saat yang membuat kami bergandengan tangan membaca segala macam doa menyatukan hati dalam keiklasan. Pengumuman pun dimulai. Semua kategori dan penghargaan dibacakan. Dimulai dari brown mendali lalu dilanjutkan ke silver mendali. Dan masuk lah ke pembacaan gold mendali. Hati kami dag dig dug tak karuan. Nama Solo Paduan Suara tidak dipanggil-panggil. Kami seperti berharap akan sesuatu yang dirasa mustahil. Dan memang nama kami tidak dipanggil. Kami hanya tersenyum satu sama lain. Mengucap sukur sudah berada sejauh ini ke negara ini. “And Grand Champion is......Solo Paduan Suara !!!!!!” kami berpaling. Apa ! ini ga mimpi kan ! kami adalah juara umum ! pemenang dari pemenang !! aku berlari membawa bendera merah putih ke atas panggung. Menangis dan terus mengangis lebih deras. Pantas nama kami tidak dipanggil dipengumuman pemberian mendali, karena kami mendapatkan piala. Betapa terharu melihat bendera merah putih digantung di tengah panggung disaksikan ribuan pasang mata dari ratusan paduan suara yang berasal dari berbagai macam negara. Dan Indonesia raya pun dikumandangkan. Haru demi haru kami persembahkan kemenangan ini untuk kota Solo, dan Indonesia. Kami pulang dengan membawa sesuatu yang tak terpikirkan sebelumnya. Mimpi kami yang awalnya hanya sekedar mimpi anak kemarin sore.
Kami disambut disana. Di kota Solo. Dirumah saya. Dengan membawa gelar juara kami. Grand Champion folklore category. Mimpi ini tidak akan terwujud, sampai saya bangun dan membuatnya menjadi nyata. Kami adalah Solo Paduan Suara. Kami adalah pasukan baret merah kota Solo. Kami akan terus bernyanyi dan membuat semua orang jatuh cinta dengan kesenian kami. Paduan suara.


Selasa, 31 Juli 2012

SOSOK

ada sinar biru dibalik pantai. Membuat silau mata ketika aku sedang main dan bergulingan dengan pasir. Macam apa ini…ini belum sunja…dan ini sudah bukan lagi siang. Ini adalah panas pantai yg hanya hangat hangat kuku kurasa sampai di pahaku yang hanya tertutup rok pendek. Sinar biru itu mengikuti arah mata saya. Setiap saya melirik dikiri maka dia dengan jelas terlihat dikiri. Saat saya menoleh kekanan maka dia sudah menanti saya dikanan. Saat saya berpijak dia….dia seolah menempelkan hidung tak mancungnya pada hidungku yang mancung. Mungkin kata orang itu melengkapi. Kata saya itu bodoh. Bagaimana dia bisa menempel pada saya yang jelas ga ngenal sapa dia ???? ngek ngok ngek !!!!
“Biru…kamu ?” katanya menyodorkan tangan. Waw dia tampan ya. Saya harus bagaimana ya ? kayaknya saya suka..murahankah ? stay cool kah ? yang pasti gagap yang ga boleh keliatan. “saya Vertikal” jawabku menjulurkan tangan kananku padanya. Bagaimana saya bisa lupa tentang dia. Semua yang saya liat saat itu sudah terekam tak pernah mati seperti memori kamera yang saya telan mentah-mentah. Bibirnya yang berfolume, badannya yang putih tinggi dan tegap, lengannya yang berotot, dan rambutnya yang rapi. Ya ya ya saya suka dia.
Dia tak pernah berbicara lebih. Dia hanya berkata apa yang benar-benar dibutuhkan untuk dikatakan. Bukan apa yang ingin saya dengar. Itu yang membuat saya harus berfikir untuk mengerti dia. Atau dia yang berfikir bagaimana cara agar saya tak susah-susah berfikir yang tak perlu.
BIru datang setiap ahir pekan. Seperti moment yang selalu ditunggu keadaannya. Tapi saya selalu tau dia ada. Seperti senja biru yang selalu datang setiap sorenya. Yang membuat saya galau setengah mati ketika mendung menyerbak. Yang membuat saya bisa duduk berjam-jam di teras rumah untuk menikmatinya sendiri tanpa berbagi. Dan ketika malam sudah datang memeluk langit yang tadi kucinta aku hanya bisa berharap besok matahari tak terlampau lama menari dilangit agar aku bisa melihat senja biru yang bisa kunikmati sendiri lagi.
Saat itu saya harus pergi. Saat itu dia harus pergi. Membuat tak ada seminggu sekali Biru ku untuk datang. Saat itu ketika kita semua pergi. Ia datang dimuka pintu. Tak bicara sama sekali. Ia memang tak pernah berbicara apapun yang ingin aku dengar. Dia hanya mengungkapkan apa yang aku butuh. Dia hanya diam memandang. Saat aku mendekat padanya….ia memeluk dengan tangan kekarnya. Sakit memang didekap tangan tangan kuat itu, tapi aku hanya diam menikmati sesak nafasku dalam pelukannya. Bersender didada bidangnya. Meraba pinggangnya dan merangkulkan tanganku padanya. Kini aku hapal wangi tubuhnya. Dan aku akan sangat kenal itu. Seperti mencium bau senja biru seperti biasa yang aku lakukan. Tak kurasa senja biru sudah menempel pada sekujur tubuhku yang setauku cuma aku yang tau. Dibibirku bisa aku rasa angin mencium mesra menari didalam mulut dan berliuk liuk dimana mana. Oh senja…..jangan pergi dulu…saya belum siap menghadapi malam.
Biru pun pergi. Membawa separuh hati yang kutitipkan padanya. Aku pun pergi. Membawa separuh hati yang sengaja kuambil darinya. Kami pergi bersama gelisah yang diselipkan pada hubungan kami. Pada sayang yang ga bisa diungkap pada sekedar kata. Pada sayang yang ga bisa diungkapkan pada sekedar cium di pipi atau di bibir. Pada sayang yang meminta matahari turun lebih cepat dan malam datang lebih lambat.
Sepekan. Sudah sepekan saya menikmati curi curi waktu mencintai senja biru. Aku hanya bisa melampiaskan rasa yang ada pada udara yang berputar, pada langit yang biru, pada senja yang biru memancar di wajahku. Cantiknya dia. Aku harap ia melihat senja yang berwarna sama di setiap sorenya. Sama seperti aku sedang memandang langit sekarang. Aku menunggumu Biru.
Lama sudah. Rasa itu lama dan entah sudah berevolusi jadi apa. Entah telah menjadi inangkah ditubuhku ini. senja biru datang setiap sore. Tapi Biruku belum datang juga. Dimana dia berpijar ? aku butuh dari sekedar sosok Biru yang aku kenal hadir menemani aku yang vertikal.
Lama penantian terganti dengan senja yang datang lebih lama. Rasanya spesial. Rasanya istimewa. Rasanya….sejuta kata ga bisa berakrobat menjadi tulisan bahkan seorang Djenar pun ga mampu menggambarkan perasaan itu. 24 jam akan kuhabiskan hanya untuk melewati waktu dengan kedatangannya. Aku kangen pada dia yang spesial.
Aku duduk di depan rumahnya. Jam 2 siang. Agar aku bisa ajak dia menikmati senja biru yang biasanya aku nikmati sendiri. Kali ini, sekali dalam hidupku, aku ingin berbagi dengan seseorang. Aku menunggu ia keluar dan membuka pintu rumahnya. Tak perlu lebar, asalkan aku bisa melihat sosoknya yang aku hapal benar. Bibirnya yang bervolume, badannya yang putih tinggi dan tegap, lengannya yang berotot, rambutnya yang rapi, dan wangi tubuhnya yang aku hapal. Dan aku akan sangat kenal itu. Cepat keluar Biru…senja akan segera pergi.
Matahari mulai beralih, tapi Biru belum juga keluar. Dia…entah apa yang dilakukannya didalam sana..senja sudah datang dan aku menungmu diluar, tak dapat menikmatinya, tak dapat berbagi dengannya. Aku duduk diam melihat senja biru favoritku turun dan tak bisa berbagi dengan orang yang kutunggu lama. Lamaaaa sekali. Hingga malam datang menari dia belum kunjung datang. Kemada dia ??
Lama aku menunggu didepan rumahmu. Kau tak peduli. Lama aku menantimu. Takkah kau ingat itu ? lama kau memelukku. Adakah itu bermakna ? aku disini sendiri dengan segala kekuranganku. Dan menanti kelebihanmu untuk menutupi aku. Adakah kau mau membantu ?
Matahari sudah terik diatas kepalaku. Membuat keringat membrantakkan riasan wajah yang kemarin cantik dimukaku. Aku masih mengharap didepan rumahnya. Menanti Biru yang telah begitu menempel pada hidung mancungku yang selalu menutupi pandanganku. Adakah aku salah alamat ? atau dia yang memang tak sadar aku menunggu. Ini sudah jam 1 siang. Dan 24 jam hanya 24 jam dalam sehari. Tak bisa kutambah beberapa jam lagi. Ini detik demi detik menuju 24 yang terasa tak spesial dimatamu dan begitu spesial menurut hidupku.
Ini senja kedua yang aku lewatkan didepan rumahnya. Menanti pintu itu terbuka. Entah siapa yang membukanya. Aku hanya menunggunya terbuka saja. Agar aku bisa mencium secercah wangi senja biru yang begitu kurindukan.
Malam menjelma. Betapa aku tak tau kenapa lagi-lagi gagal berbagi senja dengan Biru. Aku mulai paham. Mungkin kini senja biru cuma jadi imajinasi khayalanku yang selalu cantik. Dan aku berpaling melawan arah. Aku lelah dan mau pulang. Sudah cukup lebih dari 24 jam menunggu didepan rumahmu. Cukup.
Terlihat cahaya di dalam gelapnya malam yang menari sendu. Cahaya panjang vertical dari dalam rumah. Cahaya yang tak pernah kukenal. Terbuka untukku. Atau entah untuk sapa dan untuk apa. Hanya terbuka saja. Cahaya kelap kelip seperti bintang kejora.
Ia membuka pintunya ! lihat senyum meronaku ! rasa letih itu kusimpan didalam tas agar ia bisa melihat wajah cantikku. Aku melihatnya keluar pintu. Tersenyum cerah dan lebih dari biasanya. Datang menghampiri aku. Biru. “Ngapain kamu malem-malem disini ?” tanyanya. Aku bingung harus jawab apa. Aku lebih dari sekedar malam, pagi, siang, dan sore berada di depan rumahnya dan dia hanya mengingat dan menilai malam saja yang aku habiskan menanti dia. “Aku disini lebih dari sekedar malam Biru” jawabku mulai gusar. “Aneh.” Jawabnya.
Aku lebih tak bisa menjawab apapun. Apakah rasa kangen, rasa sayang, rasa ingin berbagi bisa dinilai dengan penantian melewati hari dengan sekedar kata “ANEH” ? apakah saya mau menjadi aneh duduk didepan rumah hanya berharap malam tak datang terlalu cepat dan siang cepat berlalu ? apa saya pernah minta kamu nempel disekujur badan saya sehingga harus berat aku membawa kemana-mana status itu ? apa saya pernah minta saya hapal betul tentang kamu ?
Ve pun pulang. Dengan muka letih yang dipunngutnya lagi dari dalam tas dan dikenakannya lagi. Mengarungi malam. Kali ini dia minta agar malam berjalan lebih lama. Agar tak seorangpun bisa dengan jelas melihat mukanya. Ia belum menemukannya kembali. Birunya. Sosok yang begitu ia kenal benar dulu. Yang tak pernah lepas dari pandangannya. Yang selalu dinanti kedatangannya seminggu sekali. Yang bibirnya bervolume. Yang putih tinggi dan tegap. Yang berlengan kekar. Yang rambutnya selalu rapih. Yang wanginya dia hapal betul. Yang pelukannya membuat sesak nafas tetapi selalu dinikmatinya. Yang tak pernah berkata apa yang Ve ingin dengar. Yang pergi dan dirasa belum kembali.
Kini Dia sendiri lagi. Setiap sore masih saja dia duduk didepan rumahnya. Bukan, bukan karena rasa cinta dan sayang itu masih menancap jelas. Bukan. Tapi lebih kepada sosok yang belom bisa digantikan dengan siapapun. Belum lagi ada sosok istimewa yang bisa membuatnya aneh. Dan sosok yang bisa membuatnya galau kalau belum memilikinya. Sosok yang tepat pada saat yang tepat.


Sabtu, 03 Maret 2012

Korelasi kemarin sekarang dan besok


Gelisah lagi malam ini. seperti biasa aku cuma ngeliat jam berdetak seirama jantung yang mulai menenang. Genggaman gelasku semakin kuat. Air putih….oke air putih saja..tidak ada bir tidak ada alkohol malam ini. Gawat kalau sampai aku berhayal lagi. Bisa lebih gelisah hidupku. Aku masih diam saja. Sesuatu harus terjadi. Entah apa kaya ada yang lari didalam diri. Sekedar menunggu kabar, sekedar meminta diperhatikan, sekedar minta dilirik, atau mungkin aku dengan senang hati mempersilakan kau memperkosaku. Pelan pelan menjerit tapi menikmati. Kawin seperti binatang. Ah halusinasi lagi. Aku bahkan belum meneguk apapun. Gelas ini masih dipegang kenceng ditangan kanan. Dan masih kosong.
Masih teringat kemarin itu adalah bahagia. Sekarang adalah bingung. Dan besok adalah pertanyaan. Seperti tiga suku kata yang berjejer mepet tapi beda satu sama lain. Saling galau semua. Kemarin aku masih ingat kamu meronta dibawah kaki minta ku tendangi. Bersiap berlutut seperti seekor anjing menjulurkan lidahnya. Meraba menjatuhkan aku. Lalu kau bermain denganku seakan cuma aku tuanmu. Kau bertingkah seakan semua akan sempurna dan aku adalah tuan yang sempurna. Mengambil setiap apa yang kulempar, mengejar setiap apa yang berlari. Dan kau cepat kembali mengembalikan apa yang ku lempar. Binatang yang cerdas. Lalu kau tidur disebelahku. Bernafas cepat menderu kesal. Seakan kau lelah bermain denganku. Mendengkur. Membolak balikkan badanmu mencari sisi nyenyakmu. Lalu kau merapat padaku. Memintaku membelaimu memelukmu dan menyanyikan nina bobo biar kau lebih terlelap. Dasar binatang. Kubiarkan kau tidur dibawah agar puasku memandangmu dari atas tempat tidurku. Kau milikku. Dan aku tuanmu.
Lalu entah seperti apa dunia berputar. Aku rasa porosnya berpindah tempat. Karena tak ada korelasi antara kemarin dan sekarang. Semula bumi yang saya rasa hebat jadi beruba tak lebih mirip bola basket yang bisa dipantulin ke ring dan menerobosnya. Jatuh. Memantul dan memantul lagi sampai selesai dan puas ia memantul. Dia gila dalam berputar. Kenapa kemarin dan sekarang adalah kata yang beda ? kenapa tak sedikit saja indentik ?
Sekarang….kau lebih mirip anjing rabies. Menggigit dan menyebar sakit. Membuat malam tak lebih dari sekedar malam gelisah. Mengejar setiap orang yang lewat. Berfikir bahwa mereka semua adalah tuanmu. Menendang setiap tongkat yang ku lempar dan menguburnya ditempat yang tidak ku tau. Tak pernah berlari padaku saat ku panggil namamu. Kau berlari menjauh seakan lupa nama panggilanmu. Dan membiarkan diriku tak mengenalimu lagi. Dasar anjing kampung ! kau tak mau lagi tidur dibawah kasurku ! tak lagi mendengkur seperti dulu..tak lagi membolak balikkan badanmu mencari sisi ternyamanmu…tak meminta kunina boboi lagi..tak sudi kutendangi..dan kau.. tak mau lagi bersimpu padaku. Dasar kau ANJING ! kau  buat malamku gelisah menunggumu pulang…kau buat aku membutuhkan penjagaanmu..kau buat aku mempermalukan diriku sendiri dengan menyukaimu.. seekor anjing ! dasar anjing kampung rabies !!
Kenapa mesti kau ciptakan kemarin..kalau tak bisa berkelanjutan sekarang dan berhubungan besok ? malam ini sudah larut sekali. Tapi tak mampu ku menutup mataku. Aku takut bumi memperlakukanku dengan jahat seperti apa yang aku rasakan sekarang. Aku tak mampu membayangkan apa yang lebih buruk tentang besok dan harus berahir hari ini. Ini masih belum benar. Ini masih membuatku gelisah. Kau seperti mengajakku berenang pada sebuah kolam penuh lintah yang siap menyedot segala darah yang aku punya…segala daya yang aku punya untuk bergerak. Lalu aku harus bilang apa sama besok ?
Ini sudah pukul tiga dini hari. Kata orang ini adalah esok. Kataku ini adalah hari ini. ini adalah sekarang. Mataku sudah membiru membuka lebih dari waktu bumi yang cuma duapuluh empat jam. Kini aku tertawa puas. “Mati kau bumi ! aku lebih hebat dari kau !” aku masih menengok kebawah kasurku, menunggu anjingku yang pulang membawa tongkat. Aku berharap ini adalah mimpi. Ah jangan bodoh…aku bahkan tidak tidur… gelas yang tadi kupegang erat sudah tak ada lagi ditanganku…kugenggam erat sampai pecah ditangan. Bahkan belum ada bir yang kutuang kedalamnya. Tapi gelas itu sudah hampir penuh air. Penuh air mataku yang sengaja kutampung. Merekatkannya pada pipiku agar tetes demi tetes yang keluar dari mataku menetes langsung masuk kedalamnya. Oh segitu saja sedihku. Dan saat aku tertawa aku menggenggamnya dan pecah ditanganku. Warnanya hitam air mata itu tercampur Mengeluarkan darah dari tangan kananku. Kini baru aku tau. Rabiesmu telah menjangkiti aku. Entah kapan. Darah hitam itu rabiesmu.
Yang kulakukan adalah mengeluarkan semua darah hitamku…terus mengeluarkannya sampai darah itu merah lagi. Sampai aku tau pasti racunmu telah keluar dengan sempurna. Tak apa menunggu waktu. Aku masih bisa mengalahkan bumi satu atau dua kali untuk memastikannya. Memastikan semuanya berahir dengan sempurna. Entah kau yang kembali atau aku memang yang harus pergi.

Sabtu, 03 Desember 2011

Bayangan Ia


Namanya Ia. Ia Cuma seorang perempuan biasa yang terkdang bisa jadi luarbiasa dan jadi biasa-biasa saja. Ia hanya hidup menghadapi mimpinya yang tinggi dan melambung. Terbang dan menembus apapun. Ia tak pernah takut apapun. Ia lahir dengan banyak kebisaan banyak kelebihan dan banyak banyak banyak lainnya. Ia bukan perempuan biasa dan sekedar Ia biasa.
Siang itu terik sekali. Ia memilih untuk tinggal dirumah sendiri. Ia memang selalu sendiri. Ia sanggup duduk berjam-jam hanya melihat rimbunnya pohon bambu dibelakang rumahnya. Ia sanggup duduk berlama-lama melihat bulan yang mengitari langit malamnya. Sendiri. Ia hanya tak tau harus bagaimana dan harus apa dan harus dengan siapa. Yang ia tau ia harus sendiri.
Suatu saat disendirinya, Ia memandang kaca besar dirumahnya. Berlama-lama ia duduk disana. Diam dan mengamati. Manisnya. Ia merasa akrap dengan bayangannya. Keesokannya sepulang kerja ia kembali lagi. Berlekas mengganti baju berdandan dan duduk lagi didepan kaca. Ia menikmatinya. Kini Ia tak sendiri. Ia terlengkapi. Ia memiliki kegiatan manis yang menjadi rutinitasnya. Ia memiliki bayangannya.
Kini Ia senantiasa tersenyum. Harinya cerah selalu. Tak pernah ia mengenal gundah dan sendiri. Ia memiliki bayangan yang senantiasa menempel pada jasad hidupnya. Menemani dibawah sinar matahari..berjalan bersama ketika langkahnya dimalam hari hanya diterangi sinar lampu…tersenyum saat semua terasa sulit dalam biasan air saat Ia butuh sekedar mencuci mukanya. Bayangan selalu ada. Bayangan selalu menemani Ia.
Semakin hari Ia semakin melekat pada bayangannya. Ia selalu dengan bangga memperkenalkan bayangannya. Ia senang Ia bahagia. Ia hanya lupa akan sesuatu. Bilang pada bayangan bahwa Ia bahagia dengannya. Terkadang ia hanya bersikap polos diam dan tak menanggapi. Terkadang bayangan hanya berada dibelakang Ia, sehingga ia tak pernah tau bagaimana Ia tersenyum didepan. Ia selalu lupa untuk bilang Ia senang.
Mereka berdua. Jalan tanpa arah. Bayangan selalu melakukan apa yang Ia lakukan. Mengikuti setiap gerakan Ia. Terkadang Ia bergerak terlalu cepat sampai-sampai bayangan susah mengikuti gerakan Ia. Terkadang Ia bergerak terlalu santai sampai bayangan menjadi mengantuk menghadapi Ia.
Bayangan mulai mempertanyakan perasaan Ia. Bayangan benar-benar tak tau apa yang ia rasakan. Apakan penampakan wajah senyum atau sedih ia yang tampil ketika bereka berada dibawah sinar matahari ? Apakah penampakan wajah Ia ketika mereka hanya berjalan dibawah sinar lampu jalanan ? Bayanyan penasaran…bayangan ingin tahu.. tapi Ia tak pernah bisa member tahu. Ia tak pernah bilang apa yang bayangan butuhkan. Sekedar kata sederhana yang terdiri dari 6 huruf. Sebuah kata yang bisa menggambarkan wajah tersenyumnya Ia sekalipun bayangan hanya memperkirakan dari belakang. SAYANG. Ia tak pernah bisa bilang. Ia hanya berharap bayangan mengerti tanpa perlu diberitahu. Karena semuanya udah cukup menggambarkan tanpa 6 huruf itu. Tapi bayangan tak mau tau dan terus memaksa. Ia sedih…Ia tak mampu melafalkan kata itu…setiap Ia baru mengucap “S” ia seperti terjebak terhadapan perasaan yang aneh yang ia sendiri takut hadapi. Sesuatu yang lebih menyeramkan ketimbang berada pada tebing tertinggi dan berjalan pada ketinggian lainnya. Ia tak mampu
Lama kelamaan bayangan membertanyakan perasaannya sendiri. Bayangan tak bisa membaca gerak gerik Ia. Ia tak bisa membaca apapun kecuali pikirannya yang selalu memaksa Ia berkata sekedar SAYANG. Tapi Ia sungguh tak bisa….Ia tak bisa bilang SA**NG..
tolong jangan rusak semua
km cukup jadi sempurna semampu saya buat
saya hanya butuh teduh saat km bilang "semua baik-baik saja sayang"
walau saya hanya bisa mendengar itu saat berpejam mata ini..
jangan rusak citramu sendiri..
saya mohon..
kita bisa bertahan lebih lama..saya tau itu :)
  
andai besok pagi kita bisa menjadi apa yg kita harapkan
maka kebatinan itu hilanglah sudah

Dan semua pun berubah. Mereka seperti selalu diam terpaku bingung mau melakukan apa. Mereka seperti selalu berfikiran buruk satu sama lain. Mereka selalu saling menyakiti dengan perasaan yang mereka punya masing-masing. Sampai suatu saat Ia tersadar, Ia hanya melihat pantulan kosong setiap ia bercemin. Tak ada lagi yang membalas senyum manisnya. Tak ada lagi yang memberikan Ia alasan duduk berjam-jam didepan kaca. Ia hanya bisa menangis karena ia kini tak lagi memiliki bayangan. Ia hanya duduk semu sendiri didepan kaca.
Ia mencari kemana-kemana. Ia kebingungan. Ia ingin tanya kenapa bayangan begitu memaksa….kenapa bayangan…menghilang. Ia tak pernah merasa lengkap lagi. Ia merasa semu sendiri saja. Ia bertanya dari orang ke orang..tapi tak ada jawabnya. Ia hanya bisa mencari dan sedih dengan ketidak lengkapannya.
Pada suatu saat perasaannya begitu dalam. Ia seperti tau bahwa saatnya sudah tiba untuk mereka bertemu lagi. Saat dimana ia bisa bertanya pada bayangan. Saat ketika sesungguhnya Ia pun tak tahu apakah bayangan akan benar-benar ada lagi atau tidak. Ia hanya menerka.
Ia nenunggunya disana. Sepanjang malam. Sepanjang Ia mampu menahan dingin pinggir-pinggir keramaian. Ia tau akan dtang. Ia tau akan sakit. Ia tetap menunggu. Dia memang manusia ANEH. Ia memilih sendiri. Maaf sendiri ? tidak…sendiri bukan pilihan..itu adalah keadaan. Dia masih menunggu bayangan refleksi bias kacanya datang. Bayangannya hilang empat bulan terahir. Ia seperti tersasar tak tau arah pulang. Bayangannya seperti lupa bagaimana pernah menjadi bayangan. Yang seharusnya setia mengikuti dalam setiap langkahnya. Dibawah sinar matahari, dibawah lampu jalan. Tapi kini ia sedang gundah. Ia melihat tak ada bayangan dalam langkah malamnya. Dalam dingin malam yang menembus pori-pori badannya.
Ia masih disana. Menanti disudut jalan. Menanti bayangan itu datang walau hanya sekelebat. Ia berjanji akan menjemputnya pulang. Malam semakin malam. Dan angin malam semakin jadi angin malam. Ia menunggu duduk diam melihat lantai aspal “Apa sudah datang bayanganku ?”. Dia senang begitu. Meihat dirinya sakit demi sakit merajai ujung-ujung saraf otak hingga lumpuh. Hingga tak mampu memberi komentar tentang apa yang harus dilakukannya. Dia menjadi GILA karena suka duduk sendiri melihat sesuatu yang entah akan menghiburnya atau akan membuatnya puas sementara. Ia tak perna suka menjadi GILA. Tapi gila adalah keharusan agar keringat dalam matanya itu ga terus-terusan mengucur ga karuan. Agar puas batin itu..walau sementara.
Dimana dia……..hatinya sekian lama jadi gundah gelisah. Jam mepet dan kemakan waktu. Dia ga bisa berfikir. Kekurangan oksigen membuatnya bingung tak beraturan. Hatinya sedang berhamburan. Tidakkah bayangan kangen ? tidakkah……TIDAK ! aaaaggggghhhhh ia menjadi manusia seonggok daging TAK BEROTAK. Tapi ia tetap dengan setia menanti bayangan yang ga kunjung datang. Ia lupa menaruh dimana otaknya. Tidak dijual dietalase dengan murah mungkin.
Tak seberapa lama. Sebenarnya cukup lama. Ada sesuatu yang terasa manis dan ia kenal lewat menerjang dinginnya malam. Ia berlari keras mengejarnya. Keringat matanya ia usap agar tak seorangpun tau. Bayangan, ia datang. Ia berusaha menepuk pundak bayangan dari belakang. Sekali..dua kali..tiga kali..empat kali….ia lelah…”bayangan ! aku disini nungguin kamu !” tak sabar ia berteriak sekeras suara yang mampu ia keluarkan. Bayangan pun menoleh lambat. Tampan, cantik, anggun, menawan. Ia menangis sebisanya…. “maaf aku tidak mengenalmu..aku salah mencari bayanganku..aku pikir kamu..” ia pulang. Ia sedih se sedih ia mampu. Karena ia menemui bayangan yang bahagia dan tak sama sedihnya dengannya.
Ia pulang melaju malam. Sakit….sakiiiit rasanya…melupakan bayangan yang pernah mengikuti dirinya kini menghilang. Ia berharap hilang ingatan saja..karena ia tahu saat ia tersadar nanti...ia akan jatuh cinta lagi pada bayangannya pada saat ia menemuinya…seperti dulu saat ia jatuh cinta pertama kali pada bayangannya…agar ia lupa pernah kehilangan bayangannya. Agar ia bisa lupa pernah ANEH, GILA, dan TAK PUNYA OTAK. Dan dia bisa becermin dengan sempurna. Melihat bayangannya membalas senyumannya. Walau sesungguhnya ia tak pernah tau apakah bayangannya akan jatuh seperti saat dulu mereka jatuh cinta lagi atau tidak. Sudahlah ia membanting semua kaca yang ada. Tak ada bayangan saat ini taka apa mungki. “mungkin” ia hanya perlu berkeringat pada matanya. Dan menunggu bayangan sadar dari lamunan panjangnya.

“bulan..sekalipun ga terlihat..tapi dia ada
Kamu cuma perlu kebelahan bumu lainnya buat melihatnya sempurna
Ga perlu diucapin tiap hari..tapi sayang itu selalu ada..
Cuma perlu liat dengan perspektif yang sedikit berbeda…”

Ia berjalan dari kegagalannya. Tanpa tersenyum atau bersedih. Ia melewati etalase pertokoan. Ia terhenti saat sebuah toko menjual sebuah kaca besar yang menawan berukir dari kayu pada bingkainya. Ia mendekat. Ia tersenyum. Ia mengenalnya.  Dia kembali.
“Apa etalase ini menjual sayang ?”
“tidak…tapi akan aku buat kamu menjualnya..”
Ia berjalan pulang…ia tersenyum..bayangannya kembali pulang…

Minggu, 10 Juli 2011

Empat sisi

               Saya memiliki rumah sederhana. Tidak bukan rumah. Hanya sebuah bangunan menyerupai rumah tapi hanya ruangan saja. Ruangan 4 sisi biasa saja. Ruangan yang hanya terdiri dari kaca besar menghiasi tiga sisinya dan sebuah tembok bata disisi lainnya yang tertempel daun pintu. Rumah itu sungguh sederana. Tak ada lekukan lain selain sisi-sisinya saja. Ruangan itu hanya berisikan sebuah sofa besar yang nyaman. Sofa warna coklat yang biasa dibuat duduk dan memanjakan pundak penggunanya untuk sekedar duduk berlama-lama disana.
Saya suka menghabiskan hari demi hari saya henya dengan sekedar duduk disana memperhatikan pemandangan. Ketiga sisi kaca ruangan saya selalu menyajikan kisah-kisah yang begitu menggugah hati untuk selalu memperhatikannya. Setiap kacanya memungkinkan saya untuk melihat keluar dan memperhatikan keadaan diluar tanpa perlu cemas orang lain akan melihat kedalam bangunan sederhana kepunyaan saya ini.
Sore ini seperti biasa saya duduk-duduk di sofa coklat saya. Memperhatikan kaca paling kanan diruangan saya itu. Saya melihat seorang perempuan disana. Ia sendirian bingung dan tampak galau. Kulitnya kuning langsat. Cantik dan manis. Ia duduk dan terus melihat kekanan dan kekiri. Terus mencari sesuatu yang tidak diketahui. Ia tampak sendiri. Maksudnya dalam arti yang tidak sebenarnya. Ia merasa sendirian ketika ia tau berada ditengah-tengah orang banyak. Saat ku melihat dan menembus mata kecilnya itu, aku dapat melihat pergerakan cepat memutar kekanan dan kekiri bola matanya yang hitam. Ia benar-benar tak tenang sekarang. Ia berdiri dan duduk. Ia berjalan dan kembali berhenti lalu duduk. Ia seperti mau melangkah..ia tau ia mampu melangkah..tapi saat ia memulai langkahnya seperti berat rasa kaki dan lemas semua terasa yang memaksa dia harus kembali dan berhenti. Hanya menunggu. Entah menunggu apa.
Aku melihat sisi paling kiri dari ruangan bersisi kaca milikku itu. Aku melihat lelaki tinggi tegap berdiri disana. Dengan kumis tipis dan baju rapih. Menggunakan dasi dengan warna senada dan jaket yang terlihat sedikit formal. Ia terus melihat jam tangannya. Apakah ia menanti sesuatu ? apakah ia terlambat ? ataukah orang yang ia nanti terlambat ? entahlah. Siapa saya..saya hanya bisa menerka-nerka penglihatan saya. Tapi saya bisa lihat ia gelisah. Ia berdiri lalu duduk. Melihat kejam tangannya. Melihat sekelilingnya. Berdiri lalu duduk. Melihat jam tangannya. Terus saja ia ulangi. Ya…sekarang saya yakin kalau dia sedang gelisah.
Aku berpaling dari sisi kiriku itu. Aku memandangi sisi tengahku. Yang aku lihat adalah sekelompok anak-anak kecil yang bernyanyi dalam sebuah paduan suara. Mereka menggunakan pakaian yang bermacam-macam seperti merayakan hallowin. Ada yang menjadi dakula, ada yang menjadi penyihir, ada yang menjadi peramal, ada yang jadi srigala, ada yang jadi frankenstain, tetapi anehnya ada anak yang memilih menjadi seorang bu kartini. Mereka semua berbeda-beda. Pasti bingar sekali berada disana. Ditengah anak-anak kecil berbagai rupa yang menyanyi teriak-teriakan. Walaupun saya sendiri tak mendengar suara mereka dari balik sisi kaca saya. Saya hanya melihat sekelompok berisik meminta permen dengan cara menyanyi. Tapi entahlah, mereka tampak harmonis. Ada yang berperan jahat. Ada yang berperan aneh. Ada yang bermuka dua. Ada yang berperan baik, atau mungkin sok baik. Ada yang berperan bodoh. Tapi mereka semua bisa berdiri berjajaran tanpa saling sikut dipanggung. Padahal atribut mereka terlihat menyusahkan teman sebelahnya. Tapi entahlah, aku tidak peduli. Sama seperti perempuan tadi. Sama seperti laki-laki tadi.
Dan kini hatiku terketuk lagi melihat sisi kananku. Melihat perempuan tadi. Ia masih melakukan rutinitas yang sama. Berdiri dan duduk. Berjalan lalu kembali. Ia tak memiliki pendirian. Ia melihat kesegala arah dan seperti berfikir keras. Dan melakukannya lagi. Kenapa dia aneh sekali ? heeeii bergerak ! klo kamu terus disitu diam aja dan takut jalan kamu bakal terus jadi orang aneh ! aku melihat ia mengeluarkan sebuah surat dari tasnya. Melihatnya dan berbinar. Ia membuatku tak mengerti. Ia hanya melakukan rutinitas yang aneh. Lalu tak seberapa lama ia pergi meninggalkan suratnya disana. Pergi meninggalkan bangku taman tadi.
Aku sedikit tertidur. Sofa coklatku ini memang luarbiasa nyamannya. Aku kini teringat dengan laki-laki disisi kiri kacaku. Ia masih disana. Kini kulihat dasi yang tadinya rapih sudah mengendur ikatannya. Jaket yang rapih sudah ditanggalkan dari badannya. Baju yang tertata rapi keluar berantakan. Lama pasti. Sampai ia jadi begitu berbeda. Dia masih melihat jam dan melihat sekitar. Pasti yang dinanti belum datang juga. Kenapa dia bisa sabar ? dasar bodoh ! kamu memiliki sebuah jam ditangan kirimu. Tapi kamu hanya membuang waktu menunggu yang tak pasti. Tak seberapa lama ia berdiri dari bangkunya itu. Terlihat ia menarik nafas panjang sekali. Lalu pergi meninggalkan tempat itu dengan langkah yang berat. Meninggalkan semua yang telah ia lalui tadi.
Disisi tengah ruanganku aku melihat anak-anak helowin tadi masih menyanyi. Bedanya sekarang mereka mendapatkan lebih banyak coklat pada keranjang makanan mereka. Tak seberapa lama merekapun selesai menyanyi. Dan beberapa diantaranya mengemasi hasil coklat pendapatan mereka. Terlihat akur sekali. Padahal make up mereka harusnya menakuti satu sama lain. Tak seberapa lama angin kencang menghembus. Menerbangkan sebuah surat. Seorang drakula mengambil dan membacanya. Ia menunjukkan kertas surat itu keteman-temannya. Satu sama lain tak saling mengerti. Dan ahirnya drakula kecil itupun melepas kertas surat itu dan terbang mendekat sisi kacaku. Merekapun pulang. Mengitari sisi sebelah kanan yang membelakangi sisi sebelah kiri. Dan yang lain melewati sisi kiri yang juga membelakangi sisi kanan.
Aku mengamati semua. Ketiga sisi dari kaca rumahku. Membiarkan semuanya pergi satu persatu. Lalu aku mendekat ke sisi tengah dimana surat itu jatuh. Tak terlalu jauh dan aku bisa membacanya. Isinya hanyalah kalimat pendek saja. “aku nunggu kamu, tapi kamu ga pernah datang. Sudah cukup semuanya”. Aku pun menghela nafas panjang. Bangkit dari sofa coklat nyamanku dan pergi meninggalkan rumah sederhanaku itu.
Ketiga sisi kaca rumahku memberikan cerita yang berbeda. Namun bisa terangkai menjadi satu jika keadaannya benar. Tapi entah mengapa semuanya hanya diam tanpa memberi jalan masing-masing terangkai menjadi satu. Andai aku bisa berbagi kursiku agar kalian melihat sisi yang tak terlihat. Dan membuat semua ceritanya menjadi benar. 

Jumat, 01 Juli 2011

feromon

       Sedah dua tahun sendiri. Terjebak dalam gencatan keinginan antara mampu menghadapi hidup sendiri atau harus berdua. Aduh terkadang setatus itu dijunjung dan diagungkan kayak ga ada yang lebih penting buat dibahas dan dikomentarin. “hai…sekarang pacarnya sapa ?” “hai..sekarang sama siapa ?” “hai….lalalala” halah CUIH ! apa sih yang manis dari hubungan percintaan ? realitanya ya juga cuma kayak berjongkok mengejan dikamar mandi..tak lebih melegakan dari pada itu
          Namaku adalah Monika. Beberapa kali orang memanggil saya cantik. Maka saya bisa mengambil kesimpulan bahwa ya tidak jelek-jelek banget saya ini. Saya adalah gadis keturunan jawa tulen. Tetapi kulit putih saya dan kelopak mata saya yang kecil membuat orang menyimpulkan saya adalah masih “keturunan” padahal sumpah saya jawa tulen. Ditambah perawakan saya  yang kecil ini aduh, sumpah saya memang jawa tulen. Rambut saya dulu pernah saya potong pendek, tetapi itu dulu ketika saya masih berusia 12 tahun karena tertular kutu oleh teman sekelas. B*ngs*t. Sekarang selebihnya rambut saya tak pernah lebih pendek dari dada saya.
          Umur saya sekarang 18 tahun. Muda, cantik, bersemangat, antusias, memiliki banyak mimpi. Saya mengikuti sebuah kelompok pecinta alam. Disanalah saya menemukan Banyu. Seorang yang menarik hati saya. dan saya rasa diapun begitu. Tertarik pada saya. Atau mungkin awalnya. Atau mungkin hanya perasaanku dan harapanku saja. Dia memiliki kulit yang sama putih denganku. Bertubuh tegap dan tinggi. Aku begitu terpesona olehnya. Semuanya begitu menyenangkan. Melihatnya saja aku sudah bisa senang membayangkan berada didekapannya. Oh hangatnya pasti.
         Awalnya kami hanya bertegur sapa selayaknya seorang anggota. Ya hanya bertegur sapa. Mencintainya membuat saya menjadi begitu puitis. Banyak bahasa planet yang keluar dari percakapan kita berdua. Sejujurnya aku bahkan tak pernah tertarink dengan yang orang bilang kesusastraan. Omong kosong. Tapi setelah sama dia….aaahhhhhhhh bunga layu pun bisa menjadi lagu cinta yang luar biasa merdu. Kata-katanya begitu bertutur kata dan tertata indah. Senyumnya yang biasa dan wajar saja membuat saya begitu…aaahhh entahlah. Aku suka dia.
         Enam bulan hubungan kita bersama. Maaf ??? hubungan kita ?? garis bawahi kata itu. Karena yang ada cumin “enam bulan kita bersama”. Karena yang ada cuma rasa yang ada dibalik pesan ponsel saja. Tak pernah ada rasa yang terungkap menjadi begitu realita. Tak pernah ada. Ia hanya menjadi begitu indah. Atau harusnya aku sadar kalau dia begitu indah dalam mimpiku saja. Tak pernah ada yang harus dilebih-lebihkan atau dikurang-kurangkan.
        Aku melihatnya setiap hari. Tapi rasa yang dulu menggebu itu tak pernah ada lagi. Disadari atau tidak, dia adalah seorang lelaki yang akan dengan senang hati untuk menggandeng seorang lelaki menaiki anak tangga ketimbang ketimbang menunggu seorang perempuan menaiki gunung Bromo. Saya sudah lonjat. Tetapi dia lebih memilih untuk tiarap. Saya sudah berlari jauuuuuh. Tetapi dia masih menunggu diam saja.
Perasaan yang dulu menggebu itu seperti loncat dari jetkoster dan lupa membawa parasut. Saya terjungkur dengan hati patah. Dan dia hanya dapat aku lihat pergi membelakangiku. Berjalan. Menggandeng. Menjauh. Dengan seorang peria yang setahun dua tahun lebih muda darinya.
Aku kalah. Aku kalah. Dan aku dikalahkan. Bukan oleh seorang perempuan cantik jelita yang luarbiasa cantik atau luar biasa pintar atau luarbisa kaya. Bukan. Tetapi oleh seorang lelaki tampan. Cuma lelaki tampan yang tak pernah lebih dari seorang perempuan cantik atau perempuan pintar atau bahkan perempuan yang luarbiasa kaya. Bukan. Perasaan sukaku dulu yang terbang-terbang seperti kupu-kupu menari diatas taman bunga berirama riang sekali tak pernah lebih dan tak pernah kurang dari sebuah lelucon belaka.
Perlahan-lahan perasaan tertatih itu aku bangun berdiri dengan fondasi sebisanya saja. Perlahan pergi menjauh dari keadaan yang ada saja. Selama bisa kusembuhkan sakitku sendiri aku bakal coba sendiri. Bukan meminta dan mengemis. Satus saya adalah sendiri.
Umur saya adalah 19 tahun. Saya masilah Monika yang seperti dulu. Yang membedakan adalah pemikiran yang lebih matang. Satu tahun membuat setiap orang menjadi lebih matang. Walau sejujurnya saya merasa lebih baik menjadi bocah saja. Saya masih Monika yang jawa tulen walau banyak orang yang tak percaya denganku. Saya masih seorang yang setahun lalu. Sama saja. Tak ada yang lebih berubah.
Saya selalu menyukai kesenian daerah. Menarik buat saya. Dan entah apa yang ada dipemikiran saya saat itu, saya mau saja menonton sebuah pertunjukan drama kampus yang bercorak humor. Acara tersebut berlatar belakang jawa, padahal sejujurnya sekalipun saya jawa tulen pengetahuan saya akan bahasa daerah Cuma enam saja. Jadi ya waktu nonton acara itu ya saya hanya diam dan tertawa seperlunya ketika saya tau artinya apaan. Dan sejujurnya saya hanya mengerti kalimat-kalimat makian dan kata-kata jorok saja. Karena ya memang kata-kata macam itu yang paling nancep dalam otak walaupun cuma dalam sekali belajar.
Disana diacara itu dimana saya hanya lebih sering duduk berfikir mencerna kata-kata, saya bertemu dengan dia. Manan. Seorang lelaki yang ganteng berkulit kuning dengan mata indah. Lebih berparas jawa. Dan saya tau dia pasti seorang jawa. Karena aku bisa melihat tawa jenakanya dalam pertunjukan itu. Lelaki yang lucu. Aku jadi tertawa. Bukan karena acara itu. Bukan. Saya bahkan tidak mengerti. Tetapi dia. Hahahahaa manis sekali. Selepas acara itu sudah berlalu begitu saja malam lucu yang aneh itu.
Suatu saat. Ketika tugas kuliah begitu membabi buta minta dijamahi saya hanya berhadapan pada computer jinjing saya saja seharian. Leti dan lelah itu pasti. Tapi perasaan yang lebih pasi adalah muak. Saat itu pula bergegas saya membuka situs jejaring yang saya harap bisa menghibur saya semenit dua menit. Tombol enter tertekan dengan begitu dinamis seiring kerja otakku yang melirik setiap pojok jendela layar komputer jinjingku itu. Berharap ada tanda bintang dimana-mana. Lalu nama itupun ada disana. Daftar orang yang mengantri menjadi temanku. Ya dia “Agus Manan”. Nama jawa yang lucu dan retro sekali.
Pesan dinding melayang setiap harinya. Membuat jejaring itu terasa tak hanya berwarna biru. Tetapi bisa jadi merah jambu, bisa jadi hijau toska, bisa jadi biru muda, bisa jadi ungu cerah, bisa jadi semua warna. Dia memang lucu sekali. Mas Manan. Hanya pesan sebaris dua baris kata saja saya bisa membayangkan ia tertawa lebar melihat ketropak humor. Intinya dia lucu sekali.
Rasa itu jadi menggebu setiap harinya. Beberapa kali kita meluangkan waktu hanya untuk sekedar meminum kopi atau makan bareng. Menjalin hubungan dengannya seperti memiliki investasi masa depan. Selalu ada keterkaitan disetiap perbincangan, selalu ada relasi dalam diskusi, selalu ada rasa yang terbang-terbangan. Dia begitu lucu.
Suatu saat ketika dirasa tepat baginya, ia menyatakan kata-kata fantastis yang juga dramatis buatku. “sayang kamu” . entahlah untung aku ga semaput karena semua serasa menari di lapangan rerumput ungu ditemani pelangi semua warna dengan berlari bersama baju berkain satin merah jambu. Oh sungguh dunia hayalan tingkat dewa. Luarbiasa.
Setelah tujuh hari hubungan kita berlalu, siang itu ia mengajak aku pergi makan siang bersama. Ia menunggu didepan rumah dengan baju warna hitam kesukaannya. Duduk diatas motor besarnya dengan tampannya. Lalu kami pun bertamasya. Tak terasa hari hampir sampai tengah hari di haru jumat. Ia hanya duduk didepanku menatap aku. Saat itu aku tersadar. Ia bukanlah laki-laki yang benar buatku. Azan siang itu tidak memanggilnya. Ia adalah seorang kristiani yang taat dan aku adalah seorang muslim. Tujuh hari aku menjadi kekasihnya tetapi sesuatu yang paling perinsip begitu mudah luput. Aku menghela nafas sesak yang ada.
Melihatnya membuat sakit membayangkan jalan yang ditempuh pasti beda. Ga ada lagi lapangan warna warni, baju manis, menari dihalaman, kupu-kupu yang berterbangan, pelangi, atau berlarian dihalaman. Yang ada cuma lapangan sepak bola becek, yang ada cuma baju tua peninggalan yang debuan, yang ada cuma tarian hula-hula pemanggil setan, yang ada cuma ulat hama yang ga mampu jadi kupu-kupu, yang ada cuma hujan yang ga reda-reda yang ga bisa nyiptain pelangi, yang ada cuma lucu menertawai diri sendiri. Mana mungkin hitam bergabung dengan putih ? mana ada putih tua ? mana ada hitam muda ? intinya……tidak mungkin.
Itu adalah saat terahir aku bertemu dengannya. Saat yang gak pernah terfikirkan sebelumnya sebelum aku permimpi yang indah-indah. Saat yang gak pernah…..ah tak pernah terbayang akan selucu itu.  *(T.T)

****
Lama sudah Mon sendiri. Tak pernah lagi ia menghitung berapa umurnya. Tak pernah beminat sedikit pun bermimpi muluk atau indah-indah. Yang ia tahu kini ia matang dan dewasa. Yang ia tau ia siap untuk siapapun yang siap menjajal perasaan dengannya.
Suatu saat dihari yang cerah di perkuliahan yang padat datanglas seorang Fero. Teman dari teman sekelas Mon. Dia memiliki postur tubuh tinggi dengan perawakan sedikit kurus dengan potongan rambut pendek. Mon sama sekali tidak memperhatikan orang itu yang hanya terlihat dari belakang. “Kenalin Mon temen gw, dulu waktu SMA sekelas”, kata temen Mon. Orang itu pun membalik badannya dan menjabat tangan Mon, “Fero” sapanya dengan senyum dipipi.
Begitulah perkenalan mereka. Mereka hanya berteman saja. Selayaknya pertemanan itu perlu. Sejauh pertemanan itu perlu. Hanya saja Mon tak pernah memperhatikan Fero sejauh ia inginkinkan. Suatu saat Fero lama tak terlihat dari permukaan. Tiba-tiba kamar Mon terketuk lembut dari luar. Dengan tertatih Mon membuka gagang pintu yang terasa dingin ditangannya. Diluar berdirilah Fero membawa sekotak coklat
”darah rendahnya kambuh ya”
“Dari mana kamu tau aku darah rendah ?”
“dari kamu…ga sadar pernah bilang ?”
“yampun senyimak itu ya….makasih loh coklatnya….”
Dan begitulah. Semuapun berjalan dengan adanya. Mon begitu menikmati pertemannya. Dan begitu saja. Mereka saling menyimak sejak saa itu.
Fero dapat mendaki gunung tinggi dengan mendorong Mon maju. Fero bisa memainkan lagu-lagu agar Mon bisa berdendang dengannya. Fero besa menjadi begitu lucu dan membuat Mon tertawa terbahak-bahak. Ia bisa melakukan banyak hal bersama. Menyenangkan berdua saja. Tak pernah ada perbedaan jalan. Tak ada awal yang dimulai dengan rencana yang disengaja. Semua begitu saja terjadi. Tak pernah ada perbedaan.
“Mon…kamu tau apa itu feromon ?”
“nama kamu sama nama aku…fero..mon…”
“bukan.”
“apa ?”
“itu adalah zat yang dimiliki mahluk hidup untuk tertarik sama lawan jenisnya”
“lalu…..”
“lalu kenapa kita tidak memilikinya.”
****
Orang itu pun membalik badannya dan menjabat tangan Mon, “Fero” sapanya dengan senyum dipipi. “Feronica”.

Sabtu, 12 Februari 2011

JONI

Saya adalah Joni. Dan saya masih dengan manis mendengar semua cerita kamu. Setelah lebih kita hanya berteman sekiranya sudah memasuki tahun keempat. Masih ingat bagaimana kamu dulu cuma anak SMA berkepang dua yang biasa saja. Dan dengan berubahnya zaman, presiden, dan urban mode kamu telah terbang dengan berbagai armada penerbangan. Menjadi sukses. Hebatnya kamu.

Saya adalah joni. Saya terenyum didepan seorang anak perumpuan yang baru berumur 16 tahun. Yang bercerita dengan menangis. Sial ! jelas saya adalah lelaki yang takmungkin bisa tahan melihat dia menangis ! saya tahu perempuan ini adalah perumpuan yang luar biasa..harusnya laki-laki itu tidak berbuat bodoh dengan mengecewakan perempuan ini ! perempuan luar biasa dimataku.perempuan yang laki-laki itu bilang hanya perempuan biasa.

Saya adalah Joni. Saya menjabat seorang perempuan hebat yang menjadi perempuan yang hebat dimata dunia kini. Sekarang bukan hanya saya yang mengakui wanita yang setahun lalu cuma perempuan berkepang dua. Sekarang kamu tak lagi duduk didepan saya bercerita.

Saya adalah Joni. Kamu duduk didepan saya membawa cerita tentang kehidupanmu yang mulai menapak berat lagi. saya duduk dan membuat keadaan senyaman mungkin. Tidak akan bertanya kenapa.,itu peraturannya. Yang perlu saya lakukan hanya membuat kamu cerah dengan senyum.

Saya memang hanya joni. Saya selalu setia mendengarkan kisah kamu. Saya adalah orang pertama yang akan datang kepada kamu waktu kamu memerlukan sekedar tangan untuk dipegang atau manusia yang cuma seonggok daging yang kamu butuhkan untuk mendengarkan semua ceritakamu. Saya memang hanya seorang joni. Yang bisa tersenyum senang dengan semua kesenangan kamu, walau saya tak pernah tau bagaimana kamu tersenyum karena saya hanya bisa melihat punggung kamu ketika kamu tertawa terbahak-bahak. Tak mengajak saya. Tak masalah.

Saya adalah Joni. Dan saya masih dengan manis mendengar semua cerita kamu. Setelah lebih kita hanya berteman sekiranya sudah memasuki tahun keempat. Masih ingat bagaimana kamu dulu cuma anak SMA berkepang dua yang biasa saja. Dan dengan berubahnya zaman, presiden, dan urban mode kamu telah terbang dengan berbagai armada penerbangan. Menjadi sukses. Hebatnya kamu.

Saya sudah berkali-kali menyebutkan nama saya. Saya hanya berharap kamu mengingatnya.