Jumat, 14 Desember 2012

Pasukan baret merah solo



Langit mulai senja siiring dengan panas badanku dihari pertama tinggal di sini. Tak pernah aku kenal sebelumnya..sungguh...ini kota apa ? tak pernah tuh diperhatikan sebelumnya kalau-kalau liat peta waktu masuh berseraham putih abu-abu apa putih biru. Saya tak pernah minta tinggal disini. Keadaan yang memaksa saya untuk bertemu gerbang kota ini kemarin. Meninggalkan kehidupan kota Jakarta yang macet dan orangnya berbicara lantang-lantang. Disini...semua orang berbicara pelan-pelan merunduk-merunduk dan senyum-senyum. Bahkan tukang becak pun bisanya cuma ngomong “monggo”.
Saya adalah Voca. Saya sedang sakit panas. Saya baru pindah. Mungkin ketiga kalimat tadi kalau digabung bisa menjadi seperti ini kira-kira,”saya belum siap pindah”. Saya harus pindah karena bapak saya yang tadinya kaya raya itu, yang tadinya ada empat mobil digarasi, yang tadinya rumahnya dua lantai, yang tadinya halaman rumahnya ada pohon mangganya, kini lagi dibalik jadi yang alhamdulilah punya punya rumah. Memang mungkin yang namanya kehidupan itu adalah sejenis permainan ular tangga. Yang kalau kena tangga bisa naik menanjak, yang kalau kena uler bisa jatuh tersungkur. Yah terserah aja sama kocokan dadu yang keluar maunya angka berapa.
Ini adalah kota Solo. Adalah kota Surakarta. Jangan tanya apa bedanya karena ya saya juga tidak tau. Kota ini hening, tenang, dan sedikit panas. Menyenangkan karena semua orang “monggo-monggo”, tidak menyenangkan karena saya harus belajar bahasa “monggo-monggo”. Panas kota ini yang mengiringi panas badanku seperti bersatu didalam kepala. Masih belum bisa keluar.
Saya adalah Voca. Saya baru pindah. Dan saya....belum menemukan kenapa saya harus menerima perpindahan ini, bukan hanya menerima kemiskinan ini. Tapi menerima apa alasan saya untuk jatuh cinta pada kota ini sebagaimana saya jatuh cinta pada monas dan mall-mall besar di Jakarta.

***
Lama sekali Voca harus menerima keadaannya atas perpindahannya. Kini setelah seminggu sakit panasnya hilang, dia bisa mulai berteman dengan panasnya kota Solo. Seminggu yang dia lalui dengan panasnya itu membuat Voca benar-benar tak memiliki teman. Atau mungkin hanya belum saja. Dia itu cantik, dia itu pintar, dia itu mudah berkawan. Mungkin hanya saja dia belum bisa dengan mahir bahasa “monggo-monggo”. Dia yang anak baru memang belum tau mau jadi apa dan harus bagaimana di kota itu.
Suatu hari ketika dia berjalan di jalan arteri kota Solo, di minggu pagi yang cerah, ketika semua orang membawa apa saja ke jalan itu sambil berolahraga atau sekedar jalan kece saja. Ada yang membawa sepeda, ada yang membawa sekuter, ada yang membawa raket bulutangkis, ada yang membawa bola, ada yang membawa anjing, bahkan yang lebih absurt lagi ada yang membawa ular sanca. Voca benar-benar baru tahu, selain manusia semua jenis mahluk pun ikut berpartisipasi dalam acara minggu pagi itu.
Ia menyusuri jalan yang panjang. Pelan....sebuah nada bermain di pendengarannya. Merdu, unik, dan menenangkan jiwa. “gundul..gundul pacul cul...gembelengaaaan...” serentak Voca lari mendekat. Ia berdiri didepan mereka. Sekelompok pemuda pemudi bernyani dengan ciamiknya. Menari kekanan kekiri. Dengan pakaian kebaya warna orange dan kain jarik yang diikat seadanya untuk perempuan dan baju sorjan serta celana komprang warna hitam. Benar-benar ciamik sekali. Solo Paduan Suara. “sak lataaaaaarrr.......” lagu itu pun selesai juga. Dan benar-benar menarik hati Voca. Tak pernah ia sejatuh cinta itu pada tatapan pertamanya. Pada pertemua pertamanya. Ia mencintai kesenian ini. Paduan suara.
Dengan semangat dan antusias Voca memiliki alasan untuk mencintai kota Solo. Ia menemukan sesuatu yang tak ia temukan sebelumnya. Dia mencari berbagai cara agar ia bisa menjadi bagian dan tontonannya kemarin. Ia berusaha dengan sekuat tenaganya mencintai apa yang ia lihat kemarin, dengan matanya...dengan telinganya..

***
Ketika bernyanyi bukan hanya sekedar apa yang mampu saya dengar, tetapi juga denga apa yang saya lihat, dan apa yang saya rasakan, sejak itu pula saya jatuh cinta pada paduan suara. Dan Solo Paduan Suara inilah yang benar-benar memberikan alasan saya menyukai kota Solo ini juga. Ya saya mau tinggal disini, dan saya bahagia disini.
Sebulan sudah saya bergabunng dengan paduan suara ini. Rasanya baru kemarin saya melihat mereka bernyanyi. Kini belajar notasi-notasi ini jadi makanan sehari-hari. Memahami bahasa “monggo-monggo” yang awalnya sedikit aneh. Dan semua kini ga bau-abu lagi di pendengaranku. Sering ku mendengar lagu ini sebenarnya. “Gundul gundul pacul” tetapi tanpa aransemen semacam ini. dan baru aku mengerti apa arti lagu anak-anak ini yang awalnya saya pikir hanya lagu mainan ank-anak saja. Ternyata setelah ditelaah artinya penuh dengan sindiran kepada yang mpunya yang rakus membuat “segonya dadi sak latar” hahahahaa.....tawaku sambil mengingat-ingat masa kejayaan bapak yang punya empat mobil digarasi, yang tadinya rumahnya dua lantai, yang tadinya halaman rumahnya ada pohon mangganya, kini lagi dibalik jadi yang alhamdulilah punya punya rumah.

***
Setahun sudah Voca berada di kota barunya. Tak pernah terasa sekarang. Dengan kesenian bernyanyinya pada paduan suara yang dimilikinya sekarang rasanya seperti semua itu terdengan bermelodi. Menyenangkan. Solo Paduan Suara memang merupakan paduan suara yang bagus. Banyak yang sudah mendengar kehebatannya. Tetapi, mereka hanya sekumpulan pemuda pemudi yang bernyanyi, bukan sekumpulan orang kaya yang bernyanyi. Setiap kali mereka bernyanyi dan pentas, merela selalu mencari cara menjual diri dengan bernyanyi untuk mendapatkan rupiah demi rupiah untuk sekedar membeli semeter dua meter kain buat dijait baru. Semua pencarian itu tak terasa menyusahkan, selama mereka bisa bernyanyi dan bisa melantunkan kesenian kesemua orang semua terasa sangat  menyenangkan.
Suatu ketika, ketika sebuah ajang paduan suara bertingkat Internasional mengirimkan undangan mengikuti perlombaan untuk Solo Paduan Suara. Cina, perlombaan itu diadakan di negara Cina. Negara yang mereka liat hanya lewat tayangan tv saja. Voca hanya terdiam melihati undangan itu. Ingin sekali ia menerbangkan semua pasukan Solo Paduan Suaranya terbang ke negara itu. Mencoba peruntungan mereka menyanyikan lagu jawanya. Lagu daerahnya. Tapi,......dengan apa ? mana mungkin ia bisa menerbangkan dua puluh lima penyanyi dengan seorang kondakter terbang melintasi laut kenegara yang awalnya hanya ia lihat di tv saja.
Dengan bulatnya tekat, mereka hanya  mencoba peruntungan mereka. Setiap hari mereka berlati sepulang sekolah. Dari jam empar sore sampai langin sudah tidak biru lagi. Mereka terus berlatih. Dan pada ahir pekan mereka berputar-putar mengelilingi kota dengan sekotak kotak amal bernyanyi untuk rupiah rupiah yang mereka kumpulkan untuk lomba. Dengan semua sumbangan itu mereka berharap sisa waktu yang mereka miliki cukup untuk terbang ke Cina mengikuti lomba paduan suara tingkat Internasional itu. Setiap seribu dua ribu adalah pundi-pundi pengumpulan dana untuk mereka.
Mereka mencoba memasukkan proposal-proposal donatur ke berbagai tempat. Bahkan intansi kesenian yang memiliki label “pegawai negri”. Tapi entah mengapa lantunan nada-nada berbahasa “monggo-monggo” yang katanya kesenian Indonesia itu tidak dilirik oleh mereka. Voca hanya bisa membesarkan diri dan terus memberikan semangat kepada teman-temannya. Berusaha seakan-akan semua akan lebih baik untuk mereka yang memiliki niatan mengumandangkan nyanyian-nyanyian mereka kemata dunia.

***
Saya tak pernah putus asa. Saya mencintai paduan suara sejak saya melihatnya. Dan saya berharap ada orang lain yang juga jatuh cinta pada kami sejak mendengarkan kami. Saya percaya kalau tuhan memiliki sentuhan terahir untuk setiap jeri payah umatnya. Setiap nyi-nyiran orang-orang yang menolak membuka proposal kami, yah semoga saja mereka bisa melihat ga cuma dengan mata, tapi juga dengan hati dan telinga.
Setiap detik menuju besok hanya membuat saya menjadi lebih deg-degani apakah saya ini hanya memberikan pengharapan palsu kepada Solo Paduan Suara. Apakah salah saya yang bukan asli Solo ini ingin membawa nama kota Solo yang jarang diingat orang ini terbang ke negara Cina, dikenal khalayak Internasional ? saya hanya mencintai paduan suara. Dan saya harap akan lebih banyak yang mencintai apa yang saya cintai sekarang.

***
Tinggal dua bulan lagi. Dan pundi-pundi keuangan Solo Paduan Suara masih jauh dari sekedar cukup. Mereka terus bekerja keras mencari setiap rupiah yang mungkin didapatkkan untuk membawa mereka terbang ke Cina. Untuk membawa kota Solo terbang ke Cina. Untuk membawa Indonesia terbang ke Cina. Dengan setiap tetesan air mata selepas solat malam. Dengan setiap tetesan air mata selepas kontak doa. Dengan semua perbedaan dan semua tujuan yang sama tak pernah berhenti Solo Paduan Suara berdoa.
Seatu saat ketika Solo Paduan Suara sedang mengamen di pasar malam Ngarsopuro kota Solo, ketika mereka dengan semangat menyanyi melantunkan nada demi nada....

***
“Nyunggi...nyunggi wakul kul..gembelengan..wakul nglimpang sengone ndadi sak latar...” kunyanyikan lagu itu ketika tiba-tiba ada seorang berpakaian safari dengan begitu banyak ajudan menepuk pundakku.
“Sapa yang bertanggung jawab sama kelompok seni ini dek ?”
“Sayak pak...”
“lanjutkan dulu nyanyinya....”
Saya tak mengerti dan melanjutkan saja nyanyian kami. Tak mengerti dengan siapa laki-laki dengan baju safari itu. Dan hendak apa dia.
Setelah selesai satu lagu itu kunyanyikan, kembali ku bertemu dengan laki-laki dengan baju safari itu.
“iyah pak ada apa ya pak ?”
“saya suka loh sama paduan suaramu itu..sudah saya perhatikan beberapa minggu kemarin”
“oh ya pak ? wah terima kasih...”
“mau lomba to mbak ke Cina?”
“iya pak...insaallah...tapi nggak tau pak..masih banyak nol nya pak ditabungan kami yang kurang”
“ha..ha..ha..semangat ya mba...ini saya paringi..”
“oh iya pak trimakasi banyak yah pak....”
Kuambil sebuah kotak yang laki-laki itu berikan seiring kepergiannya menyusuri pasar malam. Tak berfikir apa yang ada didalam kota itu. Kami hanya melanjutkan menyanyi lagi dipasar malam itu. Seorang ajudan berpakaian rapi menghampiri saya dan berkata pelan sekali,”mba..sudah pulang saja..minggu depan ngamennya dilanjut lagi”. Saya tk mengerti. Benar-benar tak mengerti. Setelah selesai lagu terahir, saya bubarkan teman-teman sayang di pasar malam itu.
Saya pulang bersama seorang kawan saya. Mas Bintang. Kita berboncengan pulang kerumah saya yang memang dekat dengan rumahnya. Saya mengajak dia mampir sebentar untuk mengintip apa yang ada didalam kotak. Kubuka pelan-pelan..deg-degan juga yah. Kulihat dari intipan itu terlihat kertas tersusun rapi. Kubuka perlahan lebih lebar. Betapa terkejutnya aku ketika melihat itu adalah tumpukan uang ! dan lebih kaget lagi ketika aku melihat itu adalah tumpukan uang dolar. Astaga ! saya benar-benar merasakan tangan tuhan berada dekat dengan saya dan Solo Paduan Suara sekarang. Air mata ini menetes. Tidak-tidak sudah bukan menetes lagi..tetapi mengalir dengan derasnya. Sangat deras.

***
Voca seperti mendapatkan durian runtuh. Membuat mimpi panjangnya bukan sekedar mimpi lagi sekarang. Dia sudah bangun untuk mewujudkannya. Menjadi sebuah kenyataan. Menjemput impiannya membawa kota Solo ke negri Cina dan membawa Indonesia di negri Cina. Semua persipan disiapkan dengan begitu ciamik membuat semua orang bersemangat. Cina didepan mata.
Semua air mata dan perjuangan terbayar ketika pesawat itu melesat ke sana. Membawa mimpi semua orang yang terwakili dan pengharapan yang tak kunjung padam membara. Perjuangan yang sesungguhnya baru saja dimulai. Mereka sampai di negara Cina. Disambut denga kelompok paduan suara dari berbagai negara. Dari yang berkulit hitam, dari yang berkulit putih, dari yang berkulit kuning, dari yang berkulit sawo matang, dari yang tinggi-tinggi, sampai yang pendek-pendek semua ada disana. Mereka pun sangat bersemangat.
Solo Paduan Suara mendapatkan penginapan yang jauh dari peserta lainnya. Jauh dari bagus, jauh dari lokasi lomba, jauh dari yang dibayangkan dari “jalan-jalan”. Mereka tidak sedang “jalan-jalan” masalahnya. Jadi dengan segala kekurangan paduan suara termiskin itu mereka sudah terbiasa. Terbiasa susah. Mereka berlatih di tempat parkir karena tidak mampu menyewa sebuag tempat latihan yang mahal untuk mereka. Tak apa, semua sudah lebih dari cukup untuk Voca.

***
Hari itu pun tiba. Hari lomba. Saya sudah memakai jarik yang dililit dibadan membentuk kemben dengan konde dan riasan. Beranting dan berkalung. Baru kali ini saya merasa sangat menjadi orang Jawa ketika saya sudah jauh dari pulau Jawa. Ketika lampu sorot itu menyorot pada kami, dan ribuan mata memandang dari berbagai negara, saya siap berjuang. “Gundul...gundul pacul cul..gembelengam..nyunggi nyunggi wakul..kul.. gembelengan...wakul nglimpang segone ndadi sak latar...eee..eyak ee” lagu gundul-gundul paculpun menggema di daratan Cina. Memecah keheningan. Kembali teringat ketika saya begitu jatuh cinta pada paduan suara lewat lagu ini. ketika saya menemukan jati diri apa yang harus saya lakukan kedepannya. Kami pun selesai menuntaskan misi budaya kami. Membuat pulau Jawa kini dikenal. Membawa kota Solo jalan-jalan ke negri Cina.
Kami tak berharap apapun...kami hanyak iklas karena misi kami sudah selesai. Melihat begitu banyak paduan suara bernyanyi dan memperkenalkan kesenian mereka. Sampai pada saat yang membuat kami bergandengan tangan membaca segala macam doa menyatukan hati dalam keiklasan. Pengumuman pun dimulai. Semua kategori dan penghargaan dibacakan. Dimulai dari brown mendali lalu dilanjutkan ke silver mendali. Dan masuk lah ke pembacaan gold mendali. Hati kami dag dig dug tak karuan. Nama Solo Paduan Suara tidak dipanggil-panggil. Kami seperti berharap akan sesuatu yang dirasa mustahil. Dan memang nama kami tidak dipanggil. Kami hanya tersenyum satu sama lain. Mengucap sukur sudah berada sejauh ini ke negara ini. “And Grand Champion is......Solo Paduan Suara !!!!!!” kami berpaling. Apa ! ini ga mimpi kan ! kami adalah juara umum ! pemenang dari pemenang !! aku berlari membawa bendera merah putih ke atas panggung. Menangis dan terus mengangis lebih deras. Pantas nama kami tidak dipanggil dipengumuman pemberian mendali, karena kami mendapatkan piala. Betapa terharu melihat bendera merah putih digantung di tengah panggung disaksikan ribuan pasang mata dari ratusan paduan suara yang berasal dari berbagai macam negara. Dan Indonesia raya pun dikumandangkan. Haru demi haru kami persembahkan kemenangan ini untuk kota Solo, dan Indonesia. Kami pulang dengan membawa sesuatu yang tak terpikirkan sebelumnya. Mimpi kami yang awalnya hanya sekedar mimpi anak kemarin sore.
Kami disambut disana. Di kota Solo. Dirumah saya. Dengan membawa gelar juara kami. Grand Champion folklore category. Mimpi ini tidak akan terwujud, sampai saya bangun dan membuatnya menjadi nyata. Kami adalah Solo Paduan Suara. Kami adalah pasukan baret merah kota Solo. Kami akan terus bernyanyi dan membuat semua orang jatuh cinta dengan kesenian kami. Paduan suara.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar