Langit
mulai senja siiring dengan panas badanku dihari pertama tinggal di sini. Tak
pernah aku kenal sebelumnya..sungguh...ini kota apa ? tak pernah tuh
diperhatikan sebelumnya kalau-kalau liat peta waktu masuh berseraham putih abu-abu
apa putih biru. Saya tak pernah minta tinggal disini. Keadaan yang memaksa saya
untuk bertemu gerbang kota ini kemarin. Meninggalkan kehidupan kota Jakarta
yang macet dan orangnya berbicara lantang-lantang. Disini...semua orang
berbicara pelan-pelan merunduk-merunduk dan senyum-senyum. Bahkan tukang becak
pun bisanya cuma ngomong “monggo”.
Saya
adalah Voca. Saya sedang sakit panas. Saya baru pindah. Mungkin ketiga kalimat
tadi kalau digabung bisa menjadi seperti ini kira-kira,”saya belum siap pindah”.
Saya harus pindah karena bapak saya yang tadinya kaya raya itu, yang tadinya
ada empat mobil digarasi, yang tadinya rumahnya dua lantai, yang tadinya
halaman rumahnya ada pohon mangganya, kini lagi dibalik jadi yang alhamdulilah punya punya rumah. Memang
mungkin yang namanya kehidupan itu adalah sejenis permainan ular tangga. Yang
kalau kena tangga bisa naik menanjak, yang kalau kena uler bisa jatuh
tersungkur. Yah terserah aja sama kocokan dadu yang keluar maunya angka berapa.
Ini
adalah kota Solo. Adalah kota Surakarta. Jangan tanya apa bedanya karena ya
saya juga tidak tau. Kota ini hening, tenang, dan sedikit panas. Menyenangkan
karena semua orang “monggo-monggo”, tidak menyenangkan karena saya harus
belajar bahasa “monggo-monggo”. Panas kota ini yang mengiringi panas badanku
seperti bersatu didalam kepala. Masih belum bisa keluar.
Saya
adalah Voca. Saya baru pindah. Dan saya....belum menemukan kenapa saya harus
menerima perpindahan ini, bukan hanya menerima kemiskinan ini. Tapi menerima
apa alasan saya untuk jatuh cinta pada kota ini sebagaimana saya jatuh cinta
pada monas dan mall-mall besar di Jakarta.
***
Lama
sekali Voca harus menerima keadaannya atas perpindahannya. Kini setelah
seminggu sakit panasnya hilang, dia bisa mulai berteman dengan panasnya kota
Solo. Seminggu yang dia lalui dengan panasnya itu membuat Voca benar-benar tak
memiliki teman. Atau mungkin hanya belum saja. Dia itu cantik, dia itu pintar,
dia itu mudah berkawan. Mungkin hanya saja dia belum bisa dengan mahir bahasa
“monggo-monggo”. Dia yang anak baru memang belum tau mau jadi apa dan harus
bagaimana di kota itu.
Suatu
hari ketika dia berjalan di jalan arteri kota Solo, di minggu pagi yang cerah,
ketika semua orang membawa apa saja ke jalan itu sambil berolahraga atau
sekedar jalan kece saja. Ada yang
membawa sepeda, ada yang membawa sekuter, ada yang membawa raket bulutangkis,
ada yang membawa bola, ada yang membawa anjing, bahkan yang lebih absurt lagi
ada yang membawa ular sanca. Voca benar-benar baru tahu, selain manusia semua
jenis mahluk pun ikut berpartisipasi dalam acara minggu pagi itu.
Ia
menyusuri jalan yang panjang. Pelan....sebuah nada bermain di pendengarannya.
Merdu, unik, dan menenangkan jiwa. “gundul..gundul
pacul cul...gembelengaaaan...” serentak Voca lari mendekat. Ia berdiri
didepan mereka. Sekelompok pemuda pemudi bernyani dengan ciamiknya. Menari
kekanan kekiri. Dengan pakaian kebaya warna orange dan kain jarik yang diikat
seadanya untuk perempuan dan baju sorjan serta celana komprang warna hitam.
Benar-benar ciamik sekali. Solo Paduan Suara. “sak lataaaaaarrr.......” lagu itu pun selesai juga. Dan benar-benar
menarik hati Voca. Tak pernah ia sejatuh cinta itu pada tatapan pertamanya.
Pada pertemua pertamanya. Ia mencintai kesenian ini. Paduan suara.
Dengan
semangat dan antusias Voca memiliki alasan untuk mencintai kota Solo. Ia
menemukan sesuatu yang tak ia temukan sebelumnya. Dia mencari berbagai cara
agar ia bisa menjadi bagian dan tontonannya kemarin. Ia berusaha dengan sekuat
tenaganya mencintai apa yang ia lihat kemarin, dengan matanya...dengan
telinganya..
***
Ketika
bernyanyi bukan hanya sekedar apa yang mampu saya dengar, tetapi juga denga apa
yang saya lihat, dan apa yang saya rasakan, sejak itu pula saya jatuh cinta
pada paduan suara. Dan Solo Paduan Suara inilah yang benar-benar memberikan
alasan saya menyukai kota Solo ini juga. Ya saya mau tinggal disini, dan saya
bahagia disini.
Sebulan
sudah saya bergabunng dengan paduan suara ini. Rasanya baru kemarin saya
melihat mereka bernyanyi. Kini belajar notasi-notasi ini jadi makanan
sehari-hari. Memahami bahasa “monggo-monggo” yang awalnya sedikit aneh. Dan
semua kini ga bau-abu lagi di pendengaranku. Sering ku mendengar lagu ini
sebenarnya. “Gundul gundul pacul” tetapi tanpa aransemen semacam ini. dan baru
aku mengerti apa arti lagu anak-anak ini yang awalnya saya pikir hanya lagu
mainan ank-anak saja. Ternyata setelah ditelaah artinya penuh dengan sindiran
kepada yang mpunya yang rakus membuat
“segonya dadi sak latar”
hahahahaa.....tawaku sambil mengingat-ingat masa kejayaan bapak yang punya
empat mobil digarasi, yang tadinya rumahnya dua lantai, yang tadinya halaman
rumahnya ada pohon mangganya, kini lagi dibalik jadi yang alhamdulilah punya punya rumah.
***
Setahun
sudah Voca berada di kota barunya. Tak pernah terasa sekarang. Dengan kesenian
bernyanyinya pada paduan suara yang dimilikinya sekarang rasanya seperti semua
itu terdengan bermelodi. Menyenangkan. Solo Paduan Suara memang merupakan
paduan suara yang bagus. Banyak yang sudah mendengar kehebatannya. Tetapi,
mereka hanya sekumpulan pemuda pemudi yang bernyanyi, bukan sekumpulan orang
kaya yang bernyanyi. Setiap kali mereka bernyanyi dan pentas, merela selalu
mencari cara menjual diri dengan bernyanyi untuk mendapatkan rupiah demi rupiah
untuk sekedar membeli semeter dua meter kain buat dijait baru. Semua pencarian
itu tak terasa menyusahkan, selama mereka bisa bernyanyi dan bisa melantunkan
kesenian kesemua orang semua terasa sangat
menyenangkan.
Suatu
ketika, ketika sebuah ajang paduan suara bertingkat Internasional mengirimkan
undangan mengikuti perlombaan untuk Solo Paduan Suara. Cina, perlombaan itu
diadakan di negara Cina. Negara yang mereka liat hanya lewat tayangan tv saja. Voca
hanya terdiam melihati undangan itu. Ingin sekali ia menerbangkan semua pasukan
Solo Paduan Suaranya terbang ke negara itu. Mencoba peruntungan mereka
menyanyikan lagu jawanya. Lagu daerahnya. Tapi,......dengan apa ? mana mungkin
ia bisa menerbangkan dua puluh lima penyanyi dengan seorang kondakter terbang
melintasi laut kenegara yang awalnya hanya ia lihat di tv saja.
Dengan
bulatnya tekat, mereka hanya mencoba
peruntungan mereka. Setiap hari mereka berlati sepulang sekolah. Dari jam empar
sore sampai langin sudah tidak biru lagi. Mereka terus berlatih. Dan pada ahir
pekan mereka berputar-putar mengelilingi kota dengan sekotak kotak amal
bernyanyi untuk rupiah rupiah yang mereka kumpulkan untuk lomba. Dengan semua
sumbangan itu mereka berharap sisa waktu yang mereka miliki cukup untuk terbang
ke Cina mengikuti lomba paduan suara tingkat Internasional itu. Setiap seribu
dua ribu adalah pundi-pundi pengumpulan dana untuk mereka.
Mereka
mencoba memasukkan proposal-proposal donatur ke berbagai tempat. Bahkan intansi
kesenian yang memiliki label “pegawai negri”. Tapi entah mengapa lantunan
nada-nada berbahasa “monggo-monggo” yang katanya kesenian Indonesia itu tidak
dilirik oleh mereka. Voca hanya bisa membesarkan diri dan terus memberikan
semangat kepada teman-temannya. Berusaha seakan-akan semua akan lebih baik
untuk mereka yang memiliki niatan mengumandangkan nyanyian-nyanyian mereka
kemata dunia.
***
Saya
tak pernah putus asa. Saya mencintai paduan suara sejak saya melihatnya. Dan
saya berharap ada orang lain yang juga jatuh cinta pada kami sejak mendengarkan
kami. Saya percaya kalau tuhan memiliki sentuhan terahir untuk setiap jeri
payah umatnya. Setiap nyi-nyiran orang-orang yang menolak membuka proposal
kami, yah semoga saja mereka bisa melihat ga cuma dengan mata, tapi juga dengan
hati dan telinga.
Setiap
detik menuju besok hanya membuat saya menjadi lebih deg-degani apakah saya ini hanya memberikan pengharapan palsu
kepada Solo Paduan Suara. Apakah salah saya yang bukan asli Solo ini ingin
membawa nama kota Solo yang jarang diingat orang ini terbang ke negara Cina,
dikenal khalayak Internasional ? saya hanya mencintai paduan suara. Dan saya
harap akan lebih banyak yang mencintai apa yang saya cintai sekarang.
***
Tinggal
dua bulan lagi. Dan pundi-pundi keuangan Solo Paduan Suara masih jauh dari
sekedar cukup. Mereka terus bekerja keras mencari setiap rupiah yang mungkin
didapatkkan untuk membawa mereka terbang ke Cina. Untuk membawa kota Solo
terbang ke Cina. Untuk membawa Indonesia terbang ke Cina. Dengan setiap tetesan
air mata selepas solat malam. Dengan setiap tetesan air mata selepas kontak
doa. Dengan semua perbedaan dan semua tujuan yang sama tak pernah berhenti Solo
Paduan Suara berdoa.
Seatu
saat ketika Solo Paduan Suara sedang mengamen di pasar malam Ngarsopuro kota Solo, ketika mereka dengan
semangat menyanyi melantunkan nada demi nada....
***
“Nyunggi...nyunggi
wakul kul..gembelengan..wakul nglimpang sengone ndadi sak latar...” kunyanyikan
lagu itu ketika tiba-tiba ada seorang berpakaian safari dengan begitu banyak
ajudan menepuk pundakku.
“Sapa yang bertanggung jawab sama
kelompok seni ini dek ?”
“Sayak pak...”
“lanjutkan dulu nyanyinya....”
Saya tak mengerti dan melanjutkan saja
nyanyian kami. Tak mengerti dengan siapa laki-laki dengan baju safari itu. Dan
hendak apa dia.
Setelah selesai satu
lagu itu kunyanyikan, kembali ku bertemu dengan laki-laki dengan baju safari
itu.
“iyah pak ada apa ya pak ?”
“saya suka loh sama paduan suaramu
itu..sudah saya perhatikan beberapa minggu kemarin”
“oh ya pak ? wah terima kasih...”
“mau lomba to mbak ke Cina?”
“iya pak...insaallah...tapi nggak tau
pak..masih banyak nol nya pak ditabungan kami yang kurang”
“ha..ha..ha..semangat ya mba...ini saya
paringi..”
“oh iya pak trimakasi banyak yah
pak....”
Kuambil sebuah kotak yang laki-laki itu
berikan seiring kepergiannya menyusuri pasar malam. Tak berfikir apa yang ada
didalam kota itu. Kami hanya melanjutkan menyanyi lagi dipasar malam itu.
Seorang ajudan berpakaian rapi menghampiri saya dan berkata pelan
sekali,”mba..sudah pulang saja..minggu depan ngamennya dilanjut lagi”. Saya tk mengerti. Benar-benar tak
mengerti. Setelah selesai lagu terahir, saya bubarkan teman-teman sayang di
pasar malam itu.
Saya pulang bersama
seorang kawan saya. Mas Bintang. Kita berboncengan pulang kerumah saya yang
memang dekat dengan rumahnya. Saya mengajak dia mampir sebentar untuk mengintip
apa yang ada didalam kotak. Kubuka pelan-pelan..deg-degan juga yah. Kulihat dari intipan itu terlihat kertas
tersusun rapi. Kubuka perlahan lebih lebar. Betapa terkejutnya aku ketika
melihat itu adalah tumpukan uang ! dan lebih kaget lagi ketika aku melihat itu
adalah tumpukan uang dolar. Astaga ! saya benar-benar merasakan tangan tuhan
berada dekat dengan saya dan Solo Paduan Suara sekarang. Air mata ini menetes.
Tidak-tidak sudah bukan menetes lagi..tetapi mengalir dengan derasnya. Sangat
deras.
***
Voca seperti
mendapatkan durian runtuh. Membuat mimpi panjangnya bukan sekedar mimpi lagi
sekarang. Dia sudah bangun untuk mewujudkannya. Menjadi sebuah kenyataan.
Menjemput impiannya membawa kota Solo ke negri Cina dan membawa Indonesia di
negri Cina. Semua persipan disiapkan dengan begitu ciamik membuat semua orang bersemangat. Cina didepan mata.
Semua air mata dan
perjuangan terbayar ketika pesawat itu melesat ke sana. Membawa mimpi semua
orang yang terwakili dan pengharapan yang tak kunjung padam membara. Perjuangan
yang sesungguhnya baru saja dimulai. Mereka sampai di negara Cina. Disambut
denga kelompok paduan suara dari berbagai negara. Dari yang berkulit hitam,
dari yang berkulit putih, dari yang berkulit kuning, dari yang berkulit sawo
matang, dari yang tinggi-tinggi, sampai yang pendek-pendek semua ada disana.
Mereka pun sangat bersemangat.
Solo Paduan Suara
mendapatkan penginapan yang jauh dari peserta lainnya. Jauh dari bagus, jauh
dari lokasi lomba, jauh dari yang dibayangkan dari “jalan-jalan”. Mereka tidak
sedang “jalan-jalan” masalahnya. Jadi dengan segala kekurangan paduan suara
termiskin itu mereka sudah terbiasa. Terbiasa susah. Mereka berlatih di tempat
parkir karena tidak mampu menyewa sebuag tempat latihan yang mahal untuk
mereka. Tak apa, semua sudah lebih dari cukup untuk Voca.
***
Hari itu pun tiba. Hari
lomba. Saya sudah memakai jarik yang dililit dibadan membentuk kemben dengan
konde dan riasan. Beranting dan berkalung. Baru kali ini saya merasa sangat
menjadi orang Jawa ketika saya sudah jauh dari pulau Jawa. Ketika lampu sorot
itu menyorot pada kami, dan ribuan mata memandang dari berbagai negara, saya
siap berjuang. “Gundul...gundul pacul
cul..gembelengam..nyunggi nyunggi wakul..kul.. gembelengan...wakul nglimpang
segone ndadi sak latar...eee..eyak ee” lagu gundul-gundul paculpun menggema
di daratan Cina. Memecah keheningan. Kembali teringat ketika saya begitu jatuh
cinta pada paduan suara lewat lagu ini. ketika saya menemukan jati diri apa
yang harus saya lakukan kedepannya. Kami pun selesai menuntaskan misi budaya
kami. Membuat pulau Jawa kini dikenal. Membawa kota Solo jalan-jalan ke negri
Cina.
Kami tak berharap
apapun...kami hanyak iklas karena misi kami sudah selesai. Melihat begitu banyak
paduan suara bernyanyi dan memperkenalkan kesenian mereka. Sampai pada saat
yang membuat kami bergandengan tangan membaca segala macam doa menyatukan hati
dalam keiklasan. Pengumuman pun dimulai. Semua kategori dan penghargaan
dibacakan. Dimulai dari brown mendali
lalu dilanjutkan ke silver mendali.
Dan masuk lah ke pembacaan gold mendali.
Hati kami dag dig dug tak karuan.
Nama Solo Paduan Suara tidak dipanggil-panggil. Kami seperti berharap akan
sesuatu yang dirasa mustahil. Dan memang nama kami tidak dipanggil. Kami hanya
tersenyum satu sama lain. Mengucap sukur sudah berada sejauh ini ke negara ini.
“And Grand Champion is......Solo Paduan Suara !!!!!!” kami berpaling. Apa ! ini
ga mimpi kan ! kami adalah juara umum ! pemenang dari pemenang !! aku berlari
membawa bendera merah putih ke atas panggung. Menangis dan terus mengangis
lebih deras. Pantas nama kami tidak dipanggil dipengumuman pemberian mendali,
karena kami mendapatkan piala. Betapa terharu melihat bendera merah putih
digantung di tengah panggung disaksikan ribuan pasang mata dari ratusan paduan
suara yang berasal dari berbagai macam negara. Dan Indonesia raya pun
dikumandangkan. Haru demi haru kami persembahkan kemenangan ini untuk kota
Solo, dan Indonesia. Kami pulang dengan membawa sesuatu yang tak terpikirkan
sebelumnya. Mimpi kami yang awalnya hanya sekedar mimpi anak kemarin sore.
Kami disambut disana.
Di kota Solo. Dirumah saya. Dengan membawa gelar juara kami. Grand Champion folklore category. Mimpi
ini tidak akan terwujud, sampai saya bangun dan membuatnya menjadi nyata. Kami
adalah Solo Paduan Suara. Kami adalah pasukan baret merah kota Solo. Kami akan
terus bernyanyi dan membuat semua orang jatuh cinta dengan kesenian kami.
Paduan suara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar