Saya memiliki rumah sederhana. Tidak bukan rumah. Hanya sebuah bangunan menyerupai rumah tapi hanya ruangan saja. Ruangan 4 sisi biasa saja. Ruangan yang hanya terdiri dari kaca besar menghiasi tiga sisinya dan sebuah tembok bata disisi lainnya yang tertempel daun pintu. Rumah itu sungguh sederana. Tak ada lekukan lain selain sisi-sisinya saja. Ruangan itu hanya berisikan sebuah sofa besar yang nyaman. Sofa warna coklat yang biasa dibuat duduk dan memanjakan pundak penggunanya untuk sekedar duduk berlama-lama disana.
Saya suka menghabiskan hari demi hari saya henya dengan sekedar duduk disana memperhatikan pemandangan. Ketiga sisi kaca ruangan saya selalu menyajikan kisah-kisah yang begitu menggugah hati untuk selalu memperhatikannya. Setiap kacanya memungkinkan saya untuk melihat keluar dan memperhatikan keadaan diluar tanpa perlu cemas orang lain akan melihat kedalam bangunan sederhana kepunyaan saya ini.
Sore ini seperti biasa saya duduk-duduk di sofa coklat saya. Memperhatikan kaca paling kanan diruangan saya itu. Saya melihat seorang perempuan disana. Ia sendirian bingung dan tampak galau. Kulitnya kuning langsat. Cantik dan manis. Ia duduk dan terus melihat kekanan dan kekiri. Terus mencari sesuatu yang tidak diketahui. Ia tampak sendiri. Maksudnya dalam arti yang tidak sebenarnya. Ia merasa sendirian ketika ia tau berada ditengah-tengah orang banyak. Saat ku melihat dan menembus mata kecilnya itu, aku dapat melihat pergerakan cepat memutar kekanan dan kekiri bola matanya yang hitam. Ia benar-benar tak tenang sekarang. Ia berdiri dan duduk. Ia berjalan dan kembali berhenti lalu duduk. Ia seperti mau melangkah..ia tau ia mampu melangkah..tapi saat ia memulai langkahnya seperti berat rasa kaki dan lemas semua terasa yang memaksa dia harus kembali dan berhenti. Hanya menunggu. Entah menunggu apa.
Aku melihat sisi paling kiri dari ruangan bersisi kaca milikku itu. Aku melihat lelaki tinggi tegap berdiri disana. Dengan kumis tipis dan baju rapih. Menggunakan dasi dengan warna senada dan jaket yang terlihat sedikit formal. Ia terus melihat jam tangannya. Apakah ia menanti sesuatu ? apakah ia terlambat ? ataukah orang yang ia nanti terlambat ? entahlah. Siapa saya..saya hanya bisa menerka-nerka penglihatan saya. Tapi saya bisa lihat ia gelisah. Ia berdiri lalu duduk. Melihat kejam tangannya. Melihat sekelilingnya. Berdiri lalu duduk. Melihat jam tangannya. Terus saja ia ulangi. Ya…sekarang saya yakin kalau dia sedang gelisah.
Aku berpaling dari sisi kiriku itu. Aku memandangi sisi tengahku. Yang aku lihat adalah sekelompok anak-anak kecil yang bernyanyi dalam sebuah paduan suara. Mereka menggunakan pakaian yang bermacam-macam seperti merayakan hallowin. Ada yang menjadi dakula, ada yang menjadi penyihir, ada yang menjadi peramal, ada yang jadi srigala, ada yang jadi frankenstain, tetapi anehnya ada anak yang memilih menjadi seorang bu kartini. Mereka semua berbeda-beda. Pasti bingar sekali berada disana. Ditengah anak-anak kecil berbagai rupa yang menyanyi teriak-teriakan. Walaupun saya sendiri tak mendengar suara mereka dari balik sisi kaca saya. Saya hanya melihat sekelompok berisik meminta permen dengan cara menyanyi. Tapi entahlah, mereka tampak harmonis. Ada yang berperan jahat. Ada yang berperan aneh. Ada yang bermuka dua. Ada yang berperan baik, atau mungkin sok baik. Ada yang berperan bodoh. Tapi mereka semua bisa berdiri berjajaran tanpa saling sikut dipanggung. Padahal atribut mereka terlihat menyusahkan teman sebelahnya. Tapi entahlah, aku tidak peduli. Sama seperti perempuan tadi. Sama seperti laki-laki tadi.
Dan kini hatiku terketuk lagi melihat sisi kananku. Melihat perempuan tadi. Ia masih melakukan rutinitas yang sama. Berdiri dan duduk. Berjalan lalu kembali. Ia tak memiliki pendirian. Ia melihat kesegala arah dan seperti berfikir keras. Dan melakukannya lagi. Kenapa dia aneh sekali ? heeeii bergerak ! klo kamu terus disitu diam aja dan takut jalan kamu bakal terus jadi orang aneh ! aku melihat ia mengeluarkan sebuah surat dari tasnya. Melihatnya dan berbinar. Ia membuatku tak mengerti. Ia hanya melakukan rutinitas yang aneh. Lalu tak seberapa lama ia pergi meninggalkan suratnya disana. Pergi meninggalkan bangku taman tadi.
Aku sedikit tertidur. Sofa coklatku ini memang luarbiasa nyamannya. Aku kini teringat dengan laki-laki disisi kiri kacaku. Ia masih disana. Kini kulihat dasi yang tadinya rapih sudah mengendur ikatannya. Jaket yang rapih sudah ditanggalkan dari badannya. Baju yang tertata rapi keluar berantakan. Lama pasti. Sampai ia jadi begitu berbeda. Dia masih melihat jam dan melihat sekitar. Pasti yang dinanti belum datang juga. Kenapa dia bisa sabar ? dasar bodoh ! kamu memiliki sebuah jam ditangan kirimu. Tapi kamu hanya membuang waktu menunggu yang tak pasti. Tak seberapa lama ia berdiri dari bangkunya itu. Terlihat ia menarik nafas panjang sekali. Lalu pergi meninggalkan tempat itu dengan langkah yang berat. Meninggalkan semua yang telah ia lalui tadi.
Disisi tengah ruanganku aku melihat anak-anak helowin tadi masih menyanyi. Bedanya sekarang mereka mendapatkan lebih banyak coklat pada keranjang makanan mereka. Tak seberapa lama merekapun selesai menyanyi. Dan beberapa diantaranya mengemasi hasil coklat pendapatan mereka. Terlihat akur sekali. Padahal make up mereka harusnya menakuti satu sama lain. Tak seberapa lama angin kencang menghembus. Menerbangkan sebuah surat. Seorang drakula mengambil dan membacanya. Ia menunjukkan kertas surat itu keteman-temannya. Satu sama lain tak saling mengerti. Dan ahirnya drakula kecil itupun melepas kertas surat itu dan terbang mendekat sisi kacaku. Merekapun pulang. Mengitari sisi sebelah kanan yang membelakangi sisi sebelah kiri. Dan yang lain melewati sisi kiri yang juga membelakangi sisi kanan.
Aku mengamati semua. Ketiga sisi dari kaca rumahku. Membiarkan semuanya pergi satu persatu. Lalu aku mendekat ke sisi tengah dimana surat itu jatuh. Tak terlalu jauh dan aku bisa membacanya. Isinya hanyalah kalimat pendek saja. “aku nunggu kamu, tapi kamu ga pernah datang. Sudah cukup semuanya”. Aku pun menghela nafas panjang. Bangkit dari sofa coklat nyamanku dan pergi meninggalkan rumah sederhanaku itu.
Ketiga sisi kaca rumahku memberikan cerita yang berbeda. Namun bisa terangkai menjadi satu jika keadaannya benar. Tapi entah mengapa semuanya hanya diam tanpa memberi jalan masing-masing terangkai menjadi satu. Andai aku bisa berbagi kursiku agar kalian melihat sisi yang tak terlihat. Dan membuat semua ceritanya menjadi benar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar