Si bungsu itu memang sumber kesialan. Terlaknat yang pernah ku tau. Mengapa bukan dia yang menjadi ibu ? mengapa bukan aku yang menjadi si bungsu ? dan terlebih mengapa..mengapa dia mesti bermuka aku ?! Mengapa mesti ada dia ? mengapa tak hanya ada ibu ? mengpa terlalu banyak mengapa ?
Yang aku tau dulu aku memiliki ibu. Memiliki ayah. Memiliki aku. Lalu setelah dua menit aku memiliki ibu dan ayah lalu aku memiliki si bungsu. Tapi ibu pergi dan akulah ibu. Setelah itu ayahku pergi meninggalkan kami karena diperibu oleh perempuan jalang lainnya. Sama seperti ibu mungkin. Dan kini sama seperti aku. Ibu.
Si bungsu tak pernah peduli dengan kehidupan cacat kita. Yang ia tahu ia adalah si bungsu dan aku adalah ibu. Dan kami hidup tanpa ayah yang ayah. Bila ku ingat betapa susah menjadi ibu. Aku harus menyusui diriku sendiri yang sedang menangis,aku harus menyusui si bungsu yang lagi menangis pula,aku harus memasak padahal aku tak tau apa itu memasak,aku harus mencium bau jalang pada pakaian ayahku yang kucuci,aku harus mendengar erangan perih istri tetangga yang kamarnya hanya bertutupkan semen batu tak seberapa tebal. Aku benci menjadi ibu diumurku yang begitu muda. Aku benci mesti berbagi hidup dengan si bungsu yang jelas aku tau bahwa ialah penyebab ibu tak ada.
Jika bisa aku menulis surat untuk ibu. Aku akan menulis untuk meminta ibu tak melahirkan si bungsu yang membuatnya tak ada atau setidaknya memintaku untuk tidak dilahirkan agar aku tak perlu menjadi ibu. Jika bisa aku menulis untuk ibu aku akan menulis rengekan yang tak pernah bisa kubagi dengan siapapun yang pernah ada didunia ini. Bahkan dengan si bungsu. Aku akan merengek sebisaku,memujanya,dan memintanya agar sudi untuk bertukar tempat dengan aku karena tak layak menjadi ibu yang ibu bagi si bungsu. Tapi aku tak bisa menulis surat karena lagi-lagi ibu tak mengajariku apa-apa.
Ibu…aku benci menjadi ibu ! yang harus mendengar gundah gelisahnya si bungsu dan gundah gelisah hidupku sendiri. Harusnya ibulah yang melakukan itu. Aku benci ibu yang membuatku tak berdaya hidup dengan cacat. Aku benci ibu yang pergi tanpa mengajarkan apapun kepadaku. Aku benci menjadi ibu yang tak berayah yang ayah. Aku benci dibudaki hidup untuk merengek mencari ibu. Betapa sialnya engkau ibu yang begitu tega membiarkan aku menangis dalam pelukan angin yang terus mengkeroposi tulang demi tulangku yang menolak menjadi ibu. Pantas saja kau memilih pergi ! karena kau ingin aku yang menanggung bebanmu untuk menjadi ibu bukan !! sial !! jalang !!
“Ibuku malang..,ibuku sial..,tak berhutang aku kepadamu..lalala..”
“ibuku jalang..,ibuku hilang..,akulah ibu…lalala..”
Ibu. Aku mungkin harusnya masih bermimpi untuk menjadi ibu,bukan jadi ibu. Bukan pula diperibu oleh ayah sendiri..bukan pula menjadi ibu si bungsu yang bermuka sama denganku itu. bukan itu…bukan menjadi anak jalang yang menjajaki ayahnya sendiri..bukan..bukan ibu yang itu…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar