Sekarang saya cuma jadi pencerpen yang bingung mau nulis apa. Kertas yang kosong ini sebenernya mengganggu. Sebenernya terlampau banyak….banyak sekali cerita yang harusnya bisa dijadikan cerita, tapi rasa-rasanya semua kata-kata yang ada udah kekunci dan ga mau sekali-kali keluar. Rasa-rasanya semua kata-kata hambur-hamburan ga jelas menolak untuk ditulis apa lagi diceritain. Saya butuh menulis ! saya butuh cerita ! tapi semua cerita jadi beleber kalau saya masukkin kedalam kertas kosong ini….saya harus menulis ! biar tak lupa apa yang harus saya ceritakan melalui cerita ini..biar tak lupa dunia menganggap saya dalam bentuk visual yang beda.
Kaca masih saja duduk didepan komputernya yang menyala berkedip sesekali menunggu kata apa yang akan jadi mula dari ceritanya malam ini. Dia binggung dengan apa yang harus ditulis, binggung dengan apa yang mesti diceritakan pada kertas-kertasnya. Ia butuh cerita…cerita yang telah lama merusak hidupnya..cerita yang terlalu lama ia pendam sendiri. Sampai-sampai ketika ia merasa harus mulai untuk bercerita lagi, emosi yang ada sudah berhamburan keluar. Sehingga ia sendiri lupa dengan apa yang kira-kira harus dijadikan awal dari ceritanya. Karena cerita yang awalnya ada terlalu lama disimpan dalam kotak yang ia bangun rapi-rapi dan ia sendiri lupa menaruh dimana kuncinya. Ia sudah duduk dua jam lamanya menghadapi komputer yang menyala dan berkedip sesekali kepadanya tanpa tau apa yang mesti diceritakan.
Apa yang harus saya mulai !! datang cerita ! datang kata ! kenapa kalian pergi waktu saya butuh…saya butuh cerita biar ga kebakar tenggorokan ini ! saya harus diingat sama orang ! saya ingin idiologi saya merasuk kehati setiap oreng…saya boleh mati..tapi tidak tulisan saya..tidak cerita saya ! oke akan saya awali dengan sebuah kata..kata yang harus punya makna dalam cerita saya..kata yang biasa tapi bisa jadi luarbiasa waktu orang mendengarnya atau membacanya..sebuah kata yang “hidup”.
Kaca mulai mengeja kata pertamanya H-I-D-U-P …. Dan ia terdiam lagi lama menunggu kata keduanya tergelincir dari jari jemarinya yang kaku dan keju setelah lama tak bercerita. Ia mati gaya. Sesekali matanya mengernyitkan alis meninggi sambil berfikir apa yang akan ia lakukan setelahnya. Berfikir dan menarik nafas panjang. Kadang ia menghembuskannya lama sekali. Kadang ia berharap tidak menghembuskannya bahkan. Lalu entah mengapa ia mulai ingat dengan Bumi kekasihnya yang harus ia tinggal karena keegoisannya, karena keegoisan mereka. Karena kata sayang yang terlalu mahal dijual Kaca, karena kata sayang yang selalu dinanti Bumi. Sampai lelah Bumi menunggu…mungkin Bumi lupa kalau Kaca adalah bukan perempuan yang biasa. Lebih tepatnya yang biasa menggumbar sayang dengan murah. Ia lebih suka mengatakannya lewat cerita-ceritanya dalam kertas. Cerita dalam kertas yang dihantarkannya tiap malam buat Bumi. Cerita yang mungkin tak dipahami Bumi yang tak suka bercerita. Cerita yang ak pernah cocok untuk bumi yang tak berfilosof. Cerita yang ga bisa menggugah kepekaan Bumi.
HIDUP….ada apa dengan hidup ? saya tidak mungkin berfilosofi disini. Saya saja tidak menjalani ‘hidup’ dengan bahagia. Hidup saya adalah Bumi yang baru saya tinggal, baru saya selingkuhin…..saya jadi heran, kenapa saya ga bisa bilang sekedar ‘sayang’ kepada orang yang saya ‘sayang’ tapi malah lebih mudah mengumbar ‘sayang’ sama orang yang ga saya ‘sayang’ ? Bumi membuat saya gila ! hidup juga buat saya gila ! lalu saya harus bercerita tentang kegilaan ini !! kata yang bodoh..Bumi yang bodoh..saya yang….yang…yang ga bisa h.i.d.u.p dengan alasan yang bisa membuat saya hidup. Bumi. Dasar gila.
Jari-jarinya mulai meluwes sejenak. Menari singkat dan sejenak. Kaca menulis kelanjutan kata hidup…ia mengetik G-I-L-A setelah selesai ia membentuk kata hidup. Dan ia lagi-lagi terdiam dan merenung melihat kertasnya yang hanya terisi dua kata. Ia merasa tak mampu bercerita. Dia kehabisan cerita. Dan bahkan dia kehabisan alasan untuk bercerita.
Saya mati gaya. Saya ga tau harus menggerakkan apa lagi. Saya miskin dengan semua apa yang saya punya. Lihat kertas didepan saya..kosong ! Cuma kata aneh yang saya tulis. Cuma dua kata pula. “hidup gila”. Penulis macam apa saya ini. Dasar miskin.
Kaca menoleh kekanan dan kekiri meregangkan otot-otot kakunya didepan computer, diatas kursi mencari ilham. Ia memutar-mutar pinggangnya kekanan dan kekiri. Ia berhenti diputaran kedua. Kaca. Ia melihat Kaca berada dalam kaca. Ia tersenyum geli melihat dirinya yang bernama Kaca terkurung dalam benda yang juga bernama kaca. Ia merasa kaca dan Kaca memiliki banyak kesamaan. Terkurung, dingin, datar, dan mudah pecah. Semoga Kaca yang didalamnya bisa keluar dari kaca itu, gumamnya dalam hati.
----
“Kaca kamu tau ga…teman itu ga boleh ada di belakang..karena dia itu bukan pembantu..ga boleh ada didepan..karena dia itu bukan pemimpin..bukan sekedar ada disebelah aja..tapi juga digandeng..biar waktu temen itu jatoh, kita adalah orang pertama yang tau dan bisa nolong dia”, ujar Luna yang tersenyum didepan Kaca. Kaca tersenyum mendengarnya. Ia merasa semua adalah cerita yang harus diceritakan kepada setiap orang. Bahwa ia merasa dipedulikan oleh seseorang. Seseorang yang sangat agung yang ia bilang ‘sahabat’. Sesuatu yang menjadi istimewa. “Jangan pernah tersasar ya Luna…biar kita bisa bergandengan tangan..biar km bisa menggapai aku waktu aku jatoh..kamu tau benar kalau saya bodoh..”, balas Kaca yang penuh pengharapan. Sambil meminum segelas kopi panas mereka berbincang-bincang. Perbincangan bodoh tentunya. Antara dua sahabat bodoh.
-----
Tiba-tiba teringat seseorang didepan meja komputernya. Ia merasa mendapat pencerahan Mengingat sesuatu. Ia tersenyum dengan menahan keawa sambil kembang kempis hidungnya. Sesuatu yang teringat bodoh. Ya ia mengingat sahabat bodohnya. Luna. Terasa bersalah sebenarnya atas perasaannya yang mengingat Luna ketika mendesak. Kaca merasa penuh dosa mengingat Luna ketika ia sedang kesusahan. Tapi kan hidup Kaca penuh dengan kesusahan ? Ya setidaknya ia akan terus mengingat Luna. Akan lebih sedikit waktu dimana ia melupakan Luna. Saat ia bahagia.
Gila. Kenapa aku inget Luna ? pasti aku lagi kesusahan. Yampun….aku kangen deh sama Luna. Kangen karena aku memang harus kangen sama dia. Kangen karena dia emank ngangenin. Kangen karena aku ga punya pilihan untuk ga kangen sama dia. Kangen karena variable yang berbeda. Karena dia adalah seseorang yang saya bilang ‘sahabat’. Kangen karena dia adalah cerita. Hidup itu emang gila ya…pasti orang nganggep kalau saya ini suka sama Luna. Tapi akan lebih gila lagi kalau saya ga menemukan Luna untuk dikangenin. Ya saya kangen Luna dan saya tidak ‘menyukainya’…dia adalah sahabat saya..setidaknya itu yang saya fikirkan.
----
085781677*** = BUMI
“halo…Bumi….aku…(bilang sayang !!!)..aku..hmmmm…(bilang SAYANG !!)…”
“kenapa Kaca ?.. km kenapa ?”
“aku…(ayo bilang SAYANG bodoh !!!)..aku…hmmm…AKU BENCI KAMU !”
“aku juga BENCI kamu…”
“agggggggghhhhhhhhhhh….”
“tut…tut…tut………”
085640736*** = LUNA
“halo….”
“ia kenapa Kaca ?”
“km sibuk ga ?”
“ia lagi lembur nih dikantor…knp ?”
“hm….sebenernya mau cerita…”
“oohh…telpon Bulan aja…”
“ga mau.”
“kaca ?”
“tut…tut…tut….”
Bumi menjadi media gagap…..Luna……ia tersasar dan lepas gandengan…mereka semua ilang dan tersesat….Dia patah lagi hatinya…karena cerita itu tak bisa keluar..masih tak bisa keluar..karena bukan ia yang ingin…tapi keadaannya yang memaksa. Memaksa agar tak mengeluarkan cerita. Keadaan yang membuat ia tidak bisa bercerita sampai lupa dan meluap sudah cerita yang ia punya. Sampai ga tau lagi apa yang menjadi cerita. Sampai tak ada lagi media hanya sekedar untuk bercerita..
----
Ini sudah lima jam saya duduk didepan computer saya. Dan yang ada cuma dua kata bodoh yang tak menceritakan apa-apa. Lalu ku hapus semua apa yang ada. HIDUP GILA. Kertas saya kosong lagi. Emosi ini di guyur air lagi setelah tadi dibakar api yang berkibar-kibar. Emosi saya hampa. Tak bisa cerita. Hanya diam melihati kertas putih kosong yang menjadi cerita saya hari ini. Saya tak punya apa-apa. Cuma sekedar kerta kosong yang tak bercerita. Atau mungkin bahkan bercerita banyak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar