Disebuah perumahan yang kata orang cukup mewahlah disana didirikan rumah kami.Cukup megah untuk keluarga yang hanya terdiri dari tiga orang.Aku,ibu,dan ayahku.Tanpa ada yang lain.Suatu sore ada ringikkan tangis yang mengganggu pendengaran kami sekeluarga.Ibuku keluar rumah.Ayahku keluar rumah.Dan aku keluar rumah.Ternyata ada seekor kecoa sedang menangis dipintu gerbang.Sayapnya usak terkoyak.Warnanya coklat sedikit kotor.Ibuku tampak peduli.Ayahku tampak sok peduli.Aku sama sekali tidak peduli.Ibuku memutuskan untuk memelihara kecoa itu.Ayahku memutuskan untuk memelihara pula.Aku memutuskan tidak ambil pusing.Aku memang tak pernah suka kecoa.
Aku berumur sebelas tahun ketika kecoa itu tinggal dirumah kami.Tidak ada kamar untuk kandang kecoa itu,maka kamar yang paling terbelakanglah yang disebut gudang yang diberikan untuk kecoa itu tetap hidup.Ibuku membayar kecoa itu.Ia si kecoa menjilati setiap perkakas dengan air liurnya yang menjijikan yang ibuku bilang perkejaan yang bagus.Ia menjilati pula setiap ujung lantai dirumah kami.Tak tertinggal sedikitpun noda. Tapi ku tetap tidak pernah suka kecoa.
Setiap pagi aku berangkat sekolah karen aku murid.Setiap pagi ayahku memotret karena ia seorang fotografer.Setiap pagi ibuku bekerja karena ia pemilik perusahaan besar.Ia lebih tangguh dibanding ayah.Setiap pagi kecoa memasak sebelum kami kemana-mana.Tapi masakannya tidak pernah enak menurutkua.Karena aku tak pernah suka kecoa.
Lama kelamaan sayap kecoa itu tumbuh lebih baik dari pertama aku,ibu,dan ayah temukan.Dan sekarang warnanya sudah menjadi coklat bersih.Tapi tetap saja aku tak suka kecoa.
Suatu saat pekerjaan kecoa menjilati seluruh perkakas sudah selesai.Pekerjaannya menjilati seluruh lantai pun sudah selesai.Suatu saat pekerjaan ayah memotret sudah selesai.Suatu saat pekerkaan ibu belum juga selesai.Seautu saat bel sekolahku belum juga berdering.
Tak kusangka kecoa menjilati tubuh ayah.Tak kusangka ayah meotret setiap likuk tubuh kecoa yang sedang meliuk-liuk menjilati tubuh ayah.Tak kusangka mereka tak puas hanya dengan saling menjilati dan memotret saja.Mereka melakukan kegiatan yang membuat ibu menikahi ayah dulu.Awal yang awal sebelum aku menjadi embrio.Awal yang penuh desah dalam kamar.Awal yang masih tetap dilakukan ketika malam hari oleh ibu ketiaka aku sudah terlelap tidur.Awal yang kini dilakukan oleh kecoa dan ayah didalam kamar gudang tanpa busana.Lalu mereka puas.Lalu mereka keluar.Lalu mereka pura-pura tak tahu apa-apa.
Tak seberapa lama kecoa hamper menjelma menjadi ibu kecoa.Ibuku tak habis pikir mengapa kecoa juga menjilati barang sensitive yang harusnya hanya dimilikinya dan dinikmatinya sendiri.Lalu ayah bilang padaku aku akan menjadi seorang kakak.Aku Tanya kapan ibu mengandung ? Ayahku hanya menjawab dengan diam.Aku bertanya kepada ibu ? lalu ibuku hanya memberi pengampunan kepada ayah dan calon adekku nanti.
Tak seberapa lama kecoa melahirkan kutu.Aku tak sudi beradikkan kutu ! Kutu itu tumbuh rakus dalam rumah kami.Ia menyita sebuah ruangan lagi yang dijadikan kandangnya dirumah kami.Aku bilang pada ibu kalau aku tak suka kutu.Ibuku diam saja.Akurasa ibu juga tak suka kutu.Suatu hari kutu itu tumbuh didalam rambutku.Ia merayap membuatku menggaruk-garuk rambutku.Kutu mencari perhatian.Dasar kutu sial ! aku tambah tak suka kutu.Terlebih kecoa.
Suatu hari ketika umurku bertambah menjadi 17 tahun,ayah memberikanku uang yang sangat banyak.Ia juga mengadakan pesta besar-besaran didalam rumah kami.Sayang aku tak bias menikmati pesta ulangtahunku karena aku merasa rumahku begitu banyak serangga.Aku kerap kali bilang bahwa aku ingin memotong saja rambutku agar tak berkutu lagi.Tapi ibu tak pernah mengijnkan.Padahal ia jelas-jelas tahu begitu gatal kutu-kutu itu ketika menggerayangi rambutku.Padahal ibuku juga tahu rasanya karena ibuku juga memiliki rambut yang sama panjang menjuntai seperti aku.Selesai pesta yang ayah buatkan untukku masih banyak sekali uang yang aku punyai.Disuatu hari aku pergi tanpa pamit.Ketika pulang aku membawa begitu banyak obat serangga,karena beralasan begitu banyak nyamuk dikamar kusemprotkan semua obat nyamuk itu mengitari rumah.Ternyata kebencianku pada serangga membunuh semua serangga dalam rumahku.Kecoa mati terbaring kaku dengan badan yang terbalik.Kutu mati kupites ketika ia lompat dari rambutku karena sekarat oleh obat seranggaku.
Ketika ayah tahu kecoa dan kutunya mati,ia memukuli tubuhku bertubi-tubi,menamparku bertubi-tubi,memakiku dengan membabi buta,menangis dengan terisak-isak.Melempar tubuh mungilku sejauh ia biasa
Ketika ibuku tahu kecoa dan kutu mati,ia memukuli tubuhku dengan terimakasih yang tak langsung ia ucapkan,menamparku dengan senyuman yang dalam yang pernah kulihat setelah 6 tahun belakangan ini,memakiku dengan pujian-pujian sayang,menangis karena hari kemenangan,melemparku dalam pelukan yang hangat.
Setelah lama setelah setiap orang tahu apa yang aku lakukan kepada kecoa dan kutu,mereka menghadiahkan sebuah ruangan kecil yang terpisah dari kesedihan ayah dan kemerdekaan ibu.Tempat yang tak leluasa mencium aroma matahari karena tertutup pilar-pilar tinggi,tempat yang tak kusangka memiliki begitu banyak kecoa dan kutu didalamnya,bahkan ada beberapa serangga yang kubenci didalamnya seperti laba-laba,tarantula,lintah dan banyak lagi.Tapi aku lebih tak menyukai sebutan mereka terhadapku kini.Mereka memanggilku kalajengking.
Bu….,aku tahu kau begitu tak menyukai kocoa dan kutu..,tapi ku yakin kalau kau pasti tetap akan menyayngi kalajengking.Karena kalajengkinglah yang telah membasmi kecoa dan kutu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar