Aku sudah bilang sama ibuku,tak perlu mengirim aku jauh-jauh hanya unuk sekedar gelar..tapi semua argument kami hanya berahir pada ketidak cocokan. Gelar yang mungkin nanti hanya digelar di meja menejer. Gelar yang terbatas pada angka tertentu yang hanya menjadi tolak ukur yang menganggapnya penting. Yang pasti bukan aku. Ibu bilang aku akan belajar. Tapi aku muak belajar. Bukannya belajar tak harus ada di balik kusi dan selalu menggenggam pulpen warna-warni untuk sekedar mewarnai kertas file ? belajar adalah menerjang keadaan saja. Diam dan meresapi apa yangkita lewati untuk tau apa yang harus kita lakukan setelah itu. Itula belajar !
Kota ini..kecil..tak seberapa luas dari imajinasiku. Tak cukup lebar untukku ketika perlu sembunyi untuk menutupi jati diri. Yang sesungguhnya sudah lama hilang. Kota ini..hanyalah metropolitan yang mati rasa. Ia menyimpan pesonanya dengan begitu cerdasnya sampai-sampai aku harus memutar otak untuk sekedar menyelinap diantara pesonanya.
Aku belajar dewasa dengan keadaanku yang menginginkan masa muda yang lebih lama. Bukankah yang tua belum tentu dewasa ? hanya sedikit pengalaman. Saya ingin terjebak dalam masa lalu saja. Kenapa mesti maju untuk masa depan ? Entahlah..saya tak tau harus bagaimana.
Di kota ini banyak sekali binatang. Tidak reptil,tidak tarantula,tidak amfibi,tidak melata. Mereka semua tersenyum dengan lebarnya. Mereka membawa barang sejuta umat demi menunjang kegaulan mereka yang saya bilang ‘pisang’ . Mereka menggunakan ‘penangkal peti’ pada gigi-gigi mereka, mereka menyebul asap-asap diudara yang membuat uadara jadi panas, mereka membawa mesin-mesin baja yang berjalan kencang, dan mereka menyisir rambutnya sama rata. Mereka seperti kera.
Mereka semua berlagak seperti manusia. Mereka semua ingin menjadi manusia. Tapi mereka hanya mampu menggoyang-goyang buntut saja, memamerkan pisang yang mereka genggam kemana-mana. Mereka mencoba berjalan setegak mungkin,tetapi mereka membungkuk sebentar untuk menutupi wajah keranya. Mereka semua berkutu sampai-sampai banyak orang takut terkena kutunya. Tertular kelakuan kera. Binatang yang selalu ingin menyerupai manusia tetapi tak mampu menyembunyikan kelakuan kera yang melekat pada diri mereka.
Ibuku sesekali menelponku untuk mengetahui sekedar kabar. Aku bilang aku ingin pulang tapi ibu tak pernah menginginkan. Aku bilang disini banyak kera ! kata ibuku aku hanya mati dalam imajinasiku saja. Ibu tak peduli.
Kera-kera itu semakin lama semakin liar. Mereka hidup dimalam hari hanya untuk sekedar bernyanyi,menampilkan pakaian-pakaian terbaik mereka, dan menjadi pusat jagadraya. Maksudku kera pusat jagatraya. Aku mereka ajak bergaul dengan teman-teman kera. Awalnya pembicaraan mereka terdengar seperti berteriak-teriak,namun ahir-ahir ini suara mereka terdengar lebih bagus lagi.
Lama sudah aku di kota ini. Suatu saat aku berjalan disuatu pusat perbelanjaan. Sebuah potongan harga membuat saya harus datang walau hanya sekedar buat absen. Sepati hak tinggi,gincu merah,parfum semuanya membuat saya gila. Ada sebuag gaun warna coklat terang tergantung disana. Kaki ini melangkah dan memakaikannya pada badan saya. Saya bercermin. Alangkah terkejutnya saya ketika melihat seekor kera berada didepan hadapan saya. Memandang lurus dan sama kagetnya. Saya sadar. Saya sudah menjadi kera lainnya. Binatang yang selalu ingin menyerupai manusia tetapi tak mampu menyembunyikan kelakuan kera yang melekat pada diri mereka.
Nice blog... good words...you have talent to be good writer & novelist.
BalasHapusKalo punya karya kumpulan cerpen atau draft novel, coba aja kirim ke penerbitan... di TS Solo or Mizan misalnya, nanti tak bantu. Saya ad bbrp kenalan disana. :)