Selasa, 31 Juli 2012

SOSOK

ada sinar biru dibalik pantai. Membuat silau mata ketika aku sedang main dan bergulingan dengan pasir. Macam apa ini…ini belum sunja…dan ini sudah bukan lagi siang. Ini adalah panas pantai yg hanya hangat hangat kuku kurasa sampai di pahaku yang hanya tertutup rok pendek. Sinar biru itu mengikuti arah mata saya. Setiap saya melirik dikiri maka dia dengan jelas terlihat dikiri. Saat saya menoleh kekanan maka dia sudah menanti saya dikanan. Saat saya berpijak dia….dia seolah menempelkan hidung tak mancungnya pada hidungku yang mancung. Mungkin kata orang itu melengkapi. Kata saya itu bodoh. Bagaimana dia bisa menempel pada saya yang jelas ga ngenal sapa dia ???? ngek ngok ngek !!!!
“Biru…kamu ?” katanya menyodorkan tangan. Waw dia tampan ya. Saya harus bagaimana ya ? kayaknya saya suka..murahankah ? stay cool kah ? yang pasti gagap yang ga boleh keliatan. “saya Vertikal” jawabku menjulurkan tangan kananku padanya. Bagaimana saya bisa lupa tentang dia. Semua yang saya liat saat itu sudah terekam tak pernah mati seperti memori kamera yang saya telan mentah-mentah. Bibirnya yang berfolume, badannya yang putih tinggi dan tegap, lengannya yang berotot, dan rambutnya yang rapi. Ya ya ya saya suka dia.
Dia tak pernah berbicara lebih. Dia hanya berkata apa yang benar-benar dibutuhkan untuk dikatakan. Bukan apa yang ingin saya dengar. Itu yang membuat saya harus berfikir untuk mengerti dia. Atau dia yang berfikir bagaimana cara agar saya tak susah-susah berfikir yang tak perlu.
BIru datang setiap ahir pekan. Seperti moment yang selalu ditunggu keadaannya. Tapi saya selalu tau dia ada. Seperti senja biru yang selalu datang setiap sorenya. Yang membuat saya galau setengah mati ketika mendung menyerbak. Yang membuat saya bisa duduk berjam-jam di teras rumah untuk menikmatinya sendiri tanpa berbagi. Dan ketika malam sudah datang memeluk langit yang tadi kucinta aku hanya bisa berharap besok matahari tak terlampau lama menari dilangit agar aku bisa melihat senja biru yang bisa kunikmati sendiri lagi.
Saat itu saya harus pergi. Saat itu dia harus pergi. Membuat tak ada seminggu sekali Biru ku untuk datang. Saat itu ketika kita semua pergi. Ia datang dimuka pintu. Tak bicara sama sekali. Ia memang tak pernah berbicara apapun yang ingin aku dengar. Dia hanya mengungkapkan apa yang aku butuh. Dia hanya diam memandang. Saat aku mendekat padanya….ia memeluk dengan tangan kekarnya. Sakit memang didekap tangan tangan kuat itu, tapi aku hanya diam menikmati sesak nafasku dalam pelukannya. Bersender didada bidangnya. Meraba pinggangnya dan merangkulkan tanganku padanya. Kini aku hapal wangi tubuhnya. Dan aku akan sangat kenal itu. Seperti mencium bau senja biru seperti biasa yang aku lakukan. Tak kurasa senja biru sudah menempel pada sekujur tubuhku yang setauku cuma aku yang tau. Dibibirku bisa aku rasa angin mencium mesra menari didalam mulut dan berliuk liuk dimana mana. Oh senja…..jangan pergi dulu…saya belum siap menghadapi malam.
Biru pun pergi. Membawa separuh hati yang kutitipkan padanya. Aku pun pergi. Membawa separuh hati yang sengaja kuambil darinya. Kami pergi bersama gelisah yang diselipkan pada hubungan kami. Pada sayang yang ga bisa diungkap pada sekedar kata. Pada sayang yang ga bisa diungkapkan pada sekedar cium di pipi atau di bibir. Pada sayang yang meminta matahari turun lebih cepat dan malam datang lebih lambat.
Sepekan. Sudah sepekan saya menikmati curi curi waktu mencintai senja biru. Aku hanya bisa melampiaskan rasa yang ada pada udara yang berputar, pada langit yang biru, pada senja yang biru memancar di wajahku. Cantiknya dia. Aku harap ia melihat senja yang berwarna sama di setiap sorenya. Sama seperti aku sedang memandang langit sekarang. Aku menunggumu Biru.
Lama sudah. Rasa itu lama dan entah sudah berevolusi jadi apa. Entah telah menjadi inangkah ditubuhku ini. senja biru datang setiap sore. Tapi Biruku belum datang juga. Dimana dia berpijar ? aku butuh dari sekedar sosok Biru yang aku kenal hadir menemani aku yang vertikal.
Lama penantian terganti dengan senja yang datang lebih lama. Rasanya spesial. Rasanya istimewa. Rasanya….sejuta kata ga bisa berakrobat menjadi tulisan bahkan seorang Djenar pun ga mampu menggambarkan perasaan itu. 24 jam akan kuhabiskan hanya untuk melewati waktu dengan kedatangannya. Aku kangen pada dia yang spesial.
Aku duduk di depan rumahnya. Jam 2 siang. Agar aku bisa ajak dia menikmati senja biru yang biasanya aku nikmati sendiri. Kali ini, sekali dalam hidupku, aku ingin berbagi dengan seseorang. Aku menunggu ia keluar dan membuka pintu rumahnya. Tak perlu lebar, asalkan aku bisa melihat sosoknya yang aku hapal benar. Bibirnya yang bervolume, badannya yang putih tinggi dan tegap, lengannya yang berotot, rambutnya yang rapi, dan wangi tubuhnya yang aku hapal. Dan aku akan sangat kenal itu. Cepat keluar Biru…senja akan segera pergi.
Matahari mulai beralih, tapi Biru belum juga keluar. Dia…entah apa yang dilakukannya didalam sana..senja sudah datang dan aku menungmu diluar, tak dapat menikmatinya, tak dapat berbagi dengannya. Aku duduk diam melihat senja biru favoritku turun dan tak bisa berbagi dengan orang yang kutunggu lama. Lamaaaa sekali. Hingga malam datang menari dia belum kunjung datang. Kemada dia ??
Lama aku menunggu didepan rumahmu. Kau tak peduli. Lama aku menantimu. Takkah kau ingat itu ? lama kau memelukku. Adakah itu bermakna ? aku disini sendiri dengan segala kekuranganku. Dan menanti kelebihanmu untuk menutupi aku. Adakah kau mau membantu ?
Matahari sudah terik diatas kepalaku. Membuat keringat membrantakkan riasan wajah yang kemarin cantik dimukaku. Aku masih mengharap didepan rumahnya. Menanti Biru yang telah begitu menempel pada hidung mancungku yang selalu menutupi pandanganku. Adakah aku salah alamat ? atau dia yang memang tak sadar aku menunggu. Ini sudah jam 1 siang. Dan 24 jam hanya 24 jam dalam sehari. Tak bisa kutambah beberapa jam lagi. Ini detik demi detik menuju 24 yang terasa tak spesial dimatamu dan begitu spesial menurut hidupku.
Ini senja kedua yang aku lewatkan didepan rumahnya. Menanti pintu itu terbuka. Entah siapa yang membukanya. Aku hanya menunggunya terbuka saja. Agar aku bisa mencium secercah wangi senja biru yang begitu kurindukan.
Malam menjelma. Betapa aku tak tau kenapa lagi-lagi gagal berbagi senja dengan Biru. Aku mulai paham. Mungkin kini senja biru cuma jadi imajinasi khayalanku yang selalu cantik. Dan aku berpaling melawan arah. Aku lelah dan mau pulang. Sudah cukup lebih dari 24 jam menunggu didepan rumahmu. Cukup.
Terlihat cahaya di dalam gelapnya malam yang menari sendu. Cahaya panjang vertical dari dalam rumah. Cahaya yang tak pernah kukenal. Terbuka untukku. Atau entah untuk sapa dan untuk apa. Hanya terbuka saja. Cahaya kelap kelip seperti bintang kejora.
Ia membuka pintunya ! lihat senyum meronaku ! rasa letih itu kusimpan didalam tas agar ia bisa melihat wajah cantikku. Aku melihatnya keluar pintu. Tersenyum cerah dan lebih dari biasanya. Datang menghampiri aku. Biru. “Ngapain kamu malem-malem disini ?” tanyanya. Aku bingung harus jawab apa. Aku lebih dari sekedar malam, pagi, siang, dan sore berada di depan rumahnya dan dia hanya mengingat dan menilai malam saja yang aku habiskan menanti dia. “Aku disini lebih dari sekedar malam Biru” jawabku mulai gusar. “Aneh.” Jawabnya.
Aku lebih tak bisa menjawab apapun. Apakah rasa kangen, rasa sayang, rasa ingin berbagi bisa dinilai dengan penantian melewati hari dengan sekedar kata “ANEH” ? apakah saya mau menjadi aneh duduk didepan rumah hanya berharap malam tak datang terlalu cepat dan siang cepat berlalu ? apa saya pernah minta kamu nempel disekujur badan saya sehingga harus berat aku membawa kemana-mana status itu ? apa saya pernah minta saya hapal betul tentang kamu ?
Ve pun pulang. Dengan muka letih yang dipunngutnya lagi dari dalam tas dan dikenakannya lagi. Mengarungi malam. Kali ini dia minta agar malam berjalan lebih lama. Agar tak seorangpun bisa dengan jelas melihat mukanya. Ia belum menemukannya kembali. Birunya. Sosok yang begitu ia kenal benar dulu. Yang tak pernah lepas dari pandangannya. Yang selalu dinanti kedatangannya seminggu sekali. Yang bibirnya bervolume. Yang putih tinggi dan tegap. Yang berlengan kekar. Yang rambutnya selalu rapih. Yang wanginya dia hapal betul. Yang pelukannya membuat sesak nafas tetapi selalu dinikmatinya. Yang tak pernah berkata apa yang Ve ingin dengar. Yang pergi dan dirasa belum kembali.
Kini Dia sendiri lagi. Setiap sore masih saja dia duduk didepan rumahnya. Bukan, bukan karena rasa cinta dan sayang itu masih menancap jelas. Bukan. Tapi lebih kepada sosok yang belom bisa digantikan dengan siapapun. Belum lagi ada sosok istimewa yang bisa membuatnya aneh. Dan sosok yang bisa membuatnya galau kalau belum memilikinya. Sosok yang tepat pada saat yang tepat.


2 komentar:

  1. Sudut pandangnya agak rancu,diawal seolah" penulis seperti yang mengalaminya, dibuktikan dengan penggunaan kata "aku" , tapi diakhir sudut pandang menjadi orang ke-3.. Dibuktikan dari kata "Ve".. Lalu,kata" yang digunakan menurut saya puitis tapi agak gaul,terdapat kata" yang menurut saya tidak pas penggunaannya.. Sehingga makna puitis yang ingin disampaikan penulis rusak atau pudar karena kata" yang tidak pas tersebut.. Sekedar berkomentar , terus berkarya :))

    BalasHapus
  2. ia itu memang 2 sudutpandang...mungkin nanti lain kali ditambahin tanda yang membedakan kali ya..
    makasih komentarnya :D nanti klo ada yg baru diperbaiki lagi :p

    BalasHapus